Tampilkan postingan dengan label 10. Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Para Rasul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 10. Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Para Rasul. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2022

Halaqah 25. Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul Alaihimussalam



Halaqah yang Ke-25 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul 'alayhimussalam adalah tentang Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul 'alayhimussalam


Diantara Buah Beriman kepada Para Rasul 'alayhimussalam


① Seseorang jadi mengetahui rahmat Allah dan perhatian Allah yang besar terhadap hamba-hambaNya dengan cara mengutus para Rasul kepada mereka supaya memberikan petunjuk kepada mereka dan menjelaskan kepada mereka tentang beribadah kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada Allah, karena akal manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa wahyu dari Allah 'Azza wa jalla


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ


“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan atas mereka ayat-ayatNya dan membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah dan sungguh mereka sebelumnya berada di dalam kesesatan yang nyata” (Ali ‘Imran : 164)


② Bersyukur kepada Allah atas nikmat diutusnya para Rasul 'alayhimussalam


③ Mencintai para Rasul 'alayhimussalam menghormati mereka, memuji mereka sesuai dengan kedudukan mereka karena mereka adalah para utusan Allah, para hamba-hamba Allah yang beribadah kepada Allah sekaligus menyampaikan risalah Allah dan menasihati para hamba Allah, Allah berfirman




إِنَّآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ شَـٰهِدً۬ا وَمُبَشِّرً۬ا وَنَذِيرً۬ا (٨) لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُڪۡرَةً۬ وَأَصِيلاً (٩



Sesungguhnya kami telah mengutusmu sebagai seorang saksi memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan, supaya kalian beriman kepada Allah dan juga RasulNya dan supaya kalian menolong dia dan menghormati dia” (Al-Fath : 8-9)


④ Mengetahui kekuasaan Allah dan bagaimana Allah memilih para Nabi dan Rasul. 


⑤ Mengetahui bahwa beriman dengan mereka adalah sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.


⑥ Mengetahui bahwa berpegang teguh dengan apa yang di bawa oleh para Rasul عَلَيهِ السَّلَامُ adalah sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah dan sebab di ampuni dosanya.


Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah terakhir dari Silsilah Beriman Kepada para Rasul 'alayhimussalam



Halaqah 24. Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 22- manusia laki2 dan merdeka



Halaqah yang Ke-24 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul 'alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul 'alayhimussalam Bagian yang ke 22


Diantara cara beriman kepada para rasul alayhimussalam adalah mengetahui beberapa persamaan antara Nabi dan Rasul. Mereka semua adalah manusia Laki-laki dan Merdeka


Mereka adalah manusia maksudnya adalah bukan dari kalangan Jin dan bukan dari kalangan Malaikat. 

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى  berfirman


وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا


”Dan tidaklah menghalangi manusia untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali ucapan mereka, apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai seorang Rasul”  (Al-Isra : 94)


Dan Allah mengatakan


وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ


”Dan Kami telah memberikan Ishak dan juga Ya'qub kepada Ibrahim dan kami jadikan kenabian dan kitab didalam keturunannya… “ (Al-Ankabut : 27)


Di dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى  mengabarkan bahwasanya kenabian ada pada keturunan Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan keturunan Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ adalah keturunan dari kalangan manusia bukan dari jin dan bukan dari malaikat


Dan mereka (yaitu para Nabi dan Rasul) adalah dari kalangan laki-laki dan bukan dari kalangan wanita,  Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ


”Dan tidaklah kami mengutus sebelummu para Rasul kecuali mereka adalah laki-laki yang Kami wahyukan kepada mereka diantara penduduk negeri… “ (Yusuf : 109)


Dan mereka adalah orang-orang yang merdeka dan bukan budak karena perbudakan adalah sifat yang tidak sesuai dengan kedudukan Nabi dan waktu seorang budak adalah sepenuhnya bagi tuannya, maka kapan dia berdakwah dan menghadapi lawan-lawannya. 


Adapun yang terjadi pada Nabi Yusuf عَلَيهِ السَّلَامُ ketika beliau menjadi budak bagi salah seorang bangsawan di Mesir, maka asalnya Yusuf adalah orang yang merdeka, kemudian saudara-saudaranya yang telah menipu daya beliau adapun sabda Rasulullah ﷺ 


مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ


Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali mengembala kambing (HR Al-Bukhari)


Maka para Nabi tersebut bukan mengembala karena dia seorang budak akan tetapi mengembala kambingnya sendiri atau mengembala kambing milik orang lain dengan dibayar, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengembala untuk penduduk Makkah (HR Al-Bukhari)


Dan Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengembala untuk seorang laki-laki yang shaleh dari madyan., sebagaimana di dalam Al Qashas : 27


Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya. 



Halaqah 23. Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 21-Beriman nabi dan rasul berjumlah 25



Halaqah yang Ke-23 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul 'alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul 'alayhimussalam Bagian yang Ke-21


Setelah kita memahami mukjizat, Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah dan hal-hal yang berkaitan dengannya maka kita lanjutkan poin-poin tentang tata cara beriman kepada para rasul.


Diantara tata cara beriman dengan para rasul 'alayhimussalam adalah beriman dengan nama-nama para nabi dan rasul yang Allah telah sebutkan namanya didalam Alquran mereka berjumlah 25 orang, 

18 Diantaranya disebutkan berturut-turut didalam surat Al An’am dan 

7 orang berpisah-pisah didalam surat -surat yang lain.


18 nama didalam surat Al An’am adalah 


1. Ibrahim 

2. Ishaq 

3. Ya’qub

4. Nuh

5. Daud

6. Sulaiman 

7. Ayyub 

8. Yusuf 

9. Musa 

10. Harun 

11. Zakariya 

12. Yahya 

13. 'Isa 

14. Ilyas 

15. Ismail 

16. Al Yasa' 

17. Yunus 

18. Luth 'Alayhimussalam lihat surat Al An’am : 83-86


Adapun 7 orang yang lain maka mereka adalah :


1. Nabi Adam, 

dua puluh  kali disebutkan nama Nabi Adam di dalam Al-Quran, yang pertama di dalam surat Al-Baqarah : 31


2. Nabi Idris, 

Sekali disebutkan didalam Alquran dalam surat Maryam : 56


3. Nabi Dzulkifli, 

Dua kali disebutkan didalam Al-Quran, yang pertama surat Al-Anbiya dan surat Shod : 48


4. Nabi Hud, 

Sepuluh kali disebutkan didalam Alquran yang pertama Al-Baqarah : 111


5. Nabi Shaleh, 

Tujuh kali disebutkan pertama kali di dalam surat Al A’raf : 77


6. Nabi Syuaib, 

Sepuluh Kali disebutkan didalam Al-Quran yg pertama didalam surat Al A’raf : 85


7 Nabi Muhammad ﷺ, 

Empat kali disebutkan, yang pertama di dalam surat Ali Imran : 124


Kemudian diantara beriman dengan para Rasul 'alayhimussalam adalah meyakini adanya kekhususan Nabi Muhammad ﷺ dibandingkan dengan Nabi-nabi yang lain dan diantaranya 


① Beliau diutus untuk segenap Manusia dan Jin. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengatakan


قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا


“Katakanlah wahai manusia sesungguhnya aku adalah Rasulullãh untuk kalian semuanya” (Al-A’raf : 158)


Dan Nabi ﷺ bersabda


كان النبي يبعث إلى قومه خاصة وبعثت إلى الناس كافة


Dan dahulu para Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus dan aku diutus kepada seluruh manusia secara umum  (HR Bukhari)


Dan beliau ﷺ diutus kepada Jin sebagaimana kisah yang Allah sebutkan di dalam surat Al-Jin


② Allah telah menjadikan beliau sebagai Nabi yang terakhir. 


Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ… 

“Tidaklah Muhammad bapak salah seorang diantara laki-laki kalian akan tetapi dia adalah Rasulullãh dan penutup para Nabi” (Al-Ahzab 40)


Dan Rasulullah ﷺ bersabda


كانتْ بنو إسرائيلَ تسوسُهمُ الأنبياءُ ، كلَّما هلَكَ نبيٌّ خلَفَهُ نَبِيٌّ ، وإِنَّه لا نَبِي بعدِي ،…


“Dahulu Bani Israel dipimpin oleh para Nabi, setiap kali meninggal seorang Nabi akan digantikan Nabi yang lain dan sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku” (HR Al Bukhari dan Muslim) 


Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.




Halaqah 22. Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 20- Kisah kerendahan hati Abu Muslim



Halaqah yang Ke-22 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul 'alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul 'alayhimussalam Bagian yang Ke-20

diantara perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah


④ Al Karamah menambah keimanan, ketakwaan dan kerendahan hati pada pemiliknya, sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah menambah kekufuran dan kejauhan dari Allah 'Azza wa jalla


Di dalam kitab Hilyatul Auliya Abu Nu’aim rahimahullah membawakan dengan sanadnya kisah Abu Muslim Al-Khaulani seorang yang shaleh, dengan Al-Aswad Al-Amsyi orang yang mengaku menjadi Nabi berkata Syarah bil Al-Khaulani ketika Al-Aswad bin qais bin dil himar Al-Amsyi di Yaman muncul dipanggilah Abu Muslim maka Al-Amsyi berkata “apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah? ”


berkata Abu muslim “Iya”


kembali Al-Amsyi bertanya 


“apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah? ”


berkata Abu muslim “aku tidak mendengar”


Maka di nyalakanlah api yang besar kemudian di lemparkan Abu Muslim kedalam api tersebut, tetapi beliau tidak termudharati, maka penduduk kerajaan Al-Aswad Al-Amsyi berkata kepadanya apabila engkau biarkan Abu Muslim berada di negerimu maka dia akan merusak urusanmu,

 usirlah dia maka Abu Muslim pun datang ke kota Madinah dan saat itu Rasulullah ﷺ sudah wafat dan digantikan Abu Bakar, kemudian Abu Muslim menambatkan untanya dipintu masjid Nabawi kemudian shalat menuju salah satu tiang diantara tiang-tiang Masjid


Maka Umar bin khaththab melihatnya dan mendatanginya dan berkata “dari mana asal mu”


Abu Muslim mengatakan : ” dari Yaman ”


Berkata Umar  “apa yang dilakukan musuh-musuh Allah terhadap saudara kita yang dibakar dan tidak mempan”


Abu Muslim berkata: “itu adalah Abdullah Ibn tsaub”


Berkata Umar: “aku meminta dengan Nama Allah apakah dia adalah dirimu? ”


berkata Abu muslim: “Iya”


Berkata syarah bil al Khaulani, maka Umar antara kedua mata Abu Muslim kemudian membawanya dan mendudukannya antara Abu Bakar dan Umar


Berkata Umar Ibn Khaththab ”segala puji bagi Allah yang belum mematikanku dari dunia sehingga memperlihatkan kepada diriku diantara umat Muhammad orang yang dibakar seperti dibakarnya Nabi Ibrahim kekasih Allah”


Lihatlah bagaimana ucapan Abu Muslim ketika ditanya oleh Umar Ibn khaththab beliau berusaha untuk menutupi identitas beliau dan mengatakan “itu adalah Abdullah bin tsaub” seakan-akan orang tersebut bukan dirinya. 


⑤ Al-Karamah digunakan untuk sesuatu kebaikan atau perkara yang diperbolehkan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah digunakan untuk perkara yang diharamkan seperti menyakiti orang lain atau menyombongkan diri dan lain-lain 


Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



Halaqah 21. Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 19-perbedaan Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah



Halaqah yang Ke-21 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke-19


Diantara hal yang perlu diketahui seorang muslim adalah perbedaan Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah, karena sering terjadi seseorang menganggap Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah sebagai Al-Karamah, menganggap seorang wali syaithan sebagai wali Allah.


Berikut adalah perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah (semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan taufiq kepada kita semua dan menerangi diri kita dengan ilmu agama, diantara perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah


① Melihat perjalanan hidup orang tersebut, kalau dia adalah seorang mukmin yang bertakwa maka ini adalah Al-Karamah dan kalau sebaliknya dia bukan seorang yang mu’min dan bukan orang yang bertakwa maka itu adalah Al Ahwal Asy-Syaithaniyyah.

Berkata syaikh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah

وشرط كونها كرامةً أن يكون من جرت على يده هذه الكرامةُ مستقيمًا على الإيمان ومتابعة الشريعة فإن كان خلاف ذلك فالجاري على يده من الخوارق يكون من الأحوال الشيطانية 1:49

“Dan sesuatu yang luar biasa menjadi karamah di syaratkan orang yang mendapatkan karamah tersebut adalah orang yang istiqamah diatas iman dan mengikuti syariat, adapun apabila sebaliknya maka sesuatu yang luar biasa yang terjadi pada dirinya adalah termasuk Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah


② Al-Karamah adalah anugerah dari Allah tidak bisa dipelajari dan diusahakan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah adalah bantuan dari syaithan bisa dipelajari dan diusahakan yaitu dengan berbuat sesuatu yang membuat ridha syaithan, seperti berbuat kufur kepada Allah (meninggalkan shalat dan kewajiban-kewajiban yang lain) menghalalkan sesuatu yang yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan lain-lain. Oleh karena itu Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah memiliki sekolah-sekolah perguruan-perguruan untuk mempelajari perkara-perkara yang luar biasa tersebut dan disana ada buku-buku yang dijual bebas yang mengajarkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah yang dikenal dengan Al-Mujarrabat


③ Al-Karamah tidak bisa di lawan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah bisa di lawan dengan beberapa dzikir dan doa didalam Al-Quran dan As-Sunnah

Berkata Syaikhul Islam rahimahullah

وهكذا أهل الأحوال الشيطانية تنصرف عنهم شياطينهم إذا ذكر عندهم ما يطردها مثل آية الكرسي 4.11

Dan demikianlah orang-orang yang memiliki Ahwal Asy-Syaithaniyyah (syaithan-syaithan) mereka akan meninggalkan mereka apabila disebutkan disamping mereka apa yang mengusir syaithan-syaithan tersebut seperti ayat kursi

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



Halaqah 20.Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 18-perbedaan antara Al-Mu’jizah dengan Al-Karamah


 

Halaqah yang Ke-20 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke delapan belas.


Disana ada perbedaan antara Al-Mu’jizah dengan Al-Karamah


① Al-Mu’jizah disertai dengan pengakuan sebagai seorang Nabi, sedangkan Al-Karamah tidak disertai dengan pengakuan sebagai seorang Nabi, tetapi terjadi Al-Karamah dengan sebab dia mengikuti dan beriman dengan Nabi dan istiqamah diatasnya


② Al-Mu’jizah terjadi pada seorang Nabi dan Nabi adalah manusia laki-laki yang merdeka sedangkan Al-Karamah bisa terjadi bisa terjadi pada seorang jin atau manusia, hamba sahaya atau orang yang merdeka, seorang laki-laki atau pun perempuan. Kalau mereka adalah orang-orang yang shaleh seperti yang terjadi pada Maryam dan juga Safinah maula Rasulullah ﷺ


③ Al Mu’jizah sesuatu yang luar biasa disemua tempat dan masa, sedangkan 

Al-Karamah adalah sesuatu yang luar biasa di tempat dan juga masa tertentu saja, sedangkan Al-Karamah adalah sesuatu yang luar biasa menurut tempat dan masa tertentu saja. Oleh karena itu apa yang terjadi Maryam ‘alayhassalam berupa ditemukannya makanan musim panas dimusim dingin dan sebaliknya adalah sesuatu yang biasa di zaman sekarang


④ Didalam Al-Mu’jizah seorang Nabi diperintahkan untuk menampakkan nya sedangkan Al-Karamah maka seorang wali diperintahkan untuk menyembunyikannya


⑤ Manfaat Al Mu’jizah adalah untuk umum sedangkan 

Manfaat Al-Karamah biasanya untuk khusus orang tersebut

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



Halaqah 19. Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 17-perkara-perkara yang di luar kebiasaan yang terjadi pada seorang wali syaitan



Halaqah yang Ke-19 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke Tujuh belas 17

Setelah kita mengetahui tentang Al-Karamah yang Allāh berikan kepada wali-Nya, maka hendaklah kita mengenal tentang Al Ahwal Asy-syaithaniyyah (keadaan-syaithan-syaitan).


Al-Ahwal Asy-syaithoniyyah/keadaan-keadaan syaitan adalah perkara-perkara yang di luar kebiasaan yang terjadi pada seorang wali syaitan sebagai Istidraj


Wali syaitan adalah pengikut syaitan dan penolong syaitan.

 Yang dimaksud dengan Istidraj adalah dibiarkan supaya bertambah kekufurannya kemudian di azab.


Dan di antara dalil yang menunjukkan adanya wali-wali syaithan adalah firman Allah :


وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ


“Dan orang-orang yang kafir, maka wali-walinya adalah thagut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan, mereka adalah penduduk Neraka, mereka kekal di dalamnya” (Al-Baqarah : 257)


Dan Allah berfirman:

… وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ…


“Dan sesungguhnya syaithan-syaithan mewahyukan kepada wali-walinya untuk mendebat kalian” (Al-An’am : 121)


Dan diantara contoh Al-Ahwal Asy-syaithaniyyah, apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah didalam kitab beliau Al-Furqan ( بين أولياء الرحمن و أولياء الشيطان )

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan didalam kitab ini diantara contoh Al-Ahwal syaitoniyyah


① Apa yang terjadi pada Musaiylamah Al-Kadzab ketika dia mengaku sebagai seorang Nabi dia mengabarkan beberapa perkara yang ghaib wahyu dengan dari syaitan


② Apa yang terjadi pada Al-Aswad Al-Amsiy yang mengaku sebagai Nabi mengabarkan tentang perkara yang ghaib dengan wahyu dari syaitan sehingga tentara kaum muslimin takut syaithan akan mengabarkan kepadanya tentang mereka, sampai tentara kaum muslimin takut apabila syaithan akan mengabarkan kepada Aswad Al-Amsiy tentang mereka


③ Kisah Al-Haris Al-Dimasykiy yang mengaku sebagai Nabi di zaman Abdul Malik bin Marwan setiap kali di tangkap dan di penjara datang syaitan dan melepaskan ikatan di kaki nya dan melindungi dia dari senjata.

Manusia saat itu melihat rombongannya berjalan diudara ketika dia ditangkap ada orang yang menikam nya dengan tombak namun tidak mempan

Maka berkata Abdul Malik :

“Engkau tidak menyebut nama Allah”

Kemudian ketika dia menyebut nama Allah dan menikamnya mempanlah tombaknya dan meninggal lah Al-Harits

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



Halaqah 18. Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 16-Kisah Al Karomah Abu Bkr, 2 sahabat,Juraij



 Halaqah yang Ke Delapan belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul alaihimus salam adalah Cara Beriman Kepada Para Rasul Bag 16.


Diantara dalil dari As-Sunnah atas adanya Al Karomah:


① Kisah Abu bakar Asy Sidik radiallahu anhu ketika memberi makan sebagian ahlu suffah yang datang kepada beliau, setiap kali mereka mengambil satu suapan maka makanannya bertambah banyak


Diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhori & Al Imam Muslim.


② kisah dua orang shahabat Nabi ﷺ, yaitu Usaid bin Hudhair & Abbad bin Bisr semoga Allāh meridhoi keduanya. Ketika keduanya keluar dari sisi Nabi ﷺ, disuatu malam yang gelap gulita dan didepan mereka ada cahaya, kemudian ketika mereka berpisah terbagi lah cahaya tersebut menjadi dua.


Diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhâri


③ kisah Juraij seorang laki-laki yang shaleh dari kalangan Bani Israel yang dituduh berzina dengan seorang wanita ia mengaku hamil karena Juraij, kemudian ketika wanita tersebut melahirkan maka Juraij mengusap kepala bayi tersebut, sehingga bayi tersebut tersebut bisa menyebutkan siapa bapaknya.


Diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhori & Al Imam Muslim


Kemudian disana ada beberapa keterangan yang berkaitan dengan Al Karomah


① Al Karomah yang paling agung bagi seorang hamba adalah istiqomah nya dia diatas jalan yang lurus.


② Al Karomah bagi para wali Allāh adalah ayat / Mu’jizat bagi para Nabi, karena wali Allāh tidak mendapatkannya kecuali karena keimanan dikepala rasul tersebut.


③ Al Karomah akan tetap ada sampai akhir zaman


④ Al Karomah tidak dijadikan ukuran seseorang lebih afdhol daripada orang yang tidak mendapatkan Al Karomah. Yang demikian karena Al Karomah terjadi diantaranya untuk menguatkan keimanan orang tersebut, oleh karena itu Al Karomah di zaman shahabat radiallahu anhum lebih sedikit daripada Al Karomah di zaman Tabi’in, karena iman & keyakinan para shahabat lebih kuat dari pada keimanan & juga keyakinan para Tabi’in.


⑤ Jangan sampai seseorang terjerumus kedalam pengingkaran terhadap Al Karomah seperti orang² falasifah & juga Mu’tajilah & jangan sampai seseorang berlebih-lebihan didalam masalah Al Karomah seperti orang² yg menjadikan Al Karomah sebagai ukuran kewalian.


Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya



Halaqah 17. Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 15-Karamah para wali dan perkara - perkara diluar kebiasaan


 

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul 'alaihimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul 'alayhimussalam Bagian yang Kelima Belas.


Meyakini adanya Al-Karamah adalah termasuk pokok aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.


Berkata Syaikhul Islam rahimahullah didalam kitab beliau Al Aqidah Al Washithiyah


وَمِنْ أُصُوْلِ أَهْلِ السُّنَّةِ وّالْجَمَاعَةِ التَّصْدِيْقُ بِكَرَامَاتِ الْأَوْلِيَاءِ


”Termasuk pokok-pokok Ahlus Sunnah adalah membenarkan Karamah para wali dan perkara - perkara diluar kebiasaan yang Allah jalankan pada diri mereka”


Keyakinan dengan adanya Al-Karamah berdasarkan dalil-dalil dari Al-Quran, As-Sunnah dan juga Ijma'


Adapun dari Al-Quran


① Kisah Maryam dengan Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُ


Dimana Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُ adalah orang yang menanggung makanan bagi Maryam, yang telah mengkhususkan dirinya untuk beribadah kepada Allah, namun sesuatu yang luar biasa setiap kali Zakaria memasuki mihrab Maryam dia mendapatkan makanan


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ


“Setiap kali Zakaria memasuki Mihrab Maryam beliau mendapatkan di sisi Maryam rezeki, Zakaria berkata “Wahai Maryam dari mana engkau mendapatkan makanan ini?” Maryam menjawab “ini adalah dari sisi Allah, sesungguhnya Allah memberikan rejeki kepada siapa yang di kehendaki tanpa perhitungan” (Ali ‘Imran : 37)


Ibnu Katsir menyebutkan di dalam tafsirnya, bahwa Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُ menemukan didalam mihrab Maryam buah-buahan musim dingin ketika musim panas dan buah-buahan musim panas ketika musim dingin


② Kisah Ashabul Kahfi yang Allah sebutkan di awal-awal surat Al-Kahfi ketika mereka tidur dalam waktu yang lama tanpa memakan makanan dan tidak rusak badan mereka. 


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا


”Dan mereka tinggal di gua mereka selama 300 tahun dan tambah 9 tahun” (Al-Kahfi : 25)


Ada yang mengatakan 300 tahun bila dihitung dengan tahun syamsiah dan 

309 tahun bila dihitung dengan tahun Qamariah


③ Istri Fir’aun yang bernama Asiyah Allah memperlihatkan rumah Asiyah di dalam surga ketika sedang di adzab oleh Fir’aun


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ


“Dan Allah telah membuat permisalan bagi orang-orang yang beriman dengan istri fir'aun ketika dia berkata “Wahai Rabbku bangunkanlah aku di sisiMu rumah di dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan amalannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzhalim” (At-Tahrim : 11)


Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.




Halaqah 16. Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 14- Al-Qur’an adalah ayat atau mukjizat -bahasa Arab di zaman keemasan


 

Halaqah yang Ke empat belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul alaihimus salam adalah *Cara Beriman Kepada Para Rasul Bag 12*.

④. Diantara contoh bahwa Allāh menjadikan ayat-ayat seorang Nabi sesuatu yang sesuai dengan keadaan kaumnya adalah mukjizat.

Nabi Muhammad ﷺ yang berupa Al-Quran dizaman beliau, ﷺ bahasa Arab mencapai zaman keemasan penyair penyair bertebaran, berlomba menyumbangkan kefashehannya & kedalamannya didalam berbahasa Arab. Maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan hikmah Nya menjadikan ayat yang paling besar bagi Nabi Muhammad ﷺ adalah sebuah kitab yang diturunkan yang tidak mampu seseorangpun menandinginya, seandainya berkumpul seluruh manusia & Jin untuk mendatangkan yang semisalnya dengan Al-Qur’an niscaya mereka tidak mampu jangan kan satu Al-Quran 10 surat pun mereka tidak mampu & jangan kan 10 surat, satu surat pun mereka tidak akan mampu.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

[QS Al-Isra’ 88]

“katakanlah seandainya manusia Jin berkumpul untuk mendatangkan yang semisal Al-Qur’an niscaya mereka tidak akan bisa mendatangkannya meskipun sebagian mereka membantu sebagian yang lain”.

Dan Allāh berfirman :

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

[QS Hud 13-14]

“ataukah mereka berkata Muhammad telah mengada-ada? Katakanlah hendaklah kalian datang kan 10 surat yang dibuat² yang semisal dengan Al-Qur’an & panggillah semampu kalian orang-orang selain Allāh kalau kalian adalah orang² yang benar, kalau mereka tidak mampu memenuhi tantanganmu maka ketahuilah bahwa Al-Qur’an diturunkan ilmu Allāh & tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, apakah kalian menyerahkan diri ”

Dan Allāh berfirman :

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

[Surat Al-Baqarah 23]

” Dan seandainya kalian ragu terhadap apa yang kami turun kan kepada hamba Kami maka datang kanlah satu surat & panggil lah oleh kalian saksi kalian selain Allāh kalau kalian adalah orang-orang yang benar, seandainya kalian tidak bisa melakukannya & kalian pasti kalian tidak bisa melakukannya maka takut lah dengan Neraka yang bahan bakar nya adalah manusia & batu yang disediakan untuk orang-orang yang kafir ”

Mereka Orang-orang yang kafir meragukan Al-Qur’an & mengatakan bahwasanya Al-Qur’an bukan dari Allāh tetapi dari Muhammad & dialah yang membuatnya maka Allāh menantang mereka, kalau memang itu buatan manusia seharusnya juga bisa membuatnya apalagi mereka adalah orang-orang Arab yang fasih & ahli didalam bahasa Arab, namun ternyata tidak ada diantara mereka yang bisa membuat yang semisal dengan Al-Qur’an & ijin menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah & bukan kalam Muhammad ﷺ. Apalagi mereka mengetahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang yang tidak bisa membaca & menulis & beliau bukan tukang syair.

Ini semua menunjukan bahwa Al-Qur’an adalah ayat atau mukjizat yang menunjukkan kebenaran nabi Muhammad ﷺ & kebenaran apa yang beliau bawa & seharusnya ini semua menjadikan mereka beriman & mengikuti beliau ﷺ

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.




Halaqah 15. Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 13-Keutamaan Rasulullah: Isra miraj,dll



Halaqah yang Ke lima belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul alaihimus salam adalah Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian yang Ketigabelas


Ayat-ayat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad ﷺ sangat banyak, hal ini menunjukkan keutamaan beliau disisi Allah menunjukkan betapa pentingnya risalah yang beliau bawa, karena risalah beliau adalah risalah yang terakhir dan tidak ada lagi risalah setelah risalah beliau ﷺ


Dan diantara ayat-ayat atau mukjizat-mu'jizat tersebut


① Al-Isra dan Al-Mi’raj


Al Isra : dijalankannya Nabi Muhammad ﷺ diwaktu malam dari Al-Masjidil Haram yang ada di Makkah ke Masjidil Aqsa yang ada di Palestina


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


“Maha Suci Dzat yang telah menjalankan hambaNya dimalam hari dari Al-Masjid Haram Ke Al Masjid Aqsa yang Kami berkahi sekitarnya untuk Kami tunjukkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Al-Isra : 1)


Adapun Al Mi’raj : diangkatnya Nabi Muhammad ﷺ kelangit kemudian ke sidratul muntaha. Nabi Muhammad ﷺ bersabda 


فَعَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا


Maka Allah mengangkatku ke langit dunia (HR. Bukhari dan Muslim)


Dua perjalanan yang jauh yang dilakukan dalam waktu yang sangat singkat menunjukkan kekuasaan Allah dan bahwasanya Muhammad ﷺ adalah Nabi utusan Allah


② Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman 


اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ


“Telah dekat kiamat dan bulan telah terbelah dan apabila mereka melihat satu ayat mereka berpaling dan mengatakan ini adalah sihir yang terus menerus” (Al-Qamar : 1-2)


Berkata Annas bin Malik radhiyallahu 'anhu


أن أهل مكة سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم انير يهم آيَةً فعرهم إنْشَقَّ الْقَمَر


Sesungguhnya penduduk Makkah telah meminta Rasulullah ﷺ untuk menunjukkan satu tanda kekuasaan, maka beliau ﷺ memperlihatkan kepada mereka terbelahnya bulan (HR Bukhari dan Muslim)



③ Batu yang mengucapkan salam kepada beliau


Rasulullah ﷺ bersabda 


إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ


Sungguh aku mengetahui sebuah batu di Makkah dahulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi Nabi, sungguh aku mengetahuinya sekarang (HR Muslim) 


④ kabar beliau tentang mati syahidnya Umar Ibnu khaththab dan Utsman Ibn Affan radhiyallahu 'anhuma


Berkata Annas bin Malik radhiyallahu 'anhu


صَعِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أُحُدٍ وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ , وَعُمَرُ , وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ , فَضَرَبَهُ بِرِجْلِهِ ، قَالَ : ” اثْبُتْ أُحُدُ فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدَانِ


Nabi ﷺ naik keatas Gunung Uhud dan bersama beliau Abu Bakar, Umar dan Utsman maka bergetarlah gunung Uhud Nabi ﷺ kemudian menendang gunung Uhud dengan kaki beliau seraya berkata tenanglah wahai Uhud tidak ada diatasmu kecuali seorang Nabi, seorang Sidiq dan dua orang syahid (HR Al Bukhâri)


Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ, karena Umar dan Utsman dibunuh dan meninggal dalam keadaan syahid 


⑤ Menangisnya Batang pohon kurma


Berkata Zabir Ibn Abdillah radhiyallahu 'anha


المسجد مسقوفا على جذوع من نخل فكان النبي صلى الله عليه وسلم اذا خطب يقوم الى جذع منها فلما صنع له المنبر وكان عليه فسمعنا لذلك الجذع صوتا كصوت العشار حتى جاء النبى صلى الله عليه وسلم فوضع يده عليها فسكنت.


Dahulu masjid Nabawi bertiangkan batang pohon kurma, maka dahulu Nabi ﷺ apabila khutbah beliau berdiri didekat salah satu batang tersebut ketika dibuatkan mimbar, kemudian beliau berkhutbah diatas nya maka kami mendengar suara batang kurma tersebut seperti suara unta yang sedang hamil sepuluh bulan sampai datang Nabi ﷺ, kemudian beliau meletakkan tangannya pada batang tersebut maka diamlah batang tersebut (HR. Bukhari)


Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.




Halaqah 14. Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 12- Ayat ayat sbg Mu'jizat



Halaqah yang Ke empat belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul alaihimus salam adalah *Cara Beriman Kepada Para Rasul Bag 12*.

④. Diantara contoh bahwa Allāh menjadikan ayat-ayat seorang Nabi sesuatu yang sesuai dengan keadaan kaumnya adalah mukjizat.

Nabi Muhammad ﷺ yang berupa Al-Quran dizaman beliau, ﷺ bahasa Arab mencapai zaman keemasan penyair penyair bertebaran, berlomba menyumbangkan kefashehannya & kedalamannya didalam berbahasa Arab. Maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan hikmah Nya menjadikan ayat yang paling besar bagi Nabi Muhammad ﷺ adalah sebuah kitab yang diturunkan yang tidak mampu seseorangpun menandinginya, seandainya berkumpul seluruh manusia & Jin untuk mendatangkan yang semisalnya dengan Al-Qur’an niscaya mereka tidak mampu jangan kan satu Al-Quran 10 surat pun mereka tidak mampu & jangan kan 10 surat, satu surat pun mereka tidak akan mampu.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

[QS Al-Isra’ 88]

“katakanlah seandainya manusia Jin berkumpul untuk mendatangkan yang semisal Al-Qur’an niscaya mereka tidak akan bisa mendatangkannya meskipun sebagian mereka membantu sebagian yang lain”.

Dan Allāh berfirman :

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

[QS Hud 13-14]

“ataukah mereka berkata Muhammad telah mengada-ada? Katakanlah hendaklah kalian datang kan 10 surat yang dibuat² yang semisal dengan Al-Qur’an & panggillah semampu kalian orang-orang selain Allāh kalau kalian adalah orang² yang benar, kalau mereka tidak mampu memenuhi tantanganmu maka ketahuilah bahwa Al-Qur’an diturunkan ilmu Allāh & tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, apakah kalian menyerahkan diri ”

Dan Allāh berfirman :

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

[Surat Al-Baqarah 23]

” Dan seandainya kalian ragu terhadap apa yang kaki turun kan kepada hamba Kami maka datang kanlah satu surat & panggil lah oleh kalian saksi kalian selain Allāh kalau kalian adalah orang-orang yang benar, seandainya kalian tidak bisa melakukannya & kalian pasti kalian tidak bisa melakukannya maka takut lah dengan Neraka yang bahan bakar nya adalah manusia & batu yang disediakan untuk orang-orang yang kafir ”

Mereka Orang-orang yang kafir meragukan Al-Qur’an & mengatakan bahwasanya Al-Qur’an bukan dari Allāh tetapi dari Muhammad & dialah yang membuatnya maka Allāh menantang mereka, kalau memang itu buatan manusia seharusnya juga bisa membuatnya apalagi mereka adalah orang-orang Arab yang fasih & ahli didalam bahasa Arab, namun ternyata tidak ada diantara mereka yang bisa membuat yang semisal dengan Al-Qur’an & ijin menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah & bukan kalam Muhammad ﷺ. Apalagi mereka mengetahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang yang tidak bisa membaca & menulis & beliau bukan tukang syair.

Ini semua menunjukan bahwa Al-Qur’an adalah ayat atau mukjizat yang menunjukkan kebenaran nabi Muhammad ﷺ & kebenaran apa yang beliau bawa & seharusnya ini semua menjadikan mereka beriman & mengikuti beliau ﷺ

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.



Halaqah 13. Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 11- Mu'jizat sesuai keadaan kaum



Halaqah yang Ke tiga belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul alaihimus salam adalah *Cara Beriman Kepada Para Rasul Bag 11*.

Diantara hikmah Allāh menjadikan ayat² seorang Nabi / mukjizat mereka adalah sesuatu yang sesuai dengan keadaan kaumnya dan lebih dahsyat supaya lebih menunjukkan kebenaran kenabian Nabi tersebut. Diantara contohnya :

① Kaum Nabi Sholeh / kaum Tsamud

Yang terkenal sebagai kaum yang terkuat & biasa memahat gunung untuk dijadikan rumah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ… 

[Surat Al-A’raf 74]

“dan ingatlah oleh kalian waktu Allāh menjadikan kalian pengganti² yang berkuasa sesudah kaum ‘Ad & memberikan tempat kepada kalian di bumi, kalian mendirikan istana² di tanah²nya yang datar & kalian memahat gunung² nya untuk dijadikan rumah”.

Ketika Nabi Sholeh alaihi wa sallam mendakwahi mereka, mereka meminta kepada beliau supaya mendatangkan ayat /tanda kebenaran beliau, akhirnya mereka meminta supaya keluar dari batu keras yang sudah mereka tentukan unta merah yang sedang hamil 10bulan. Setelah Nabi Sholeh mengambil peran dari mereka supaya beriman kalau permintaan dikabulkan, beliau pun berdoa kepada Allāh, maka bergetar lah batu besar tersebut & keluar dari nya unta dengan sifat yang mereka inginkan. Tentunya hal ini lebih dahsyat dari pada hanya memahat gunung untuk dijadikan rumah.

② Sihir

Di zaman Nabi Musa alaihi wa sallam sangat banyak & tersebar & mereka adalah kaum yang sangat mengagungkan sihir & tukang sihir & diantara sihir mereka adalah menipu mata manusia seperti menyihir manusia sehingga mereka melihat tali & tongkat seakan-akan dia adalah ular. Oleh karena itu diantara ayat yg Allāh berikan kepada Nabi Musa alaihi wa sallam adalah berubahnya tongkat menjadi ular secara hakikat & bukan hanya tipuan mata & tangan yg bersinar setelah dimasukkan ke dalam saku secara hakikat & bukan hanya tipuan mata.

Allāh berfirman :

فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌ

وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ

[Surat Al-A’raf 107-108]

“lalu Musa melemparkan tongkatnya tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya & dia mengeluarkan tangannya & tiba-tiba tangan itu menjadi putih bercahaya bagi orang-orang yang melihatnya”

Maka para tukang sihir akhirnya mengetahui bahwa Nabi Musa alaihi wa sallam memang diutus oleh Allāh & merekapun masuk Islām & sangat kuat keIslaman nya.


③ Ilmu kedokteran

Di zaman Nabi Isa alaihi wa sallam sangat populer, oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla menguatkan Nabi Isa dengan ayat² yang berkaitan dengan penyakit & penyembuhannya yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang dokter atau ahli apapun dia Allāh berikan beliau alaihi wa sallam kemampuan menyembuhkan orang yang buta dari lahir, menyembuhkan orang yang berpenyakit kusta bahkan menghidupkan orang yang sudah mati.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :

… وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي ۖ وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي ۖ وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِي ۖ… 

[Surat Al-Ma’idah 110]

“dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seijin Ku kemudian engkau meniup nya lalu menjadi seekor burung yang sebenarnya dengan seizin Ku & ingatlah ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir & orang yang berpenyakit kusta dengan seizin Ku dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati dari kubur menjadi hidup dengan seijin Ku ”

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini  & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله 




Halaqah 12. Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 10 - Mu'jizat


 

Halaqah yang Kedua belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul alaihimus salam adalah *Cara Beriman Kepada Para Rasul Bag 10*.

Di antara cara beriman kepada para rasul alaihimus salam adalah keyakinan bahwa Allāh telah menguatkan mereka dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya sebagai pembenaran terhadap kenabian mereka. Tanda² kekuasaan ini telah tersebar dikalangan kaum muslimin dengan nama Mukjizat.

Al Mu’jizat adalah jamak dari Al Mu’jizat, yang secara bahasa artinya adalah yang melemahkan orang lain sehingga tidak bisa mendatangkan yang semisalnya

Lafadz ini tidak ada di dalam Al-Qur’an dan Al Hadits, yang sering digunakan adalah Al Ayat & Al Bayyinat.

Al Ayat artinya adalah tanda² kekuasaan

Al Bayyinat artinya adalah bukti² yang jelas.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ ۖ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ… 

[QS Al-Baqarah 87]

“dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa Al Kitab (At Taurat) & Kami susulkan setelahnya para Rasul & Kami berikan kepada Isa Ibn Maryam Al Bayyinat”

Berkata Ibn Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini

ولهذا أعطاه الله من البينات، وهي المعجزات

“oleh karena itu Allāh memberikan kepada beliau (Nabi Isa) Al Bayyinat & maksudnya adalah Al Mu’jizat”

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

… وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ… 

[QS Ar-Ra’d 38]

” dan seorang Rasul tidaklah mendatangkan sebuah ayat kecuali dengan izin Allāh”

Rasulullãh ﷺ bersabda:

 “مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أُعْطِيَ مِنَ الآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْياً أَوْحَى الله إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعاً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah ada seorang Nabi kecuali diberi tanda² kekuasaan yang beriman dengannya manusia & sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku maka aku berharap bahwa aku yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat”

[HR Al Bukhāri & Muslim ]

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.






Halaqah 11. Cara Beriman Kepada Para Rasul Bagian 9- Terperinci /Global

 



Halaqah yang Kesebelas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul adalah *Cara Beriman Kepada Para Rasul Bag 9*.

Diantara Cara Beriman kepada para Rasul alaihim salam adalah *Wajib Beriman Kepada Para Rasul Secara Terperinci Maupun Secara Global*.

Iman yang terperinci maksudnya adalah beriman dengan nama kabar², kisah² para Nabi yang datang didalam Alquran & Sunnah yang shahihah.

Adapun iman secara global maka yang dimaksud adalah beriman bahwa Allāh memiliki Nabi² & Rasul² selain yang disebut namanya didalam Alquran & AlHadits.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ 

“dan sungguh Kami telah mengutus para Rasul sebelummu diantara mereka ada yang Kami kisahkan kepadamu & diantara mereka ada yang tidak Kami kisahkan kepadamu” [QS Ghafir 78]

Barangsiapa yang mendustakan & mengingkari kenabian salah seorang dari para Nabi yang telah disepakati kenabiannya maka pada hakikatnya dia telah mengingkari seluruh Nabi yang demikian karena inti ajaran para Nabi alaihim salam adalah sama & mendustakan sebagian mereka sama dengan mendustakan yang lain.

Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ

“kaum Nuh telah mendustakan para Rasul” [QS Ash-Shu’ara 105]

Mereka dianggap mendustakan para Rasul padahal tidak diutus kepada mereka kecuali Nabi Nuh, yang demikian karena mendustakan seorang Nabi sama dengan mendustakan semuanya.

Dan Allāh berfirman:

“kaum ‘Ad mendustakan para Rasul” [QS Ash-Shu’ara 123]

Dan Allāh berfirman:

كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ

“Kaum Tsamud mendustakan para Rasul” [QS Ash-Shu’ara 141]

Dan Allāh berfirman:

كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ

“kaum Luth telah mendustakan para Rasul” [QS Ash-Shu’ara 160]

Dan tidak datang kaum Nabi Nuh (‘Ad Tsamud) & kaum Nabi Luth kecuali seorang Rasul saja namun ketika mereka kafir terhadap Rasul tersebut maka pada hakikatnya mereka telah kafir kepada semua Rasul.

Orang Yahudi yang mengaku beriman kepada Nabi Musa alaihi salam & orang-orang Nashrani yang mengaku beriman dengan Nabi Isa alaihi salam kalau mereka kafir terhadap Nabi Muhammad ﷺ, telah mengetahui kedatangan beliau mereka akan masuk kedalam Neraka.

Rasulullãh ﷺ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya tidaklah mendengar seorang pun dari umat ini baik Yahudi maupun Nashrani kemudian dia meninggal dunia & tidak beriman apa yang aku bawa kecuali dia masuk kedalam Neraka”

Adapun kalau kenabian pasti diperselisihkan seperti Khadir maka ada orang yang mengatakan beliau adalah Nabi & ada yg mengatakan bahwa beliau adalah wali & bukan Nabi dalam keadaan demikian maka orang yang yang mengatakan beliau adalah wali (bukan Nabi) tidak dikafirkan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.


كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ



Halaqah 10. Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 8-Keistimewaan Nabi dan Rasul



 Halaqah yang Kesepuluh dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul *Cara Beriman kepada Para Rasul Bag 8*.

Diantara cara beriman kepada para Rasul adalah keyakinan yang mendalam bahwasanya Allāh telah memberikan beberapa keistimewaan bagi para Nabi & Rasul.

Di antaranya:

1. Wahyu

Allāh berfirman:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ…

“Sesungguhnya Kami telah wahyukan kepada mu sebagaimana telah Kami wahyukan kepada Nuh & Nabi² setelah dia” [QS An-Nisa’ 163]

2. Dan diantara keistimewaan para Nabi apabila meninggal dunia tidak diwarisi & keluarganya tidak berhak untuk mewarisi hartanya.

Rasulullãh ﷺ bersabda:

لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ

“kami tidak diwarisi apa yang kami ditinggalkan adalah shodaqoh” [HR Al Bukhori & Muslim]

Yang dimaksud dengan kami disini adalah seluruh para Nabi. 

Oleh karena itu ketika Rasulullãh ﷺ meninggal & datang kepada Abu Bakar as siddiq untuk mengambil warisannya maka Abu Bakar mengatakan kepada Fatimah dengan hadits ini.

3. Di antara kelebihan & keistimewaan para Nabi, bahwa Nabi dikubur di tempat dia meninggal dunia.

Rasulullãh ﷺ bersabda:

سنن الترمذي (١٠١٨): ما قبض الله نبيا إلا في الموضع الذي يحب أن يدفن فيه.

“Tidaklah Allāh mencabut nyawa seorang Nabi kecuali di tempat yang dia senang untuk dikuburkan di tempat tersebut “.

Hadīts Riwayat Ath Tirmidzi & Ibn Majjah &shahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah.

4. Di antara keistimewaan para Nabi bahwa tanah tidak akan memakan jasad para Nabi.

Rasulullãh ﷺ bersabda:

إن الله عز وجل حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء

” Sesungguhnya Allāh ajja wajalla mengharamkan atas bumi supaya dia tidak memakan jasad² para Nabi”

[HR Abu Dawud, An Nasaii & Ibn Majjah & dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah]

5. Di antara keistimewaan mereka bahwa mereka terjaga dari dosa besar atau maksum dan telah berlalu pembahasan tentang hal ini pada Halaqah yang keenam.

6. Dan diantara keistimewaan para Nabi bahwa para Nabi tidur matanya tetapi tidak tidur hatinya.

Annas bin Malik radiallahu anhu berkata:

والنبي صلى الله عليه وسلم نائمة عيناه ولاينام قلبه وكذلك الأنبياء تنام أعينهم ولاتنام قلوبهم

“dan Nabi ﷺ tidur kedua matanya & tidak tidur hatinya dan demikianlah para Nabi tidur mata mata mereka & hati² mereka tidak tidur” [HR Al Bukhori]

7. Dan diantara keutamaan para Nabi bahwa para Nabi hidup didalam kuburan mereka dalam keadaan shalat.

Rasulullãh ﷺ bersabda:

الانبياء احياء فى قبورهم يصلون

“para Nabi mereka dalam keadaan hidup didalam kuburan² mereka dalam keadaan mereka melakukan shalat”

(HR. Abu Ya’ala dalam Musnad no. 3425).




Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.




Halaqah 09. Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 7-Inti Dakwah Tauhid



Halaqah yang Kesembilan dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul *Cara Beriman kepada Para Rasul Bag 7*.

Diantara cara beriman dengan para Rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa seluruh Nabi & Rasul alaihimus salam telah bersepakat dalam berdakwah kepada Tauhid & mengingatkan umat mereka dari kesyirikan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…

“dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul kepada kalian hanya menyembah kepada Allāh & jauhilah Thogut” [QS An-Nahl 36]

_yang dimaksud dengan Thogut adalah sesuatu yang disembah selain Allāh_

Didalam ayat yang lain Allāh mengatakan:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“dan tidaklah Kami mengutus sebelum mu seorang Rasul kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku maka hendaklah kalian menyembah hanya kepadaKu”. [QS Al-Anbiya’ 25]

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ…

“dan ingatlah kaum ‘Ad ketika dia memberikan peringatan kepada kaumnya yang tinggal di bukit² pasir & telah berlalu para Rasul yang memberikan peringatan sebelum dia & setelah dia supaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allāh” [Surat Al-Ahqaf 21]

Tiga ayat diatas menunjukkan bahwasanya setiap Rasul & setiap Nabi inti dakwah mereka satu yaitu *Tauhid*.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menceritakan didalam Alquran beberapa kisah Nabi alaihim salam dan dakwah mereka diantara kaumnya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menceritakan tentang Nabi Nuh alaihi salam

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ…

“sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya maka dia berkata _wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allāh, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia_ ” [QS Al-A’raf 59]

Dan Allāh menceritakan tentang Nabi Hud alaihi salam, Allāh mengatakan:

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ

” dan kami telah mengutus kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud alaihi salam, dia berkata _wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allāh tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian kecuali Dia, mengapa kalian tidak bertakwa_” [QS Al-A’raf 65]

Dan Allāh mengatakan:

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…

“dan Kami telah mengutus kaum Tsamud saudara mereka Sholeh dia berkata _wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allāh kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia_” [QS Al-A’raf 73]

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman tentang Nabi Syu’aib alaihi salam:

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…

“dan Kami telah mengutus kepada Madyan saudara mereka Syu’aib, dia berkata _wahai kaumku sembahlah Allāh, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia_… ” [QS Al-A’raf 85]

Ayat-ayat diatas menunjukkan bahwasanya masing-masing dari para Nabi dan Rasul berdakwah kepada Tauhid, dia merupakan inti dari ajaran mereka.

Adapun Hukum ² seperti tata cara ibadah atau halal & haram maka kadang² terjadi perbedaan.

Allāh berfirman:

…لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ …

“masing-masing Kami telah jadikan syariat & juga cara” [QS Al-Ma’idah 48]

Rasulullãh ﷺ bersabda:

الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“para Nabi adalah saudara sebapak ibu² mereka berbeda tetapi Agama mereka satu” [HR Al-Bukhori & Muslim ]

Di dalam hadits ini para Nabi diumpamakan seperti saudara² dari satu bapak berlainan ibu maksudnya sama-sama berdakwah kepada Tauhid meskipun dengan cara yang berbeda.

Berkata Al-Imam AnNawawi rahimahullah

فالمراد به أصل التوحيد و أصل الطاعة لله تعالى و إن اختلفت صفاتها

“maka yang dimaksud dengannya adalah pokok² dari Tauhid & pokok ketaatan kepada Allāh Ta’āla meskipun berbeda caranya”

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.



Halaqah 08. Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 6- Ulul Ajmi - Kekasih Allah



Halaqah yang Kedelapan dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul *Cara Beriman kepada Para Rasul Bag 6*.

Diantara cara beriman dengan para Rasul alaihimus salam adalah keyakinan bahwa Allāh melebihkan sebagian Nabi & Rasul diatas sebagian yang lain tanpa merendahkan & melecehkan harga diri & kedudukan yang lain.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ

“itu adalah para Rasul, Kami telah muliakan sebagian mereka diatas sebagian yang lain” [QS Al-Baqarah 253]

Dan Allāh berfirman:

وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ…

“dan sungguh Kami telah memuliakan sebagian Nabi diatas sebagian yang lain” [QS Al-Isra’ 55]

Adapun ayat yang berbunyi :

… لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ…

“Kami tidak membedakan diantara seorangpun dari Rasul-RasulNya” [QS Al-Baqarah 285]

Maka yang dimaksud dengan yang membeda²kan disini adalah beriman dengan sebagian Rasul & mengingkari sebagian yang lain, seperti orang yang beriman dengan Nabi Isā alaihi salam & kufur dengan Nabi Muhammad ﷺ. 

Dan sebaik-baik Nabi adalah Ulul Ajmi (orang-orang yang memiliki kesabaran yang kuat).

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ…

“maka bersabarlah engkau sebagaimana Ulul Ajmi diantara para Rasul telah bersabar” [QS Al-Ahqaf 35]

Menurut sebagian ulama yang dimaksudkan dengan Ulul Ajmi adalah 5 Orang, mereka adalah:

1. Nabi Nuh

2. Nabi Ibrahim

3. Nabi Musa

4. Nabi Isa

5. Nabi Muhammad

[alaihimus salam]

Nama² mereka telah terkumpul didalam dua ayat dari surat Al-Ahzab & surat Ash-Shura.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

“dan ketika Kami mengambil perjanjian dari para Nabi darimu, Nuh, Ibrahim, Musa & Isa Ibnu Maryam & kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kuat” [QS Al-Ahzab 7]

Dan Allāh mengatakan:

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ…

“Allāh telah mensyariatkan bagi kalian dari agama apa yang Allāh wasiatkan kepada Nuh & apa yang telah Kami wahyukan kepadamu & apa yang telah apa Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa & Isā ” [QS Ash-Shura 13]

Ke-lima Nabi inilah & juga Nabi Adam yang tersebut didalam hadits Ttg Asyafaatul Ujma yang kita sudah sebutkan didalam Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir.

Sebaik-baik Ulul Ajmi adalah dua orang Nabi, yang keduanya adalah kholilullah (kekasih Allāh) beliau berdua adalah Nabi Ibrahim alaihi salam & Nabi Muhammad ﷺ.

Dalilnya adalah firman Allāh:

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“dan Allāh telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasihNya” [QS An-Nisa’ 125]

Rasulullãh ﷺ bersabda:

bawah ini,

فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“maka sesungguhnya Allāh telah menjadikan aku sebagai kekasih sebagaimana Allāh telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih” [HR Muslim]

Dan sebaik-baik kekasih Allāh adalah Nabi Muhammad ﷺ.

Rasulullãh ﷺ bersabda:

أنا سيد ولد آدم يوم القيامة

“aku adalah pemuka anak-anak Nabi Adam pada hari Kiamat” [HR Muslim]

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.



Halaqah 07. Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 5- GHULUW



Halaqah yang ketujuh dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul *Cara Beriman kepada Para Rasul Bag 5*.

Diantara cara beriman dengan para Rasul adalah waspada dari ghuluw atau berlebihan terhadap para Rasul alaihim wa salam, seperti menganggap beliau mengetahui yang ghaib atau mensifati beliau dengan sifat² ketuhanan & Allāh ajja wajalla melarang Ahlu kitab dari sikap ghuluw dengan firman-Nya:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ…

[QS An-Nisa’ 171]

“Wahai Ahlu kitab janganlah kalian berlebih-lebihan didalam agama kalian & janganlah kalian berkata atas nama Allāh kecuali kebenaran, sesungguhnya Isa Ibn Maryam adalah Rasulullãh dan kalimatnya yang dia lemparkan kepada Maryam dan dia adalah Ruh dariNya maka berimanlah kalian kepada Allāh & RasulNya & janganlah kalian katakan Tuhan itu tiga… ”

Dan Rasulullãh ﷺ telah melarang kita untuk mengikuti langkah² mereka beliau ﷺ bersabda:

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.

” Janganlah kalian memujiku dengan berlebihan, sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan didalam memuji Ibn Maryam, sesungguhnya aku adalah hamba Allāh & RasulNya”[Hadits Shahih riwayat Al Imam Al Bukhori]

Dan diantara bentuk ghuluw 

orang-orang Nashrani adalah mengatakan Isa anak Allāh, 

orang Yahudi mengatakan Uzair adalah anak Allāh

Allāh berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

[QS At-Tawbah 30]

“Telah berkat orang-orang Yahudi bahwa Uzair adalah anak Allāh & berkata orang-orang Nashrani bahwa Al Masih adalah anak Allāh, demikianlah ucapan² mereka dengan mulut² mereka, mereka menyamai ucapan orang-orang yang kafir sebelum mereka, Allāh melaknat mereka, lalu bagaimana mereka berpaling”

Padahal para Rasul alaihim Salam tidak memiliki sedikitpun sifat Rububiah & Uluhiyah 

yaitu sifat² Ketuhanan mereka tidak mengetahui yang ghaib kecuali setelah diberi tahu oleh Allāh ajja wajalla.

Allāh berfirman:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا

إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ…

[QS Al-Jinn 26-27]

“Dia lah Allāh yang mengetahui perkara yang ghaib maka tidaklah Dia menampakkan perkara yang ghaib kepada siapapun, kecuali orang yang Allāh ridhai dari kalangan para Rasul”

Dan mereka juga tidak bisa memberikan manfaat & mudhorot kecuali dengan kehendak Allāh.

Allāh berfirman:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

[QS Al-A’raf 188]

“Katakanlah aku tidak memiliki untuk diriku sendiri manfaat & mudhorot kecuali apabila Allāh menghendaki & seandainya aku mengetahui perkara yang ghaib niscaya aku akan memperbanyak kebaikan & tentunya aku tidak akan ditimpa kejelekan, tidaklah aku kecuali sebagai pemberi peringatan & pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman”

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Halaqah 06. Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 4- Terjaga dari DOSA -DOSA KECIL dan Taubat



Halaqah yang keenam dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Rasul Allāh *Cara Beriman kepada Para Rasul Bag 4*.

Diantara cara beriman kepada para rasul adalah meyakini bahwa mereka maksum yaitu terjaga dari dosa besar seperti:

• Zina

• Mencuri

• Menipu

• Sihir

• Membuat berhala, dll

Ini adalah kesepakatan umat, adapun orang Yahudi & Nashrani maka mereka menganggap para Nabi dan Rasul melakukan Dosa besar, seperti :

- keyakinan bahwa Nabi Harun dialah yang membuat berhala & 

- keyakinan bahwa Nabi Ibrahim mengorbankan Istri nya (Sarah) kepada Firaun & seperti 

- keyakinan bahwa Nabi Luth alaihi salam mabuk dll.

Adapun Dosa kecil maka menurut sebagian besar ulama terkadang seorang Nabi melakukan dosa kecil namun  tidak sampai berhubungan dengan wahyu & dengan cepat sekali mereka Bertaubat kepada Allāh ajja wajalla.

◊Nabi Adam alaihi salam beliau dilarang untuk memakan buah tertentu didalam  Surga, akan tetapi beliau melanggarnya kemudian beliau mengatakan :

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

[QS Al-A’raf 23]

“wahai Rabb kami, kami telah mendholimi diri kami sendiri & seandainya Engkau tidak mengampuni dosa kami & menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi”

◊Nabi Nuh alaihi salam meminta kepada Allāh supaya menyelamatkan anaknya yang kafir, maka Allāh ajja wajalla menegur beliau & menasihati beliau kemudian beliau  langsung meminta kepada Allāh seraya berkata:

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

[QS Hud 47]

“beliau berkata _wahai Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari meminta kepadaMu sesuatu yang tidak aku memiliki ilmu tentangnya dan seandainya Engkau tidak mengampuniku & menyayangi aku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi_”

◊Nabi Musa alaihi salam pernah memukul orang kifti (orang Mesir) yang berakibat terbunuhnya orang tersebut ini adalah dosa kecil karena pukulan Nabi Musa alaihi salam sebenarnya tidak mematikan & beliau shallahu’alaihi wa sallam juga tidak bermaksud untuk membunuh, Nabi Musa alaihi salam mengiringi kesalahan ini dengan Taubat kepada Allāh.

Allāh berfirman:

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

[QS Al-Qasas 16]

“Beliau berkata _wahai Rabbku sesungguhnya aku mendholomi diriku sendiri maka ampunilah aku_, maka Allāh pun mengampuni beliau sesungguhnya Allāh adalah Dzat Yang Maha Pemgampun lagi Maha Penyayang”

◊Nabi Yunus alaihi salam pernah marah meninggalkan kaumnya karena mereka tidak menerima dakwah beliau & setelah ditelan ikan yang besar, Nabi beliaupun segera meminta ampun kepada Allāh.

Allāh berfirman:

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

[QS Al-Anbiya’ 87]

“dan ingatlah kisah dzunnun yaitu Yunus ketika dia pergi dalam keadaan marah lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Maha Suci Engkau sungguh aku termasuk orang-orang yang dzolim”

◊Nabi Muhammad ﷺ ketika sedang mendakwahi pembesar Qurais datang kepada beliau Ibnu Ummi Maktum ingin bertanya tentang sesuatu, maka beliau bermuka masam & berpaling, Allāh pun menurunkan firman-Nya:

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ

أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ

أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ

[QS ‘Abasa 1-4]

“Dia (Muhammad) berwajah masam & berjalan karena seorang buta telah datang kepadanya. & tahukah engkau(wahai Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya”

Setelah itu Rasulullãh ﷺ pun memuliakannya sebagaimana yang dikabarkan oleh Annas bin Malik radiallahu anhu yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la didalam Musnad nya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.



Halaqah 20. Penjelasan Pokok Kelima Bagian 3

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlul As-Sittah (6 Kaidah), sebuah kitāb yang dikarang oleh Syaikh Muhammad...