Tampilkan postingan dengan label 9. Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Kitab Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 9. Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Kitab Allah. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2022

Halaqah 25. Buah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh



Halaqah yang ke-25 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Buah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh”.

Diantara buah beriman dengan kitab-kitab Allāh yang bisa kita petik adalah:

1 | Mendapatkan keutamaan-keutamaan beriman.

Diantaranya:

⑴ Hidayah di dunia

⑵ Keamanan di akhirat

⑶ Masuk ke dalam surga

⑷ Dan lain-lain

Karena beriman dengan kitab Allāh adalah bagian dari mewujudkan keimanan.

2 | Semakin mengetahui dan menyadari perhatian Allāh dan kasih sayangNya kepada makhluk.

Semakin mencintaiNya karena menurunkan kepada kita kitab yang berisi petunjuk dan cahaya supaya kita tenang di dunia dan bahagia di akhirat.

Kita tidak dibiarkan tersesat dan terombang-ambing dengan hawa nafsu dan syahwat.

Dan bagi yang ingin melihat kebesaran nikmat ini silakan dia melihat orang-orang yang hidup tanpa berpegang dengan kitab Allāh; mereka dalam keadaan resah, bimbang, bingung dan tidak tahu kemana arah hidupnya.

3 | Mengetahui hikmah Allāh dan kebijaksanaanNya karena memberikan kepada setiap kaum syari’at yang sesuai dengan keadaan mereka.

Dan Al-Qurān sebagai kitab terakhir sesuai untuk semua umat di setiap tempat dan masa sampai hari kiamat.

4 | Mengetahui bahwa petunjuk Allāh kepada manusia tidak terputus sampai hari kiamat.

5 | Semakin mencintai dan menghormati Al-Qurān dengan memperhatikan adab-adab ketika membacanya.

Demikian pula semakin mencintai orang-orang yang mencintai Al-Qurān.

6 | Membenci amalan-amalan yang bertentangan dengan Al-Qurān dan orang-orang yang melakukannya.

7 | Membangkitkan semangat untuk bersungguh-sungguh mencari hidayah dari Al-Qurān dengan membaca, menghafal, mempelajari, mentadabburi, mengamalkan, berhukum dengan Al-Qurān dan kembali kepada Al-Qurān ketika terjadi perselisihan.

8 | Bersemangat untuk membela kitab Allāh dengan menyebarkan aqidah yang benar tentangnya dan membongkar tuduhan dan keyakinan yang sesat yang ingin menurunkan kepercayaan terhadap Al-Qurān dan menjauhkan umat dari Al-Qurān.

9 | Bergembira dan bersyukur kepada Allāh atas karuniaNya yang besar.

الْحَمْدُ لِلَّه ِالَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

[Alhamdulillāh alladzī bini’matihi tatimmushshālihāt]



Halaqah 24. Penyimpangan-penyimpangan Dalam Hal Iman Dengan Kitab-kitab Allāh.


 

Halaqah yang ke-24 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Penyimpangan-penyimpangan Dalam Hal Iman Dengan Kitab-kitab Allāh”.

Diantara penyimpangan-penyimpangan di dalam hal iman dengan kitab-kitab Allāh:

1 | Mengingkari keseluruhan atau sebagian kitab-kitab Allāh meskipun hanya 1 huruf.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً بَعِيداً

“Dan barangsiapa yang kufur kepada Allāh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan hari akhir maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.” (QS An-Nisā: 136)

Berkata ‘Abdullāh Ibnu Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu:

مَنْ كَفَرَ بِحَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ بِآيَةٍ مِنْهُ فَقَدْ كَفَرَ بِهِ كُلِّهِ

“Barangsiapa yang kufur atau mengingkari satu huruf dari Al-Qurān atau 1 ayat darinya maka sungguh dia telah kufur atau mengingkari keseluruhannya.”

[Atsar ini dikeluarkan oleh Ath-Thabariy di dalam tafsirnya]

2 | Mendustakan kabar-kabar yang ada di dalam kitab-kitab tersebut.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَالَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُواْ عَنْهَا أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka sombong merekalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-A’rāf: 36)

3 | Melecehkan dan mengolok-olok.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Katakanlah: Apakah dengan Allāh, ayat-ayatNya dan rasulNya kalian mengolok-olok? Janganlah kalian minta udzur, sungguh kalian telah kufur setelah keimanan kalian.” (QS At-Taubah 65-66)

4 | Membenci apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut berupa petunjuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Yang demikian karena mereka membenci apa yang Allāh turunkan maka Allāh membatalkan amalan-amalan mereka.” (QS Muhammad: 9)

Apabila seseorang membenci Al-Qurān yang di dalamnya ada petunjuk meskipun dia mengamalkannya maka dia telah kufur.

5 | Meninggalkan Al-Qurān.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَقَالَ الرَّسُول ُيَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul berkata: Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qurān sesuatu yang ditinggalkan.” (QS Al-Furqān: 30)

Para ulama menjelaskan bahwa meninggalkan Al-Qurān mencakup:

• Tidak mau mendengarkannya.

• Tidak beramal dengannya.

• Tidak berhukum dengannya.

• Tidak mentadabburinya.

• Dan juga tidak mau berobat dengan Al-Qurān baik untuk penyakit hati maupun penyakit badan.

Diantara penyimpangan-penyimpangan dalam hal iman dengan kitab-kitab Allāh adalah:

6 | Ragu-ragu dengan kebenaran Al-Qurān.

7 | Berusaha untuk mengubah Al-Qurān baik lafazh maupun maknanya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.




Halaqah 23. Hukum Membaca Kitab-kitab Sebelum Al-Qurān (Seperti Taurat dan Injīl) Yang Telah Diubah”.



Halaqah yang ke-23 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Hukum Membaca Kitab-kitab Sebelum Al-Qurān (Seperti Taurat dan Injīl) Yang Telah Diubah”.

Para ulama menjelaskan bahwa hukum membacanya ada 2;

⑴ HARAM

Apabila maksudnya adalah mencari petunjuk di dalam kitab-kitab tersebut seakan-akan tidak mencukupkan dirinya dengan Al-Qurān.

Karena Allāh telah mengabarkan bahwa kitab-kitab tersebut sudah diubah, sudah tercampur antara yang haq dan yang bathil.

⇒ Yang bathil jelas kita tinggalkan.

⇒ Adapun yang haq, yang selamat dan tidak diubah maka Al-Qurān yang dijaga oleh Allāh dari perubahan telah mencukupi kita.

◆ Tidak ada kebaikan yang kita butuhkan di dalam agama kita kecuali sudah diterangkan di dalam Al-Qurān.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَىٰ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Apakah tidak mencukupi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu sebuah kitab yang dibacakan atas mereka? Sesungguhnya di dalamnya ada rahmat dan peringatan bagi kaum yang beriman.” (QS Al-‘Ankabūt: 51)

Dari Jābir Ibnu ‘Abdillāh radhiyallāhu ‘anhumā, bahwa ‘Umar Ibnu Khaththāb radhiyallāhu ‘anhu mendatangi Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan membawa sebuah kitab yang dia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab kemudian membacakannya kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam marah seraya berkata: ‘Apakah engkau bingung di dalam agamamu, wahai putra Al-Khaththāb?

Dan demi Zat yang jiwaku berada ditanganNya, sungguh aku telah mendatangi kalian dengan sesuatu yang putih bersih.

Janganlah kalian bertanya kepada mereka (yaitu Ahlul Kitab) tentang sesuatu karena mungkin mereka mengabarkan kepada kalian dengan kebenaran kemudian kalian mendustakannya atau mereka mengabarkan yang bathil kemudian kalian membenarkannya.

Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya Mūsā masih hidup niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikuti aku.”

(Hadits hasan riwayat Imām Ahmad)


Al-Imām Al-Bukhāriy rahimahullāh menyebutkan di dalam Shahīh Bukhāri, ucapan ‘Abdullāh Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā. Beliau mengatakan:

“Bagaimana kalian bertanya kepada Ahlul Kitāb tentang sesuatu sedangkan kitab kalian yang diturunkan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih baru?

Kalian membacanya dalam keadaan bersih tidak tercampuri dan Allāh telah mengabarkan kepada kalian bahwa Ahlul Kitab telah mengganti kitab Allāh dan mengubahnya.

Dan menulis kitab dengan tangan-tangan mereka dan mereka berkata ‘Ini adalah dari kitab Allāh’ dengan tujuan menjualnya dengan harga yang sedikit.

Bukankah ilmu yang datang kepada kalian telah melarang kalian untuk bertanya kepada mereka?

Tidak demi Allāh, kami tidak melihat seorangpun dari mereka yang bertanya kepada kalian tentang apa yang diturunkan kepada kalian.”

◆ Dikhawatirkan apabila seseorang membaca kitab-kitab tersebut akan membenarkan yang bathil atau mendustakan yang benar atau menjadi tersesat dan terfitnah agamanya.

⑵ BOLEH

Boleh hukumnya apabila dia:

• ⑴ Termasuk penuntut ilmu atau orang yang berilmu dengan Al-Qurān dan Hadits.

• ⑵ Kuat keimanannya dalam ilmu agamanya, khususnya tentang masalah ‘aqidah, tauhid dan lain-lain.

• ⑶ Dan tujuannya adalah ingin:

✓Membantah Ahlul Kitab.

✓Menerangkan penyimpangannya.

✓Menjelaskan pertentangan yang ada di dalam kitab tersebut.

✓Menunjukkan keistimewaan Al-Qurān.

✓Menyingkap syubhat mereka.

✓Dan juga menegakkan hujjah atas mereka.

Dari ‘Abdullāh bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā; bahwasanya orang-orang Yahudi datang kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kemudian mereka menyebutkan bahwa seorang laki-laki dan wanita di antara mereka telah berzina.

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: ‘Apa yang kalian temukan di dalam Taurat tentang masalah hukum rajam?’

Mereka berkata: ‘Kami akan membuka aib-aibnya dan mereka akan dicambuk.’

⇒ Maksudnya mereka mengingkari adanya ayat tentang rajam di dalam Taurat.

Kemudian ‘Abdullāh Ibnu Salām radhiyallāhu ‘anhu berkata: ‘Kalian telah berdusta, sesungguhnya di dalam Taurat ada ayat rajam.’

Kemudian mereka mendatangkan Taurat dan membukanya.

Salah seorang diantara mereka meletakkan tangannya di atas ayat rajam.

⇒ Maksudnya menutupi.

Kemudian membaca ayat sebelumnya dan setelahnya kemudian ‘Abdullāh Ibnu Salām berkata: ‘Angkatlah tanganmu!’

Maka dia mengangkat tangannya, maka di dalamnya ada ayat tentang rajam.

Mereka berkata: ‘Dia telah benar, wahai Muhammad, di dalamnya ada ayat tentang rajam.’

Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyuruh untuk merajam keduanya, kemudian keduanya dirajam.

Berkata ‘Abdullāh Ibnu Salām: ‘Maka aku melihat laki-laki tersebut memiringkan badannya ke arah wanita tersebut ingin melindunginya dari batu.

(HR Muslim)

Para ulama menulis kitab-kitab yang membantah Ahlul Kitab, dan membawakan di dalamnya beberapa nash dari kitab-kitab yang ada di tangan mereka sendiri, seperti :

Ibnu Hazm, di dalam kitabnya Al-Fashlu Fīl Milali Wal Ahwāi.

(الفصل في الملل والأهواء)

• Abū ‘Abdillāh Al-Qurthubiy, di dalam kitabnya Al-‘I’lāmu Bimā Fī Dīnin Nashāra Minal Fasādi Wal Awhāmi Wa Izh-hāru Mahāsinil Islāmi.

(الإعلام بما في دين النصارى من الفساد والأوهام وإظهار محاسن الإسلام)

• Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah di dalam kitabnya Al-Jawābush Shahīhu Liman Baddala Dīnal Masīhi.

(الجواب الصحيح لمن بدّل دين المسيح)

• Ibnul Qayyim,  di dalam Kitabnya Hidāyatul Hayāra Fī Ajwibatil Yahūdi Wan Nashāra

(هداية الحيارى في أجوبة اليهود والنصارى)

• Dan juga kitab-kitab yang lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.




Halaqah 22. Beramal, Ridha dan berserah diri dengan Hukum hukum yang Ada didalam Kita kitab Allah



Halaqah yang ke-22 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Beramal, Ridha Dan Berserah Diri Dengan Hukum-Hukum Yang Ada Di Dalam Kitab-Kitab Allāh”.

Diantara cara beriman dengan kitab-kitab Allāh;

⑷ Beramal, ridha dan berserah diri dengan hukum-hukum di dalam kitab-kitab tersebut, baik yang kita ketahui hikmahnya atau tidak.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidak pantas bagi seorang yang beriman laki-laki dan wanita, apabila Allāh dan RasūlNya sudah menetapkan sebuah perkara, kemudian mereka memiliki pilihan yang lain di dalam urusan mereka. Dan barangsiapa yang memaksiati Allāh dan rasulNya, maka sungguh telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS Al-Ahzāb: 36)

Dan Allāh berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau wahai Muhammad sebagai hakim di dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak menemukan rasa berat di dalam hati-hati mereka terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka menerima dengan sebenarnya.” (QS An Nisā: 65)

Adapun hukum yang sudah dihapus, maka tidak boleh diamalkan, seperti:

• ‘Iddah 1 tahun penuh bagi wanita yang ditinggal mati suaminya.

⇒ Sebagaimana di dalam surat Al-Baqarah ayat 240.

Maka telah dihapus dengan ayat 234 dari Surat Al-Baqarah yang isinya bahwa:

✓Masa ‘iddah wanita yang ditinggal mati suaminya adalah 4 bulan 10 hari.

Dan semua kitab yang terdahulu secara umum hukum-hukumnya telah dihapus dengan Al-Qurān.

⇒ Artinya, tidak boleh seorangpun baik jin maupun manusia mengamalkan hukum-hukum yang ada di dalam kitab-kitab sebelumnya, setelah datangnya Al-Qurān.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitāb (yaitu Al-Qurān) dengan haq yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan muhaymin kitab-kitab sebelumnya. Maka hendaklah engkau menghukumi diantara mereka dengan apa yang Allāh turunkan. Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang datang kepadamu bagi masing-masing dari kalian telah kami jadikan syariat dan juga jalan.” (QS Al-Māidah: 48)

Bahkan Nabi Mūsā sekalipun yang diturunkan kepadanya Taurat harus berhukum dengan Al-Qurān, seandainya beliau masih hidup ketika Al-Qurān turun.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

Demi Zat yang jiwaku ada di tangannya, seandainya Mūsā hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikuti aku.”

(HR Ahmad dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albāniy rahimahullāh)

Oleh karena itu Nabi ‘Īsā ‘alayhissalām salam yang diturunkan kepadanya Injīl di akhir zaman, ketika beliau turun akan berhukum dengan hukum Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



 

Halaqah 21. Membenarkan Kabar-kabar Yang Shahih Di Dalam Kitab-kitab Allah.


 

Halaqah yang ke-21 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allah adalah tentang “Membenarkan Kabar-kabar Yang Shahih Di Dalam Kitab-kitab Allah”.

yang ke 3 diantara cara beriman dengan kitab-kitab Allah, Membenarkan kabar-kabar yang shahih di dalam kitab-kitab tersebut. Seperti kabar-kabar di dalam Al-Quran dan kabar-kabar yang ada di dalam kitab sebelumnya yang belum diubah.

Maksudnya, wajib bagi orang yang beriman membenarkan:

1. Kabar-kabar yang ada di dalam Al-Quran seperti

– Kisah-kisah umat terdahulu.

– Kejadian-kejadian di hari kiamat.

– Sifat-sifat surga dan neraka.

– Dan lain-lain.

2. Kabar-kabar yang ada di dalam kitab kitab sebelumnya yang belum diubah.

Dan barangsiapa yang mengingkarinya atau meragukannya maka sungguh dia telah kafir. Adapun kabar-kabar yang ada di dalam kitab Taurat dan Injil setelah terjadi perubahan pada sebagian isinya maka kabar-kabar tersebut ada 3 macam;

1. Kabar yang datang pembenarannya di dalam agama Islam.

Maka wajib bagi kita beriman dan membenarkannya, seperti kabar bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari, maka ini ada di dalam Perjanjian Lama Keluaran Pasal 31 Ayat 17.

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى sebutkan di dalam Al-Quran di dalam firmanNya:

رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ

“Sesungguhnya Rabb kalian Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari.” (Al-A’rāf : 54)

2. Kabar yang datang pengingkarannya di dalam agama Islam.

Maka wajib bagi kita mendustakannya dan menolaknya, seperti kabar di dalam kitab Taurat yang berisi sifat yang tidak layak bagi Allah dan sifat yang tidak layak bagi sebagian Nabi, sebagaimana telah berlalu penjelasannya.

3. Kabar yang tidak ada pengingkaran maupun pembenarannya di dalam agama Islam.

Maka kita tidak membenarkan dan tidak mendustakan seperti sebagian perincian yang ada di dalam Taurat yang sekarang terhadap kisah-kisah yang asalnya ada di dalam Al-Quran, sebagaimana disebutkan di dalam Kejadian Pasal 7 ayat 17 bahwa banjir besar di zaman Nabi Nuh ‘alayhissalam terjadi selama 40 hari.

Dan perincian ini tidak disebutkan di dalam agama kita. kita tidak membenarkan karena mungkin itu termasuk yang ditambah dan diubah dan kita tidak mendustakan karena mungkin itu termasuk wahyu.

Rasūlullāh ﷺ bersabda:

لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم ، وقولوا : آمنا بالله وما أنزل إلينا

“Janganlah kalian membenarkan Ahlul Kitab dan janganlah kalian mendustakan mereka, akan tetapi katakanlah ‘Kami beriman kepada Allāh dan apa yang diturunkan kepada kami’.” (HR Bukhāri)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Abdullah Roy



Halaqah 20. Kitab Al-Quran Bagian 6 - Hak hak AlQuran



Halaqah yang ke-20 dan kami telah menurunkan kepadamu Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allah adalah tentang “Kitab Al-Quran Bagian yang Keenam”

Diantara Hak-hak Al-Quran :

3.  Mentadabburi

Allah telah menurunkan Al-Quran untuk dimengerti maknanya dan di Tadabburi, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu berbarakah supaya mereka Mentadaburi ayat-ayat nya dan supaya orang-orang yang berakal mengingat” (Saad : 29)

Orang yang tidak Mentadaburi Al-Quran maka ini menunjukkan kesesatan hati

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Apakah mereka tidak Mentadaburi Al-Quran, ataukah didalam hati-hati tersebut ada kunci-kunci nya ” (Muhammad : 24)

Semakin seseorang banyak Mentadabburi Al-Quran dan memahami maknanya maka akan semakin bertambah keimanannya, keyakinannya dan kedekatannya kepada Allah, semakin yakin tentang kebenaran agama ini dan semakin yakin bahwa Al-Quran adalah dari Allah Ta’ala.

Oleh karena itu seyogyanya seorang muslim dan Muslimah mempelajari bahasa Arab yang dengannya dia bisa memahami Al-Quran dan meluangkan waktunya untuk memikirkan dan Mentadabburi ayat-ayat Allah, membaca tafsir-tafsir Al-Quran yang sesuai dengan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti 

Tafsir Muyyasar, Yang diterbitkan Kompleks Percetakan Al-Quran Kerajaan Raja Fahd di Madinah dan ini adalah Tafsir yang ringkas, dan

Tafsir Ibn Katsir, Untuk Tafsir yang agak luas

Dan mengikuti kajian-kajian yang membahas tentang Tafsir Al-Quran dengan pemahaman yang benar, pemahaman para shahabat dan para salaf.

Dan Apabila seseorang ingin membaca terjemah Al-Quran didalam bahasa Indonesia maka hendaklah ia berusaha untuk memilih terjemah yang paling bagus, yang sesuai dengan pemahaman yang benar, seperti Terjemah Al-Quran dalam bahasa Indonesia yang dicetak oleh Kompleks percetakan Al-Quran Kerajaan Raja Fahd di Madinah.

Dan perlu dia mengetahui bahwasanya tidak ada terjemah yang tidak memiliki kekurangan karena terjemah adalah amalan manusia.

Diantara hak-hak Al-Quran adalah,

4.  Mengamalkannya

Al-Quran tidaklah diturunkan hanya sekedar dibaca dengan tartil dan tajwid, dihafal dan ditadabburi, akan tetapi juga diamalkan,  dilaksanakan perintahnya, dijauhi larangannya, dibenarkan kabar-kabarnya, baik dalam masalah ‘aqidah, ibadah, akhlaq, mu’amalah dan lain-lain.

Dahulu, para shahabat radhiyallahu ‘anhum selain membaca Al-Quran dan mengilmui, mereka juga mengamalkan, Berkata ‘Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ الرَّجُلُ مِنَّا إِذَا تَعَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يُجَاوِزْهُنَّ حَتَّى يَعْرِفَ مَعَانِيَهُنَّ وَالْعَمَلَ بِهِنَّ

“Dahulu seseorang dari kalangan kami (yaitu para shahabat) apabila mempelajari 10 ayat maka dia tidak meninggalkannya sehingga mempelajari maknanya dan beramal dengannya”

Kalau kita tidak mengamalkan Al-Quran maka Al-Quran bisa menjadi hujjah atas kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Dan Al-Qurān menjadi hujjah untukmu atau atasmu.” (HR Muslim)

Menjadi hujjah untukmu yaitu apabila kita amalkan maka bisa kita bermanfaat bagi kita di hari kiamat.

Menjadi hujjah atasmu yaitu apabila tidak kita amalkan maka akan memudharati kita di hari kiamat.

Kita memohon kepada Allāh ‘Azza wa Jalla semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki perhatian yang besar terhadap Al-Quran, baik embaca dengan tartil, menghafal, memuraja’ah, mentadabburi maupun mengamalkannya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.




Halaqah 19. Kitab Al-Quran Bagian 5 - menunaikan hak hak AlQuran



 Halaqah yang ke-19 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allah adalah tentang “Kitab Al-Quran Bagian yang Kelima”

Sebagian nama-nama dan sifat-sifat Al-Quran yang telah berlalu menunjukkan tentang kedudukan dan keutamaan Al-Quran, oleh karena itu hendaklah seorang Muslim bersyukur kepada Allah yang telah menurunkan Al Quran kepada kita.

Dan diantara cara bersyukurnya adalah dengan menunaikan hak-hak Al-Quran, Dan diantara hak-hak Al-Quran

1. Membacanya dengan Tartil

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا 

“Dan hendaklah engkau mentartil Al-Quran dengan sebenar-benar tartil.” (Al-Muzzammil : 4)

Mentartil artinya membaca dengan pelan, dengan membaca huruf-hurufnya dengan baik dan dengan memperhatikan tempat-tempat wakaf/berhentinya, panjang pendeknya. Sebagaimana dahulu Nabi ﷺ membacanya, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ ‏‏فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang mahir membaca Al-Quran bersama malaikat-malaikat yang mulia lagi baik. Dan orang yang membaca Al-Quran sedangkan dia masih terbata-bata ketika membacanya dan susah baginya maka dia mendapatkan 2 pahala.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dua pahala tersebut maksudnya adalah pahala membaca Al-Quran, dan pahala kesulitan yang dia alami,


Hendaknya seorang Muslim dan Muslimah, mempelajari ilmu tajwid dari seorang guru yang mumpuni dengan niat supaya bisa membaca Al-Quran tersebut sebagaimana dibaca oleh Rasulullah ﷺ, dan mempraktekkannya dengan sering membaca Al-Quran sehingga semakin mahir dia di dalam membaca Al-Quran.

Dan di dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)

Dan diantara hak Al-Quran adalah

2. Menghafalnya

Menghafal seluruh Al-Quran bukanlah sebuah fardhu ‘ain bagi seorang Muslim, yang wajib adalah menghafal yang dengannya sah shalatnya. Namun tentunya sebuah kemuliaan tersendiri bagi seorang Muslim dan Muslimah ketika Allah memilih qalbunya dari sekian banyak qalbu untuk menghafal Al-Quran Kalamullah Rabbul ‘alamin, membacanya kapan dia kehendaki. Dan semakin banyak dia menghafal tentunya semakin utama. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا الظَّالِمُونَ

Bahkan dia adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada-dada orang-orang yang diberi ilmu dan tidak mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zhalim.” (Al-‘Ankabut : 49)

Dan hendaklah seorang yang menghafal Al-Quran memuraja’ah (mengulang-ulang terus) apa yang sudah dia hafal, Rasulullah ﷺ bersabda

تَعَاهَدُوْا هَذَا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ اْلإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

“Hendaklah kalian mengulang-ulang Al-Quran, maka demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya sungguh Al-Quran lebih mudah terlepas (yaitu dari qalbu seseorang) daripada terlepasnya unta dari ikatannya.” (HR Muslim)

Selain itu, hendaknya orang yang menghafal Al-Quran memperdengarkannya di hadapan Syaikh yang mumpuni dan meninggalkan kemaksiyatan karena kemaksiyatan dengan berbagai bentuknya memperburuk dan mempersulit hafalan Al-Quran.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



Halaqah 18. Kitab Al-Quran Bagian 4 - Sifat - sifat Alquran


 

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allah adalah tentang “Kitab Al-Quran Bagian yang Keempat”

Allah ‘Azza wa Jall juga menyifati Al-Quran dengan beberapa sifat yang memiliki makna yang agung yang juga menunjukkan keutamaannya.

Diantara sifat-sifat tersebut:

1. ‘Aziz 

Artinya: yang mulia, dimuliakan oleh Allah dengan dijaga dari segala perubahan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar dengan adz-dzikru (Al-Quran) ketika datang kepada mereka dan sesungguhnya dia adalah kitab yang mulia.” (Fushshilat : 41)

2. Majiid

Artinya agung lagi mulia, Maksudnya agung maknanya dan luas ilmunya,


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ 

“Bahkan dia adalah Al-Quran yang agung.” (Al-Buruj : 21)

3. Kariimun

Artinya mulia lagi banyak manfaatnya, besar kebaikannya dan dalam ilmunya,


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ 

“Sesungguhnya dia adalah Al-Quran yang mulia.” (Al-Waqi’ah : 77)

4. Mubaarak

Artinya yang berbarakah (yang banyak manfaatnya dan banyak membawa kebaikan),  Kebaikan bagi yang membacanya, yang menghafalnya, yang mendengarnya, yang mentadabburinya, maupun yang mengamalkannya.


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُّصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ

“Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan berbarakah membenarkan apa yang datang sebelumnya.” (Al-An’am : 92)

Diantara sifat-sifat Al-Quran adalah,

5. Fashl

Artinya yang benar dan jelas, memisahkan antara yang haq dan yang bathil,


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ 

“Sesungguhnya dia (Al-Quran) adalah ucapan yang memisahkan (antara yang haq dan yang bathil).”(Ath-Thariq : 13)

Dan diantara sifat Al-Quran adalah,

6. Hakiim

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

الم (١) تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ (٢) هُدًى وَرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِينَ (٣

“Alif Lam Mim. Itu adalah ayat-ayat kitab yang hakīm, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat baik.” (Luqman : 1-3)

Hakim artinya Memiliki hikmah dan kebijaksanaan yang mendalam, ayat-ayatnya muhkam, yaitu kokoh.


– Dia kokoh karena datang dengan lafazh yang paling fasih dan jelas yang mengandung makna yang dalam.

– Kokoh karena tidak mungkin dirubah.

– Kokoh karena kabar-kabar yang ada di dalamnya benar sesuai dengan kenyataan.

– Kokoh karena tidak memerintah kecuali dengan sesuatu yang merupakan kebaikan bagi manusia dan tidaklah melarang kecuali dari sesuatu yang merupakan keburukan bagi manusia, dan

– Dia kokoh karena tidak ada pertentangan di antara ayat-ayatnya.

Dan diantara sifat Al-Quran adalah

7. Berbahasa Arab yang jelas

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٩٢) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (١٩٣) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ (١٩٤) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ (١٩

“Dan sesungguhnya Al-Quran diturunkan dari Rabb semesta alam, turun dengannya Ar-Ruhul Amin (Jibril) atas hatimu supaya engkau termasuk orang-orang yang memberikan peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy-Syu’ara : 192-195)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.




Halaqah 17. Kitab Al-Quran Bagian 3 - nama nama Alquran & keutamaannya


 

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allah adalah tentang “Kitab Al-Quran Bagian yang Ketiga”.

Al-Quran memiliki nama-nama yang banyak yang menunjukkan keutamaannya, diantaranya

1. Al-Quran

Ini adalah nama yang paling banyak di dalam Al-Quran dan inilah yang paling masyhur, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Quran? Dan seandainya itu dari selain Allah niscaya mereka akan mendapatkan di dalamnya perselisihan yang banyak.” (Surat An-Nisa : 82)

2. Al-Kitab

Artinya “kitab”, dari kata كَتَبَ yang artinya mengumpulkan. di namakan demikian karena dia mengumpulkan huruf dengan huruf, ayat dengan ayat, surat dengan surat, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا ۚ

“Apakah kepada selain Allah aku mencari hakim? Padahal Dialah yang menurunkan Al-Kitab (yaitu Al-Quran) secara terperinci.” (SuratAl-An’am: 114)

3. Kitabullah

Artinya “kitab Allah” Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ 

“Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitabullah dan mendirikan shalat dan berinfaq dari sebagian harta yang Kami rezeki kan kepadanya, baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan  rugi.” (Surat Fathir: 29)

4. Al-Furqan

Artinya “yang membedakan”, karena dia membedakan yang benar dengan yang bathil, membedakan petunjuk dan kesesatan, membedakan yang halal dan yang haram, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا 

“Sungguh berbarakah Zat yang telah menurunkan Al-Furqan (yaitu Al-Quran) kepada hambaNya supaya memberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS Al-Furqan : 1)

5. Adz-Dzikru

Ada yang mengatakan artinya adalah peringatan, karena di dalamnya ada peringatan dan nasehat, Dan ada yang mengatakan artinya adalah penyebutan, karena di dalam Al-Quran disebutkan banyak permasalahan dan dalil-dalil yang jelas, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Adz-Dzikru (yaitu Al-Quran) dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya.” (Surat Al-Hijr : 9)

Diantara nama-nama Al-Quran adalah,

6. Hablullah

Artinya “Tali Allah”, Dinamakan demikian karena dia menyampaikan kepada ridha Allah, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ 

“Dan hendaklah kalian semua berpegang teguh dengan hablullah (yaitu Al-Quran) dan janganlah kalian saling berpecah belah.” (Surat Ali ‘Imran : 103)

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ: أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ ، وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَرَغَّبَ فِيهِ، ثُمَّ قَالَ: (وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي

“Dan aku tinggalkan di antara kalian 2 perkara yang berat; yang pertama Kitābullah, di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Maka ambillah dengan kitabullah dan berpeganglah dengannya. Maka beliaupun menganjurkan dan mendorong untuk berpegang teguh dengan kitabullah. Kemudian Beliau berkata: ‘Dan keluargaku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku’.” (HR Muslim)

Di dalam sebuah riwayat, Beliau ﷺ mengatakan:

أحدهما كتاب الله عز وجل هو حبل الله من اتبعه كان على الهدى ومن تركه كان على ضلالة

“Yang pertama di antara keduanya adalah Kitabullah, dia adalah hablullah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia di atas petunjuk dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia di atas kesesatan.”

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



Halaqah 16. Kitab Al-Quran Bagian 2 - keistimewaan Alquran



Halaqah yang ke-16 dari Silsilah Beriman Kepada Kitab-Kitab adalah tentang “Kitab Al-Quran Bagian yang Kedua”

Diantara keistimewaan Al-Quran,

4. Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur

Al-Quran, Allah turunkan dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia di bulan Ramadhan, pada malam Laylatul Qadr.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Bulan Ramadhan yang diturunkan di dalamnya Al-Quran.” (Al-Baqarah: 185)

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran di malam Laylatul Qadr.” (QS Al-Qadr: 1)

Kemudian, turun Al-Quran secara berangsur-angsur sesuai dengan kejadian dan peristiwa selama 23 tahun, Ada di antaranya yang turun sebelum hijrahnya Nabi ﷺ ke kota Madinah yang dinamakan surat-surat Makiyyah, dan ada diantaranya yang turun setelah hijrah Nabi ﷺ ke kota Madinah yang dinamakan dengan surat-surat Madaniyyah.

Dan diantara hikmah turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur adalah agar lebih mudah dihafal, dimengerti dan diamalkan, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلًا

“Dan Al-Quran telah Kami pisah-pisahkan (yaitu diturunkan secara berangsur-angsur) supaya engkau wahai Muhammad membacakannya atas manusia pada beberapa waktu dan sungguh Kami telah benar-benar menurunkannya secara bertahap.” (Al-Isra : 106)

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآَنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا 

“Dan berkata orang-orang kafir seandainya diturunkan kepadanya Al-Quran dengan sekali turun, demikianlah supaya Kami tetapkan hatimu dengannya dan Kami telah menjelaskan Al-Quran dengan perlahan.” (Al-Furqan : 32)

Dan diantara keistimewaan Al-Quran,

1. Al-Quran adalah Muhaymin bagi kitab-kitab sebelumnya

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab dengan haq yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan muhaymin kitab-kitab sebelumnya.” (Al-Maidah : 48)

Yang dimaksud dengan muhaymin adalah yang menjadi saksi, yang menghukumi, yang mengemban amanat, Maksudnya apa yang sesuai dengannya berarti benar dan menyelisihinya berarti salah,

Diantara keistimewaan Al-Quran,

1. Bahwasanya Al-Quran diturunkan agar menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan jin dan bukan untuk bangsa tertentu saja

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً 

“Sungguh berbarakah Zat yang telah menurunkan Al-Furqan (yaitu Al-Quran) kepada hambanya supaya memberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqan: 1)

Seandainya seorang Nabi yang diutus kepada kaum tertentu hidup di zaman Nabi Muhammad ﷺ niscaya dia diharuskan mengikuti Al-Quran dan mengikuti syari’at Nabi Muhammad ﷺ, Beliau ﷺ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتْبَعَنِي‏ 

“Demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya Musa hidup niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikuti aku.” (Hadits Hasan Riwayat Imam Ahmad)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.




Halaqah 15. Kitab Al Quran Bagian 1 - keistimewaan Alquran


 

Halaqah yang ke-15 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Kitab Al-Quran Bagian yang Pertama”.

Al-Quran secara bahasa adalah mashdar dari قَرَأَ, artinya جَمَعَ (yaitu mengumpulkan), Dinamakan demikian karena Al-Quran mengumpulkan kisah-kisah, perintah-perintah, larangan-larangan, pahala dan juga ancaman dan juga mengumpulkan ayat-ayat serta surat-surat satu dengan yang lain.

Adapun secara syari’at, maka Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ melalui Jibril ‘alayhissalam dan ditulis di dalam mushaf dari awal surat Al-Fatihah sampai akhir surat An-Naas.

Allah telah memberikan keistimewaan yang banyak terhadap Al-Quran yang tidak dimiliki kitab-kitab sebelumnya, diantaranya:

1. Al-Quran wajib di imani secara terperinci

Yaitu dengan

–  Dibenarkan kabar-kabarnya.

–  Dilaksanakannya perintah perintahnya.

–  Dijauhi larangan-larangannya.

–  Dilaksanakan nasehatnya.

–  Berhukum dengan Al-Quran di dalam perkara yang kecil maupun yang besar.

– Dan beribadah kepada Allah dengan cara yang tercantum di dalamnya dan di dalam sunnah Rasul-Nya ﷺ

2. Al-Quran adalah mu’jizat yang abadi

Seandainya seluruh ahli bahasa bersatu untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran, niscaya mereka tidak akan mampu, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآَنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيراً 

“Katakanlah: Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang semisal dengan Al-Quran niscaya mereka tidak bisa mendatangkan yang semisalnya meskipun sebagian membantu sebagian yang lain.” (Al-Isra : 88)

Dan di dalam hadits Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلّاَ أُعْطِيَ مَا مِثْلهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُهُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَة 

“Tidak ada seorang Nabi kecuali diberi ayat-ayat (yaitu tanda-tanda) kekuasan Allah atau mu’jizat yang seharusnya beriman dengannya manusia. Dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku (yaitu Al-Quran) maka aku berharap menjadi orang yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Diantara keistimewaan Al-Quran,

3. Allah telah berjanji untuk menjaganya dari pengubahan, baik lafazh maupun maknanya.

Dijaga lafazhnya sehingga tidak bisa ditambah dan tidak dikurangi, dan dijaga maknanya dari makna-makna yang menyimpang, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Adz-Dzikr (yaitu Al-Quran) dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya.” (Al-Hijr: 9)

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ 

“Al-Quran tidak didatangi kebathilan, baik dari depan maupun dari belakang, diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana Lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat : 42)

Oleh karena itu, Allah menyiapkan di sana,  Orang-orang yang menghafal Al-Quran, Para ulama yang menerangkan pemahaman yang benar tentang ayat-ayat Al-Quran dari masa ke masa, dari zaman Nabi ﷺ sampai zaman kita dan sampai Allah mengangkat Al-Quran di akhir zaman

Mereka menghafal dan memahami maknanya dan istiqamah di dalam mengamalkannya, mengkhidmah Al-Quran dengan berbagai cara;

Ada yang menulis tafsirnya baik yang singkat maupun yang panjang lebar,  Ada yang mengarang tentang cara penulisannya, tentang cara membacanya, tentang i’rabnya, dan lain-lain.

itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.




Halaqah 14. Kitab Al Injil Bagian 3


 

Halaqah yang ke-14 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Kitab Al-Injil Bagian yang Ketiga”.

Diantara kesalahan yang ada di dalam Injil yang tersebar sekarang adalah penyebutan nasab Nabi ‘Isa ‘Alayhissalam kepada laki-laki.

Sebagaimana didalam Injil Matius pasal 1 ayat 1-17, dan di dalam Injil Lukas pasal 3 ayat 23-38

Padahal Allah telah mengabarkan di dalam Al-Quran bahwa Nabi ‘Isa ‘alayhissalam lahir dari Seorang wanita tanpa disentuh laki-laki, Seorang wanita yang shalihah, bukan wanita pezina,  dan Bukan wanita yang bersuami Sebagai  kekuasaan Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَقْضِيًّا

“Maryam berkata, “Bagaimana aku memiliki anak laki-laki, padahal tidak ada laki-laki yang menyentuhku dan aku bukan wanita pezina” Jibril berkata “Demikianlah dikatakan oleh Rabbmu” Dia berkata, “Yang demikian mudah bagiKu dan supaya Kami jadikan dia (yaitu ‘Isa) sebagai tanda kekuasaan Kami bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami. Dan itu adalah perkara yang sudah diputuskan” (Maryam : 20-21)

Oleh karena itu, Allah menyebutkan di dalam Al Quran:

‘Isa Bin Maryam, Sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah 87 dan juga yang lain, atau Allah Menyebutkan,

Al Masih Bin Maryam, Sebagaimana dalam Surat Al-Maidah ayat 17 dan juga yang lain. atau Allah Menyebutkan,

Al Masih ‘Isa Bin Maryam, Sebagaimana dalam Surat Ali ‘Imran ayat 45 dan juga yang lain.

Apa yang tertulis di dalam Injil yang sekarang justru membenarkan aqidah orang Yahudi yang mengatakan bahwa Nabi ‘Isa adalah anak zina.

Dan di sana ada perbedaan antara nasab ‘Isa didalam Injil Matius dan Injil Lukas;

Di dalam Injil Matius disebutkan bahwa Nabi ‘Isa adalah:

Anak Yusuf bin Ya’qub bin Matan bin Ilyazar dan seterusnya, dan beliau termasuk keturunan Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alayhimassalam.

Adapun di dalam Injil Lukas disebutkan bahwa beliau adalah:

Anak Yusuf bin Eli bin Matat bin Lewi dan seterusnya. dan termasuk keturunan Natan bin Dawud ‘alayhissalam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya



Halaqah 13. Kitab Al-Injil Bagian 2



Halaqah yang ke-13 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allah adalah tentang “Kitab Al-Injil Bagian yang Kedua”.

Diantara kabar yang kita ketahui tentang Al-Injil di dalam Al-Quran dan juga hadits-hadits Nabi ﷺ

3. Tentang sebagian yang terkandung di dalam Al-Injil

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyebutkan diantara kandungan Kitab Injil adalah:

Kabar Gembira Tentang Kedatangan Nabi Muhammad ﷺ, Sebagaimana dalam Al-A’raf: 157,

Demikian pula, Penyebutan Sebagian Sifat Shahabat Rasulullah ﷺ, Sebagaimana dalam Al-Fath: 29,

Dan Allāh juga menyebutkan di dalamnya bahwa Allah Membeli Jiwa dan Harta Orang Yang Beriman dengan Surga, Sebagaimana di dalam surat At-Taubah: 111

Dan diantara kabar yang kita ketahui tentang Kitab Injil di dalam Al-Quran dan Al-Hadits

4. Diturunkan Kitab Injīl malam tanggal 14 Ramadhan.

Rasulullāh ﷺ bersabda:

وأنزلت التوراة لست مضين من رمضان وأنزل الانجيل لثلاث عشرة مضت من رمضان

“Dan Taurat diturunkan setelah 6 hari berlalu di bulan Ramadhan (yaitu malam tanggal 7) dan Injil diturunkan setelah 13 hari berlalu di bulan Ramadhān (yaitu malam tanggal 14).” (HR Ath-Thabraniy di dalam Al-Mu’jamul Kabir dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albaniy rahimahullah)

Perlu diketahui bahwa Al-Injil yang ada sekarang bukanlah Injil yang asli yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alayhissalam.

Al-Injil yang Allah turunkan kepada Nabi ‘Isa tidak diketahui bekasnya, yang ada hanyalah tulisan orang-orang yang tidak jelas riwayat hidupnya dan tidak ada sanad yang shahih, yang mereka hidup berpuluh-puluh tahun setelah Nabi ‘Isa diangkat oleh Allah, sehingga banyak kesalahan dan perbedaan yang banyak sekali antara Injil-injil tersebut.

Oleh karena itu mereka menamakan Injil-injil tersebut dengan nama nama penulisnya;

• Injil Mathius

• Injil Markus

• Injil Lukas

• Injil Yohana

• Dan lain-lain.

Dan mereka tidak mengatakan bahwa itu Injil dari ‘Isa ‘alayhissalam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



Halaqah 12. Kitab Al-Injil Bagian 1



Halaqah yang ke-12 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allah adalah tentang “Kitab Al-Injil Bagian yang Pertama”.

Ada yang mengatakan bahwa kata Al-Injil berasal dari bahasa Yunani yang artinya kabar gembira. diantara kabar yang kita ketahui tentang Al-Injil didalam Alquran dan Al Hadits :

1. Al-Injil diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alayhissalam

Allah berfirman :

ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ…

“Kemudian Kami susulkan setelah mereka yaitu Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim Rasul-rasul Kami dan kami susulkan pula ‘Isa Putra Maryam dan Kami berikan Injil kepadanya… ” (Al-Hadid : 27)

2. Al-Injil diturunkan untuk membenarkan At Taurat mengikutinya dan tidak menyelisihinya.

Allah berfirman :

وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ

”Dan Kami susulkan setelah mereka dengan ‘Isa putra Maryam yang membenarkan apa yang datang sebelumnya berupa kitab Taurat dan Kami berikan Injil kepadanya didalamnya ada petunjuk dan cahaya dan Injil tersebut datang untuk membenarkan kitab yang datang sebelumnya yaitu kitab Taurat dan petunjuk serta nasehat bagi orang-orang yang bertaqwa ” (Al-Maidah : 46)

Kitab Injil isinya mengikuti isi Taurat kecuali dalam beberapa hukum yang sedikit.

Allah berfirman menceritakan ucapan Nabi ‘Isa kepada Bani Israil :

وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ ۚ

”Dan Aku membenarkan kitab yang datang sebelumku yaitu Taurat dan aku menghalalkan sebagian dari apa yang sebelumnya diharamkan atas kalian” (Surat Al ‘Imran : 50)

Berkata Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini :

ولهذا كان المشهور من قولي العلماء أن الإنجيل نسخ بعض أحكام التوراة

“Oleh karena itu yang masyhur dari dua Pendapat ulama bahwa injil menghapuskan sebagian hukum-hukum Taurāt ”

Datang di Perjanjian Baru Injil Matheus pasal 5 ayat 17-19 yang menguatkan hal ini disebutkan didalamnya bahwa Nabi ‘Isa berkata :

”Janganlah kamu menyangka bahwa aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para Nabi, aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya karena aku berkata kepadamu sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini satu huruf atau satu titik pun tidak akan di tiadakan dari hukum Taurat sebelum semuanya terjadi, karena itu siapa yg meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah didalam kerajaan Surga ”

Oleh karena itu Nabi ‘Isa berkhitan sebagaimana dalam Perjanjian Baru Injil Lukas pasal 2 ayat 21, yang demikian karena beliau ‘alayhissalam mengikuti syariat Nabi Musa ‘alayhissalam sebagaimana disebutkan di dalam perjanjian lama kejadian pasal 17 ayat 9-14.

Adapun Paulus dia telah merusak ajaran Nabi Musa dan Nabi ‘Isa dan membatalkan hukum sunat dan mengatakan “bahwa sunat adalah sunat dalam hati” sebagaimana dalam Perjanjian Baru Roma pasal II ayat 28-29

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.




Oleh karena itu Nabi ‘Isa berkhitan sebagaimana dalam Perjanjian Baru Injil Lukas pasal 2 ayat 21, yang demikian karena beliau ‘alayhissalam mengikuti syariat Nabi Musa ‘alayhissalam sebagaimana disebutkan di dalam perjanjian lama kejadian pasal 17 ayat 9-14.

Adapun Paulus dia telah merusak ajaran Nabi Musa dan Nabi ‘Isa dan membatalkan hukum sunat dan mengatakan “bahwa sunat adalah sunat dalam hati” sebagaimana dalam Perjanjian Baru Roma pasal II ayat 28-29

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.




Halaqah 11. Kitab At Taurah Bagian 4



Halaqah yang ke-11 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allah adalah tentang “Kitab At-Taurah (Bagian 4)”.


Diantara yang menunjukkan Taurat sudah mengalami perubahan, bahwasanya Taurat yang sekarang yang dinamakan oleh orang Nashrani dengan perjanjian lama didalamnya ada perkara perkara yang bertentangan dengan Al-Quran.


Diantaranya :

1. Menyifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak baginya. 

Diantaranya mereka Menyifati Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Dengan rasa letih,  Didalam Perjanjian Lama keluaran pasal 31 ayat 17, disebutkan didalamnya sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan Langit dan Bumi dan pada hari yang ke-7 Ia berhenti bekerja untuk beristirahat dan Allah telah membantah ucapan mereka ini didalam firman-Nya :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ

“Dan sungguh Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari dan Kami tidak tertimpa rasa letih” (Qaaf : 38)


Dengan mereka juga menyifati Allah dengan sifat penyesalan, didalam keluaran pasal ke-32 ayat ke-14 disebutkan

“Dan menyesalah Tuhan karena malapetaka yang dirancangNya atas umatNya”

Padahal sifat penyesalan hanya timbul dari zat yang tidak mengetahui akibat sesuatu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang sudah berlalu maupun yg akan datang, 


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Berfirman :

… ۗ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Anfal : 75)

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Berfirman :

… ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ..

“Dia Mengetahui apa yang didepan mereka yaitu apa yang telah berlalu dan apa yang dibelakang mereka yaitu apa yang akan datang ” (Al-Baqarah : 255)



Diantara perkara-perkara yang bertentangan dengan Al-Quran yang ada didalam Perjanjian Lama,

2. Mereka menyifati beberapa orang Nabi dengan sifat yang tidak layak.


Diantaranya, bahwa Nabi Nuh ‘alayhissalam pernah mabuk dan telanjang, didalam Perjanjian Lama kejadian pasal ke-9 ayat 20-21 disebutkan

“Nuh menjadi petani dialah yang mula-mula membuat kebun anggur setelah ia minum anggur mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya”

Mereka juga menyebutkan bahwa Nabi Luth ‘alayhissalam berzina dengan dua orang anak wanitanya sampai keduanya hamil dan melahirkan, sebagaimana disebutkan kisah nya didalam kejadian pasal ke-19 ayat 30-38, padahal para Nabi dan Rasul adalah maksum terjaga dari dosa-dosa besar mereka adalah manusia pilihan Allah yang kita diperintahkan untuk meneladani mereka, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Allah memilih utusan-utusan dari kalangan Malaikat dan dari kalangan manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat ” (Surat Al-Hajj : 75)


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى juga berfirman :

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ ۗ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْعَالَمِينَ

”Mereka (para Nabi) adalah orang-orang yang telah Allah berikan petunjuk maka dengan petunjuk mereka hendaklah engkau meneladani ” (Al-An’am : 90)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



Halaqah 10. Kitab At-Taurah Bagian 3.


 

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allah adalah tentang “Kitab At-Taurah (Bagian 3)”.

Dan diantara kabar yang kita ketahui tentang Kitab Taurat di dalam Al-Quran dan Al-Hadits,

Ke-5 : Bahwasanya Kitab Taurat adalah kitab yang Allah turunkan khusus untuk Bani Israil.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ

“Dan Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab (yaitu Taurat) dan Kami jadikan kitab tersebut sebagai petunjuk bagi Bani Isrāīl.” (Surat Al-Isrā: 2)

Ke-6 Bahwasanya Kitab Taurat diturunkan dengan bahasa ‘Ibrani.

Berkata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

كان أهل الكتاب يقرؤون التوراة بالعبرانية ويفسرونها بالعربية لأهل الإسلام

“Dahulu Ahlul Kitab (yaitu orang-orang Yahudi) membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab untuk orang-orang Islam.” (Atsar ini dikeluarkan oleh Al-Imām Al-Bukhāri di dalam Shahīhnya)

Ke-7 : Sebagian Kitab Taurat telah diubah oleh orang-orang Yahudi dan disesuaikan dengan hawa nafsu mereka.

Sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ 

“Maka sungguh kecelakaan bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan-tangan mereka kemudian berkata, ‘Ini adalah dari sisi Allah untuk menjualnya dengan harga murah. Maka kecelakaan bagi mereka karena apa yang ditulis tangan-tangan mereka dan kecelakaan bagi mereka karena apa yang mereka usahakan.” (Surat Al-Baqarah: 79)

Dan sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan sungguh diantara mereka ada sekelompok orang yang membolak-balik lisan-lisan mereka dengan Al-Kitab supaya mereka kalian menyangka bahwa itu adalah Al-Kitab dan mereka berkata, Ini adalah dari sisi Allah padahal itu bukan dari sisi Allāh dan mereka mengatakan kedustaan atas nama Allāh padahal mereka mengetahui.” (Surat Ali ‘Imran: 78)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.


Halaqah 9. Kitab At-Taurah Bagian 2.



Halaqah yang ke-9 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allah adalah tentang “Kitab At-Taurah (Bagian 2)”.

Diantara kabar yang kita ketahui tentang Kitab Taurat di dalam Al-Quran dan Al-Hadits,

Ke-3 : Bahwasanya Allah telah menulis At-Taurah dengan tangan-Nya.

Di dalam sebagian riwayat dari kisah percakapan antara Nabi Adam dan Musa ‘alayhimassalam, Nabi Adam berkata kepada Musā:

وخَطَّ لك التوراة بيده

“Dan Dialah yang telah menulis untukmu At-Taurah dengan tangan-Nya.” (HR Abū Dāwūd, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albaniy rahimahullah)

Diantara kabar yang kita ketahui tentang Taurat adalah,

Ke-4 : Sebagian yang terkandung di dalam kitab ini.

Dan diantara kandungan Taurat:

1. Beberapa perkara yang terkandung didalam shuhuf ibrahim alayhissalam 

Sebagaimana telah berlalu penjelasannya, Ini bagi yang berpendapat bahwa Shuhuf Musa adalah Taurat.

2. Hukum hukum untuk bani israil 

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا 

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat, di dalamnya ada petunjuk dan cahaya yang dengan kitab tersebut para Nabi yang berserah diri memberi keputusan atau menghukumi untuk orang-orang Yahudi.” (Surat Al-Maidah : 44)

Kemudian di dalam ayat setelahnya, Allah mengabarkan sebagian hukum-hukum tersebut yaitu tentang Hukum Qishash.

Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ ۚ

“Dan Kami tetapkan bagi mereka dalam Taurat bahwa jiwa dibalas dengan jiwa, mata dibalas dengan mata, hidung dibalas dengan hidung, telinga dibalas dengan telinga, gigi dibalas dengan gigi dan luka-lukapun ada qishashnya. Maka barangsiapa bershadaqah dengannya (yaitu dengan melepas hak qishashnya) maka itu menjadi penebus dosa baginya.” (Surat Al-Māidah : 45)

Dan diantara kandungan At-Taurah,

1. Kabar gembira tentang kedatangan Nabi muhammad ﷺ

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ

“Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul lagi Nabi yang ummi, (yaitu tidak membaca dan tidak menulis) yang namanya mereka temukan tertulis di sisi mereka di dalam Taurat dan Injil.” (Surat Al-A’raf : 157)

Diantara kandungan Taurat adalah tentang,

1. Penyebutan sebagian sifat shahabat Rasulullah ﷺ

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

مُحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ 

“Muhammad adalah Rasulullah, dan orang-orang yang bersamanya (yaitu para shahabat) keras terhadap orang-orang kafir, saling menyayangi di antara mereka. Engkau melihat mereka ruku’ lagi sujud mencari karunia dan keridhaan dari Rabb mereka. Tanda mereka ada di wajah-wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka di dalam Taurat dan sifat-sifat mereka di dalam Injil.”(Surat Al-Fath : 29)

Diantara kandungan Taurat,

1. Bahwasanya Allah membeli jiwa dan harta orang orang yang beriman dengan surga

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ 

“Sesungguhnya Allāh telah membeli dari orang-orang yang beriman diri-diri mereka dan harta-harta mereka dengan surga. Mereka berperang di jalan Allah kemudian mereka membunuh dan dibunuh. Janji Allah yang haq di dalam Taurāt, Injil dan Al-Quran. Dan siapa yang lebih menyempurnakan janji daripada Allah? Maka hendaklah kalian bergembira dengan jual beli yang kalian lakukan, yang demikian adalah keuntungan yang besar.” (Surat At-Taubah : 111)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



 

Halaqah 8. Kitab At-Taurah Bagian 1


 

Halaqah yang ke-8 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allah adalah tentang “Kitab At-Taurah Bagian yang Pertama”.


At-Tauratu (التَّوْرَاةُ) berasal dari bahasa Ibrani yang artinya ajaran.


Diantara kabar yang kita ketahui tentang Taurat di dalam Al-Quran dan Al-Hadits:


Pertama : Kitab Taurat/At-Taurah ini diturunkan kepada Nabi Musa ‘alayhissalam, Allah berfirman:


وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ ۖ


“Dan sungguh Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab (Kitab Taurat) dan Kami susulkan setelahnya dengan Rasul-rasul.” (Surat Al-Baqarah: 87)


Rasulullah ﷺ  bersabda:


الْتَقَى آدَمُ وَمُوسَى ، فَقَالَ مُوسَى لآدَمَ : آنْتَ الَّذِي أَشْقَيْتَ النَّاسَ ، وَأَخْرَجْتَهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ ، َقَالَ آدَمُ لِمُوسَى : أَنْتَ مُوسَى الَّذِي اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ ، وَاصْطَفَاكَ لِنَفْسِهِ ، وَأَنْزَلَ عَلَيْكَ التَّوْرَاةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ ،


“Bertemu Adam dan Musa, maka berkata Musa kepada Adam, Apakah engkau adalah Adam yang telah menyengsarakan manusia dan mengeluarkan mereka dari surga? Adam berkata, apakah engkau adalah Musā yang Allah telah memilihmu dengan risalah-Nya dan memilihmu untuk diri-Nya dan menurunkan kepadamu Kitab Taurat? Mūsā berkata, ‘Ya’.” (HR Bukhāri dan Muslim)


Ke-2 :Disana ada beberapa kata di dalam Al-Quran yang Allh gunakan untuk kitab Taurat ini.


1. At-Taurah


Dan ini yang paling banyak Allah pakai di dalam Al-Quran.


Diantaranya, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:


نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ


“Dia telah menurunkan atasmu Al-Kitab (yaitu Al-Quran) dengan benar, membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan Dialah yang telah menurunkan Taurat dan Injil.” (Surat Āli ‘Imrān: 3)


Diantara nama lain Taurat adalah:


2. Al-Kitab


Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:


وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ ۖ


“Dan sungguh Kami telah berikan kepada Musa Kitab (yaitu Taurat) dan Kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul.” (Surat Al-Baqarah: 87)


3. Al-Furqan


Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:


وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِّلْمُتَّقِينَ


“Dan sungguh Kami telah berikan kepada Musa dan Hārūn Al-Furqan (yaitu Taurat) dan cahaya serta peringatan bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Surat Al-Anbiyā: 48)


4. Kitab Musa


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:


وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَامًا وَرَحْمَةً


“Dan sebelum Al-Quran adalah kitab Musā sebagai imam dan rahmat.” (Surat Al-Ahqāf: 12)


Diantara nama lain dari At-Taurāh adalah:



5. Al-Alwah


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:


وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الأَلْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلاً لِكُلِّ شَيْءٍ


“Dan Kami telah menulis untuknya (yaitu untuk Musa) di dalam Al-Alwah (yaitu Taurat) segala sesuatu sebagai nasihat dan perincian untuk segala sesuatu.” (Surat Al-A’rāf: 145)


Dan di dalam sebuah riwayat yang lain di dalam Shahih Muslim dari kisah percakapan antara Nabi Adam dengan Musa ‘alayhimassalam.


Nabi Adam berkata kepada Musa:


وأعطاك الألواح فيها بيان كل شيء


“Dan Allah memberimu Al-Alwah, di dalamnya penjelasan segala sesuatu.”


6. Shuhuf Musa


Menurut sebagian ulama yang berpendapat bahwa Shuhuf Musa adalah Taurat.


Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.




Halaqah 07. Shuhuf Mūsā dan Kitab Az-Zabūr



Halaqah yang ke-7 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Shuhuf Mūsā dan Kitab Az-Zabūr”.


Allāh menyebutkan Shuhuf Mūsā dan sebagian isinya di dalam Surat Al-A’la dan An-Najm, sebagaimana telah disebutkan ayat-ayatnya di dalam halaqah sebelumnya.


Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa Shuhuf Mūsā berbeda dengan At-Taurāt, diantaranya adalah Syaikh Shālih Alu Syaikh hafizhahullāh.


Dan sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa Shuhuf Mūsā adalah bagian dari Kitab At-Taurāt, seperti Syaikh ‘Abdurrazzāq Afifiy rahimahullāh.


Dan sebagian yang lain mengatakan bahwa Shuhuf Mūsā sama dengan kitab At-Taurāt, diantaranya adalah Syaikh Shālih Fawzān hafizhahullāh.


Wallāhu a’lam, mana diantara pendapat-pendapat ini yang lebih kuat.


Namun seorang yang beriman wajib beriman secara global dengan semua kitab yang Allāh turunkan kepada para RasulNya.


Az-Zabur, maka kalimat Az-Zabūr, secara bahasa artinya adalah kitāb, jamaknya adalah Az-Zubur. Allāh berfirman:


وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ


“Dan segala yang mereka lakukan tertulis di dalam Az-Zubur.” (QS Al-Qamr : 52)


Maksudnya adalah semuanya tertulis di dalam kitab-kitab yang ada di tangan malaikat.


Yang kita ketahui tentang Az-Zabūr bahwasanya, Kitab ini diturunkan kepada Nabi Dāwūd ‘alayhissalām, Sebagaimana firman Allāh di dalam surat An-Nisā dan Al-Isrā 


وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً 


“Dan Kami telah berikan kepada Dāwūd kitab Zabūr.”  (An-Nisā : 163 dan Al-Isrā : 55)



Rasūlullāh ﷺ bersabda:


أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ ؛ السَّبْعَ وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ ؛ الْمَئِينَ ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ ؛ الْمَثَانِيَ ، وَفُضِّلْتُ ؛ بِالْمُفَصَّلِ


“Aku telah diberi As-Sab’u yang sebanding dengan kitab Taurāt. 

Dan aku diberi Al-Maīn yang sebanding dengan kitab Az-Zabūr. 

Dan aku diberi Al-Matsāniy yang sebanding dengan kitab Al-Injīl. 

Dan aku dikaruniai kelebihan dengan Al-Mufashshal.” (HR Ahmad dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albāniy rahimahullāh)


Yang dimaksud dengan As-Sab’u, Al-Maīn, Al-Matsāniy dan Al-Mufashshal adalah nama kumpulan surat yang ada di dalam Al-Qurān.


Az-Zabūr diturunkan di bulan Ramadhān, Rasūlullāh ﷺ bersabda:


وأنزل الزبور لثمان عشرة خلت من رمضان


“Dan diturunkan Az-Zabūr setelah berlalu 18 hari di bulan Ramadhān.” (HR Ath-Thabrāniy di dalam Al-Mu’jamul Kabīr dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albāniy rahimahullāh)


Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



Halaqah 06. Shuhuf Ibrāhīm.



Halaqah yang ke-6 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Kitab-kitab Allāh adalah tentang “Shuhuf Ibrāhīm”.


Shuhuf adalah jama’ dari shahīfah (صَحِيْفَةٌ) artinya adalah sesuatu yang digunakan untuk menulis di dalamnya.


1. Shuhuf Ibrāhīm adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Ibrāhīm ‘alayhissalām.


Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:


صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى 


“(Yaitu) Shuhufnya Ibrāhīm dan Mūsā.” (QS Al-A’lā: 19)


Dan Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى juga berfirman:


أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَى (٣٦) وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى (٣٧


“Apakah dia belum dikabarkan dengan apa yang ada dalam Shuhuf Mūsā dan juga Ibrāhīm yang telah menyempurnakan.” (QS An-Najm: 36-37)


Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah mengisyaratkan Shuhuf Ibrāhīm ini di dalam firmanNya:


قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ


“Katakanlah oleh kalian; Kami beriman dengan Allāh dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrāhīm.” (QS Al-Baqarah: 136)


2. Shuhuf Ibrāhīm diturunkan di malam pertama di bulan Ramadhān.


Rasūlullāh ﷺ bersabda:


أنزلت صحف إبراهيم عليه السلام في أول ليلة من رمضان 


“Telah diturunkan Shuhuf Ibrāhīm ‘alayhissalām pada malam yang pertama di bulan Ramadhān.” (HR Ahmad dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albāniy rahimahullāh)

 

⇒ Shuhuf ini tidak diketahui keberadaannya, namun diketahui sebagian kandungannya.


Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:


أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَى (٣٦) وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى (٣٧) أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (٣٨) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (٣٩) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى (٤٠) ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى (٤١) وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى (٤٢) وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى (٤٣) وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا (٤٤) وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى (٤٥) مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى (٤٦) وَأَنَّ عَلَيْهِ النَّشْأَةَ الْأُخْرَى (٤٧) وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَى وَأَقْنَى (٤٨) وَأَنَّهُ هُوَ رَبُّ الشِّعْرَى (٤٩) وَأَنَّهُ أَهْلَكَ عَادًا الْأُولَى (٥٠) وَثَمُودَ فَمَا أَبْقَى (٥١) وَقَوْمَ نُوحٍ مِنْ قَبْلُ إِنَّهُمْ كَانُوا هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَى (٥٢) وَالْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَى (٥٣) فَغَشَّاهَا مَا غَشَّى (٥٤


“Apakah belum dikabarkan kepadanya tentang apa yang ada di dalam Shuhuf Mūsa dan Ibrāhīm yang telah menyempurnakan? Yaitu bahwasanya :

sebuah jiwa tidak menanggung dosa jiwa yang lain. 

Dan bahwasanya seorang manusia tidak memiliki kecuali apa yang dia usahakan. 

Dan bahwasanya usaha dia akan diperlihatkan kepadanya. 

Kemudian dibalas dengan balasan yang paling sempurna. 

Dan bahwasanya hanya kepada Rabbmu kesudahan. 

Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis. 

Dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan. 

Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan wanita dari air mani yang dipancarkan. 

Dan bahwasanya atas-Nyalah penciptaan yang lain yaitu kebangkitan. 

Dan bahwasanya Dia yang memberikan kecukupan dan menjadikan ridha. 

Dan bahwasanya Dia adalah Rabb bagi Asy-Syi’ra (yaitu nama sebuah bintang yang disembah). Dan bahwasanya Dialah yang menghancurkan kaum ‘Ād yang pertama. Demikian pula Tsamūd. Maka Dia tidak menyisakan. Dan juga kaum Nūh sebelumnya. Sesungguhnya dahulu mereka lebih zhalim dan lebih durhaka. Dan negeri-negeri kaum Lūth yang telah Allāh hancurkan. Maka Allāh menimpakan atas negeri itu adzab besar yang menimpanya.” (QS An-Najm: 36-54)


Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى juga berfirman:


قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (١٤) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (١٥) بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (١٦) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (١٧) إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى (٨) صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى (١٩)


“Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwa dan mengingat nama Rabbnya kemudian shalat. Akan tetapi kalian mendahulukan kehidupan dunia 

Dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya yang demikian ada di dalam Shuhuf yang terdahulu, yaitu Shuhuf Ibrāhīm dan Mūsa.” (QS Al-A’lā: 14-19)


Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



Halaqah 20. Penjelasan Pokok Kelima Bagian 3

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlul As-Sittah (6 Kaidah), sebuah kitāb yang dikarang oleh Syaikh Muhammad...