Tampilkan postingan dengan label 11. Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Takdir Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 11. Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Takdir Allah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2022

Halaqah 25. Buah Beriman Dengan Takdir Allah Bagian yang Ketiga



Halaqah yang Ke-25 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir dengan Allah adalah tentang Buah Beriman Dengan Takdir Allāh Bagian yang Ketiga


16. Berbaik sangka kepada Allāh ketika melihat dirinya diberi hidayah kepada tauhid, Sunnah dan ketaatan maka dia berbaik sangka kepada Allah, bahwa Allah menghendaki pada dirinya kebaikan dan ingin memudahkan dia masuk kedalam SurgaNya


17. Menimbulkan rasa takut didalam diri seorang hamba dari suul Khatimah, sehingga dia tidak tertipu dengan amal sholeh nya karena dia tidak tau dengan apa Allah akan menakdirkan akhir amalannya


18. Menimbulkan sifat tidak suka merendahkan orang lain dan menghinakan orang lain yang terjerumus kedalam kemaksiatan karena dia tidak tau dengan apa Allah akan menakdirkan akhir dari amalan orang tersebut


19. Memerdekakan akal dan diri dari khurafat dan tathayyur dan dia meyakini bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari takdir Allah. Tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah dan tidak ada yg menolak kejelekan kecuali Allah


20. Menjadikan seseorang rendah hati dan tidak sombong ketika diberikan rezeki oleh Allah baik berupa harta, kedudukan maupun ilmu dan lain-lain, karena ini semua datang dari Allah dan dengan takdir Allah dan kalau Allah menghendaki Allah akan mengambilnya dari kita sewaktu-waktu


21. Membawa ketenangan didalam hati dan ketentraman jiwa karena ketika musibah dia merasa itu yg terbaik dan pasti ada hikmahnya dan dia mengetahui bahwa orang yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya sehingga dia tidak cemas dan gelisah dan tidak berangan-angan dan berandai-andai 


Akhirnya semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menjadikan kita termasuk orang yang beriman dengan takdir Allah yang baik maupun yang buruk dan semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan karunia kepada kita semua sehingga kita bisa merasakan buah buah yang baik dari beriman dengan takdir dan sesungguhnya Allāh mengabulkan doa. 


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ


Demikianlah yang bisa saya sampaikan didalam Silsilah Beriman Dengan Takdir Allah dansampai bertemu kembali pada Silsilah Ilmiah selanjutnya yaitu "Silsilah Sirah Nabawiyyah"



Halaqah 24. Buah Beriman Dengan Takdir Allah Bagian yang Kedua



Halaqah yang Ke-24 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allah adalah tentang Buah Beriman Dengan Takdir Allah Bagian yang Kedua


9. Membuahkan semangat yang tinggi didalam melakukan kebaikan yang berkaitan dengan agama


seperti ibadah, menuntut ilmu, berdakwah dan lain-lain, orang yang beriman dengan takdir Allah tidak takut celaan orang yang mencela ketika berdakwah, tidak terlalu hancur hatinya ketika melihat orang yang tidak menerima dakwahnya dan dia tidak pamer atau bangga diri ketika mendapatkan orang yang mendapatkan hidayah dengan sebab dirinya karena semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah عَزَّ وَ جَلَّى


10. Membuahkan semangat yang tinggi didalam berbuat kebaikan yang berkaitan dengan dunia


seperti bekerja yang halal, melakukan aktivitas yang diperbolehkan dan bermanfaat dan lain-lain dia tidak mudah menyesal dan berputus asa ketika menghadapi musibah yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut


11. Membuahkan ridha terhadap hukum-hukum Allah baik yang berupa hukum-hukum syariat, maupun hukum-hukum Kauniyyah


12. Membuahkan kebahagiaan dan menghilangkan kesedihan karena dia mengetahui dan yakin bahwa Allah memilih yang terbaik baginya didalam urusan dunia, agama dan akhir dari perkaranya.


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


… ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ


“Dan mungkin saja kalian membenci sesuatu dan dia adalah baik bagi kalian dan mungkin saja kalian mencintai sesuatu dan dia adalah jelek bagi kalian dan Allah Dia-lah yang mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui” (Surat Al-Baqarah : 216)


13. Membuahkan keistiqamahan di atas jalan yang lurus baik dalam keadaan mendapatkan nikmat atau tertimpa musibah, karena dia akan bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan akan bersabar ketika dia terkena musibah


14. Tidak putus asa dari pertolongan Allah bagaimana pun besarnya fitnah dan banyaknya ujian, karena dia yakin bahwa akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa dan ini adalah ketentuan Allah yang sudah Allah tentukan


Allah berfirman


هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا


“Dia-lah yang telah mengutus Rasul Nya dengan petunjuk agama yang benar untuk menampakkan agama tersebut diatas seluruh agama dan cukuplah Allah sebagai saksi” (Surat Al-Fath : 28)


Dan Allah mengatakan


إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ


“Sesungguhnya Kami akan menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan ketika bangkit para saksi” (Surat Ghafir : 51)


15.  Menjadikan didalam diri seorang hamba Qana'ah (merasa cukup) dengan pemberian Allah عَزَّ وَ جَلَّى tidak rakus terhadap dunia dan tidak meminta minta kepada orang lain, karena dia meyakini bahwa rezeki sudah tertulis dan tidak mungkin orang lain bisa menyampaikan kepadanya sebuah rezeki kecuali apa yang sudah Allah tulis sebelumnya. 


Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya. 



Halaqah 23. Buah Beriman Dengan Takdir Allāh Bagian yang Pertama



Halaqah yang Ke-23 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang Buah Beriman Dengan Takdir Allāh Bagian yang Pertama

Diantara buah beriman dengan takdir Allah عَزَّ وَ جَلَّى


1.  Beriman Dengan Takdir adalah sebab seseorang merasakan lezatnya iman,


Berkata Ubadah Ibnu Shamid kepada putranya 

يا بني! إنك لن تجد طعم الإيمان حتى تعلم أن ما أصابك لم يكن ليخطئك، وما أخطأك لم يكن ليصيبك،


Wahai anakku sesungguhnya engkau tidak akan merasakan lezatnya hakikat keimanan sampai engkau meyakini bahwa apa yang menimpamu tidak akan luput darimu dan apa yang luput darimu tidak akan menimpamu (diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majjah)


2. Membuahkan keberanian, keyakinan, tawakal dan bergantung hanya kepada Allah, karena dia meyakini bahwa tidak akan menimpa dia kecuali apa yang sudah Allah tulis,


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ


“Katakanlah tidak akan menimpa kami kecuali yang sudah Allah tentukan untuk kami, Dia-lah penolong kami dan hanya kepada Allah lah orang-orang yang beriman bertawakal” (Surat At-Taubah : 51)


3. Membuahkan akhlak yang mulia, seperti kedermawan, karena apabila seseorang mengetahui bahwa kekayaan dan kemiskinan dengan takdir Allah dia tidak akan takut berinfak fi sabilillah


4.  Membuahkan rasa syukur ketika mendapatkan nikmat, menyadarkan kenikmatan tersebut kepada Allah, karena Dia-lah yang mentakdirkan,


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ… 

“Dan nikmat apa saja yang ada pada kalian maka itu adalah dari Allah ” (Surat An-Nahl : 53)


5.  Membuahkan petunjuk dan kesabaran ketika mendapatkan musibah,


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Musibah apa saja yang menimpa baik dibumi maupun pada diri-diri kalian kecuali sudah ditulis di dalam sebuah kitab sebelum Kami menjadikannya, sesungguhnya yang demikian adalah sangat mudah bagi Allah”. (Surat Al-Hadid : 22)


6. Semakin kuat keimanan seseorang dengan takdir Allah maka akan semakin kuat tauhidnya, karena iman dengan takdir adalah bagian dari iman dengan Rububiyah Allah, yang konsekuensinya adalah tauhid Uluhiyyah


7. Membuahkan keikhlasan dan terjauh dari riya, karena orang yang beriman dengan takdir mengetahui bahwa Allah telah menentukan segalanya dan menyadari bahwa mencari pahala dari manusia tidak akan memberikan manfaat


8.  Menghilangkan rasa dengki antar sesama muslim karena dia menyadari bahwa rezeki sudah diatur dan dibagi oleh Allah dengan hikmah yang dalam lalu untuk apa seseorang dengki dan iri

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya. 



Halaqah 22. Aliran yang Menyimpang Didalam Hidayah Taufik dan Penyesatan


 

Halaqah yang Ke-22 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang Aliran yang Menyimpang Didalam Hidayah Taufik dan Penyesatan


Telah menyimpang didalam masalah ini 2 aliran Al-Qadariyyah dan Al-Jabariyyah,


 adapun Al Qadariyyah, mereka meyakini bahwa Allah bukanlah yang memberikan hidayah taufik dan Allah bukanlah yang menyesatkan dan mereka mengatakan bahwa makna Allah memberikan hidayah yang datang didalam dalil seperti dalam firman Allah

… وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ… 

“Akan tetapi Allāh memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki” (Surat Al-Qashash : 56)

Adalah penamaan orang tersebut dengan orang yang mendapatkan hidayah dan mereka mengatakan bahwa maksud Allah menyesatkan seperti yang datang didalam firman Allah عَزَّ وَ جَلَّى

… ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ… ۚ

“Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki” (Surat Al-Muddatstsir : 31)

Adalah penamaan orang tersebut dengan orang yang sesat dan ini tentunya bertentangan dengan dalil-dalil yang telah berlalu yang menunjukkan bahwa Allah Dia-lah yang memberikan hidayah taufik dan Dialah yang menyesatkan


Demikian pula Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah menjadikan hidayah yang Allah berikan kepada seorang hamba sebagai karunia dan anugerah, sebagaimana firman Allah

… ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ.. 

“Akan tetapi Allah memberikan anugerah kepada kalian dengan memberikan hidayah kepada keimanan” (Surat Al-Hujurat : 17)


Seandainya maksud Allah memberikan hidayah adalah hanya penamaan pelakunya dengan orang yang mendapatkan hidayah maka ini tidak dinamakan dengan karunia dan anugerah


Karena seandainya ini adalah karunia atau anugerah, maka kita sebagai makhluk juga memberikan karunia dan anugerah sebab kitapun sebagai makhluk juga menamakan orang tersebut sebagai orang yang mendapatkan hidayah


Adapun Al-Jabariyyah maka mereka meyakini bahwa Allah memaksa mereka tidak memberikan mereka kehendak, tidak memberikan mereka kemampuan, menghalangi mereka dari sebab-sebab mendapatkan petunjuk dan ini juga bertentangan dengan dalil-dalil yang telah berlalu yang menunjukkan bahwa seorang hamba diberi kehendak dan kemampuan diberi kesempatan memilih dan ditunjukkan kepadanya jalan yang lurus

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



Halaqah 21. Hidayah Taufik dan Kesesatan menurut Ahlus Sunnah



Halaqah yang Ke-21 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang Hidayah Taufik dan Kesesatan menurut Ahlus Sunnah 


Hidayah terbagi menjadi dua 


1.  Hidayatul Irsyad, Yaitu Bimbingan dan arahan menuju jalan yang benar


Hidayah jenis ini dimiliki para Nabi dan orang-orang yang mengikuti para Nabi dari kalangan para dai, karena mereka membimbing dan mengarahkan manusia kepada jalan Allah. Allah berfirman


… ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ


“Dan sesungguhnya engkau sungguh-sungguh memberikan hidayah kepada jalan yang lurus” (Surat Asy-Syura  : 52)


Maksudnya adalah membimbing dan mengarahkan menuju jalan yang lurus


2.  Hidayatu Taufik


Yaitu pembukaan hati dan pelapangan dada untuk menerima kebenaran dan mengamalkannya., hidayah taufik Ini hanya dimiliki oleh Allah tidak dimiliki oleh Nabi dan dai, Allah berfirman


إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ


“Sesungguhnya engkau tidak memberikan kepada orang yang engkau cintai akan tetapi Allah lah yang memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia lebih mengetahui siapa orang yang mendapatkan petunjuk” (Surat Al-Qashash : 56)


Hidayah taufik Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki dan kesesatan juga Allah berikan kepada siapa yang dikehendaki, Allah berfirman


… ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ… 


“Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki dan memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki” (Al-Muddatstsir : 31)


Barangsiapa yang Allah berikan hidayah taufik tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang bisa memberikan hidayah, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ۚ… 


“Barangsiapa yang Allah sesat maka tidak akan ada yang memberikan hidayah” (Surat Al-A’raf 186)


Dan Allah berfirman


وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ ۗ… 


“Dan barangsiapa yang Allah berikan hidayah maka tidak akan ada yang bisa menyesatkan dirinya” (Surat Az-Zumar : 37)


Dan Rasulullah ﷺ bersabda


مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ


“Barangsiapa yang Allah berikan hidayah maka tidak ada yang menyesatkan dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang memberikan hidayah” (HR Muslim)


Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengan karunia Nya dan anugerah Nya dan Allah lebih mengetahui siapa diantara hamba Nya yang berhak untuk mendapatkan petunjuk dan Allah menyesatkan siapa yang Allah kehendaki dengan keadilan Nya dan Allah lebih tahu siapa yang berhak untuk disesatkan


Kesesatan tersebut adalah keadilan Allah bukan kedzhaliman Nya, karena Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah menegakkan hujjah atas hamba Nya memberikan kesempatan baginya untuk mengikuti petunjuk Allah, diberikan akal untuk berfikir dan memilih, diutus kepada seorang Rasul yang menjelaskan, diturunkan kepadanya kitab dan diperlukan kepadanya jalan yang lurus


Apabila dia adalah

orang yang hilang akalnya atau anak yang belum baligh atau orang yang tidur 

maka tidak ditulis amalannya. Rasulullah ﷺ bersabda


  رُفِعَ القلمُ عن ثلاثة، عَنِ النَّائمِ حتَّى يستَيقِظ ،و عنِ الصَّبيِّ حتَّى يَكْبرََ ، وعنِ المجنونِ حتَّى يعقل أو يفيق


“Diangkat pena dari tiga golongan dari orang yang tidur sampai dia bangun, dan dari anak kecil sampai dia baligh dan dari orang yang gila sampai dia berakal (sadar)” (Hadīts shahih An Nasaii & Ibn Majjah dari Aisyah radiallahu anha)


Orang yang belum sampai kepadanya risalah seorang Rasul maka tidak akan di azab, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


… ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا


“Dan Kami tidak akan mengadzab sampai Kami mengutus seorang Rasul” (Surat Al-Isra’ : 15)


Apabila sudah sampai kepada mereka petunjuk dan mereka tidak menerima serta tidak mengamalkan dan lebih memilih durhaka dan maksiat kepada Allah, maka Allah akan menyesatkan mereka dan ini adalah keadilan bukan kedzhaliman,


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّىٰ يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ


“Dan tidaklah Allah menyesatkan sebuah kaum setelah memberikan petunjuk kepada mereka sampai Allāh menjelaskan kepada mereka apa yang mereka taqwai, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Surat At-Taubah : 115)


Di dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwasanya Allah menyesatkan mereka setelah mereka tidak menerima petunjuk Allah yang sampai kepada mereka


Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.




 

Halaqah 20. Amalan Hamba atau Ikhtiariyah Menurut Ahlus Sunnah


 

Halaqah yang Ke-20 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah Amalan Hamba atau Ikhtiariyah Menurut Ahlus Sunnah




Amalan Hamba terbagi menjadi dua 


1. Amalan Hamba Idhthirariyyah yaitu Amalan hamba yang seorang hamba tidak bisa memilih seperti gerakan orang yang menggigil


2. Amalan hamba Ikhtiariyah yaitu amalan hamba yang seseorang bisa memilih seperti amalan-amalan ketaatan dan amalan-amalan kemaksiatan 


Ahlus Sunnah Wal Jamaah meyakini bahwa Allah yang menciptakan amalan mereka bukan mereka sendiri yang menciptakan amalan tersebut, sebagaimana keyakinan orang orang qadariyyah


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ


“Dan Allah yang Menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan” (Surat Ash-Shaffat : 96)


Dan Rasulullah ﷺ bersabda


 إنَّ اللهَ خالق كُلِّ صانِعٍ و صَنعَتِهِ 


“Sesungguhnya Allah yang menciptakan setiap pelaku dan apa yang dia lakukan” (Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Al Hakim didalam Al Mustadrak)


Dan Ahlus Sunnah meyakini bahwa para hamba merekalah pelaku dari apa yang mereka amalkan, Allah yang menciptakan keimanan dan kekafiran dan seorang hamba dialah yang beriman dan dialah yang kafir. Allah menciptakan ketaatan dan kemaksiatan dan hamba dialah yang taat dan dialah yang bermaksiat


Allah menciptakan shalat dan puasa dan hambalah yang melakukan shalat dan dialah yang melakukan puasa, bukan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang menjadi pelaku itu semua, sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Al Jabriyyah  Allah berfirman


فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


“Maka sebuah jiwa tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupaya hal-hal yang menyejukan mata mereka sebagai balasan atas apa yang mereka amalkan” (Surat As-Sajadah : 17)


Di dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa amal yang dilakukan para hamba adalah sebab mereka mendapatkan kenikmatan disurga, menunjukkan bahwa pelaku amalan tersebut adalah hamba dan bukan Allah


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan para hamba qudrah (kemampuan) sebagaimana firman Allah


لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ.. 


“Allah tidak membebani sebuah jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya” (Surat Al-Baqarah : 286)


Dan Allah juga memberikan mereka iradah atau keinginan. Allah-lah yang menciptakan iradah pada diri mereka dan iradah mereka dibawah iradah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Allah berfirman


لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ, وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ



“Bagi siapa diantara kalian yang ingin istiqamah dan tidaklah kalian menghendaki istiqamah kecuali dengan kehendak Allah Rabb semesta alam”  (Surat At-Takwir : 28-29)


Ini semua menunjukkan tentang bathilnya ucapan Al Jabriyyah bahwa hamba dipaksa melakukan ketaatan atau kemaksiatan tidak ada pilihan bagi mereka, mereka tidak memiliki qudrah ( kemampuan) dan iradah ( kehendak)keadaan mereka seperti gerakan pohon yang tertiup angin mengikuti kemana arah angin tersebut


Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya



Halaqah 19. Makna Ucapan Rasulullah ﷺ Kejelekan Tidak Kepadamu



Halaqah yang Ke-19 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang Makna Ucapan Rasulullah ﷺ Kejelekan Tidak Kepadamu


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى yang menciptakan segala sesuatu yang bermanfaat maupun yang memudharati, yang baik maupun yang buruk.


Adapun sabda Nabi ﷺ didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim


والشر ليس إليك 


” Dan kejelekan tidak disandarkan kepadamu”


Maka hadits ini tidak menunjukkan bahwa kejelekan tidak dicipta oleh Allah, Para ulama telah menjelaskan bahwa makna hadits ini


1. Ini adalah bentuk adab kita kepada Allah عَزَّ وَ جَلَّى Tidak boleh kita berkata “wahai Yang Menciptakan kejelekan” atau  “Wahai Pencipta Babi” Meskipun Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Dialah Yang Menciptakan itu semua


2. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tidak menciptakan secara murni kejelekan. kejelekan yang Allah ciptakan pasti ada hikmahnya dilihat dari sisi hikmah inilah kejelekan yang menimpa manusia tersebut adalah baik dipandangan Allah عَزَّ وَ جَلَّى maka tidak boleh disandarkan kejelekan kepada Allah عَزَّ وَ جَلَّى


Misalnya Allah mentakdirkan rezeki ada diantara manusia yang diluaskan rezekinya dan ada yg disempitkan, disempitkan dengan hikmah dan di luaskan dengan hikmah


Diantara hikmah disempitkan rezeki seseorang adalah supaya dia tidak berlebihan di dunia supaya dia banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah dan diantara hikmahnya adalah supaya terjadi saling membutuhkan antara orang yang kaya dan orang yang miskin


3. Ada diantara ulama yang mengatakan bahwa makna ucapan Nabi ﷺ “kejelekan tidak di sandarkan kepadamu” maksudnya tidak boleh bertaqarrub kepada Allah dengan kejelekan


4. Ada diantara Ulama yang mengatakan bahwa maknanya kejelekan tidak akan sampai kepada Allah, tetapi kebaikan itulah yang akan sampai kepada Allah, penyandaran kejelekan didalam dalil tidak dilakukan secara khusus kepada Allah tetapi terkadang dengan Penyandaran umum seperti firman Allah عَزَّ وَ جَلَّى


اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ… 


“Allah yang menciptakan segala sesuatu” (Surat Az-Zumar : 62)


Dan terkadang disandarkan kejelekan tersebut kepada penyebabnya sebagaimana firman Allah 


مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ


“Dari kejelekan apa yang dia ciptakan” (Surat Al-Falaq : 2)


Dan terkadang Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menggunakan kalimat pasif sebagaimana firman Allah


وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا


“Dan sesungguhnya kami (bangsa Jin) tidak mengetahui apakah kejelekan yang diinginkan terhadap penduduk bumi ataukah Rabb mereka menginginkan bagi penduduk bumi kebaikan” (Surat Al-Jinn  : 10)


Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



Halaqah 18. Kapan seseorang boleh beralasan dengan Takdir



Halaqah yang Ke-18 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah Kapan seseorang boleh beralasan dengan Takdir


Takdir dijadikan hujjah dan alasan didalam musibah dan bencana dan tidak boleh dijadikan hujjah dan alasan didalam dosa dan  kemaksiatan


Ketika musibah seseorang mengatakan "ini adalah takdir Allah” dan “ini adalah dengan izin Allah” Atau mengatakan “apa yang Allah kehendaki pasti terjadi” 


Maka hal ini akan membawa ketenangan dan kebaikan pada dirinya.  Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


(مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ)


“Tidaklah menimpa sebuah musibah kecuali dengan izin Allah dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan memberikan petunjuk kepada dirinya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Surat At-Taghabun : 11)


Dan Nabi ﷺ bersabda


وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ


”Dan apabila engkau tertimpa musibah maka janganlah engkau mengatakan seandainya aku melakukan demikian niscaya akan demikian dan demikian, akan tetapi ucapkanlah ini adalah takdir Allah dan apa yang Allah kehendaki akan Dia lakukan karena sesungguhnya ucapan seandainya ini membuka amalan syaitan” (HR Muslim)


Namun ketika berbuat maksiat dan dinasehati maka tidak boleh seseorang berhujjah dengan takdir atas maksiat yang dia lakukan kemudian dia mengatakan “saya berbuat maksiat karena takdir Allah” atau “kalau Allah menghendaki niscaya saya tidak berbuat maksiat” dan lain lain


Orang-orang musyrikin ketika dahulu didakwahi oleh para Nabi untuk bertauhid mereka menolak dan mereka berhujjah dengan takdir atas kesyirikan dan kemaksiatan yang mereka lakukan


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ


“Dan berkata orang-orang musyrikin seandainya Allah menghendaki niscaya kami tidak menyembah selain Allah sedikit pun kami dan bapak-bapak kami dan niscaya kami tidak mengharamkan sedikit pun demikianlah orang-orang sebelum mereka maka tidak ada kewajiban atas rasul kecuali menyampaikan dengan jelas” (Surat An-Nahl : 35)



Adapun ucapan Nabi Adam عليه السلام yang disebutkan didalam hadits 


  احتجَّ آدمُ وموسى ، فقالَ لَهُ موسَى : أنتَ آدمُ الَّذي أخرجتكَ خطيئتُكَ منَ الجنَّةِ ؟ فقالَ لَهُ آدمُ : أنتَ موسى الَّذي اصطفاكَ اللَّهُ برسالتِه وبكلامِه ، ثمَّ ، تَلومُني على أمرٍ قُدِّرَ عليَّ قبلَ أن أُخلَقَ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : فحجَّ آدمُ موسَى 


“Adam dan Musa saling berhujjah, maka berkata Musa engkau adalah Adam yang dosamu telah mengeluarkanmu dari surga 

berkata Adam engkau adalah Musa yang Allah telah memilihmu sebagai seorang Rasul dan memilihmu sebagai manusia yang pernah diajak bicara oleh Allah, 

kemudian engkau mencelaku atas sebuah perkara yang telah ditakdirkan untukku sebelum aku diciptakan maka Rasulullah ﷺ bersabda Adam telah mengalahkan Musa dalam berhujjah Beliau ﷺ mengucapkannya dua kali (HR Al Bukhari dan Muslim)


Maka perlu diketahui bahwa Nabi Adam عليه السلام didalam hadits ini tidak berhujjah dengan takdir atas dosa yang beliau lakukan akan tetapi beliau berhujjah dengan takdir atas musibah yang menimpa beliau dan keturunan beliau, yaitu musibah keluarnya beliau dari surga yang efeknya juga dirasakan oleh keturunan beliau عليه السلام



Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya




Halaqah 17. Peran Doa Didalam Beriman Dengan Takdir Allāh



Halaqah yang Ke Tujuh belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh *Peran Doa Didalam Beriman Dengan Takdir Allāh*.

Takdir telah tertulis, akan tetapi bukan berarti seseorang meninggalkan berdoa kepada Allāh berdoa adalah bagian dari mengambil sebab yang diperintahkan untuk mendapatkan kebaikan Dunia maupun kebaikan Akhirat.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

[QS Ghafir 60]

“Dan berkata Rabb kalian, hendaklah kalian berdoa kepada Ku niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian”

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ…

[QS Al-Baqarah 186]

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang diriKu, maka sesungguhnya Aku adalah dekat mengabulkan doanya orang yang berdoa kepada Ku ”

Dan Doa adalah Ibadah sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

الدعاء هو العبادة

[HR Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasai & Ibn Majjah]

” Doa itu adalah Ibadah”

Dan Rasulullãh ﷺ bersabda:

وﻻ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻻ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ

[HR Al Hakim]

“Dan tidak menolak Al Qadar kecuali Doa ”

Dan bukanlah yang dimaksud dengan doa bisa menolak takdir, bahwa doa bisa melawan takdir Allāh yang sudah Allāh tulis akan tetapi makna Al Qadar disini adalah Al Muqoddar yaitu sesuatu yang di Takdir kan artinya Doa bisa menjadi sebab berubahnya keadaan yang ditakdirkan oleh Allāh menjadi keadaan lain yang juga ditakdirkan oleh Allāh.

Contoh seseorang ditakdirkan sakit kemudian dia berdoa kepada Allāh meminta kesembuhan kemudian Allāh mengabulkan doa nya & menakdirkan kesembuhan bagi orang tersebut.

Dan doa yang dipanjatkan oleh seseorang kepada Allāh adalah bagian dari takdir Allāh. Lalu bagaimana dikatakan bahwa doa bisa melawan takdir Allāh ajja wajalla.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.



Halaqah 16. Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah Syar’iyyah & Iradah Kauniah



Halaqah yang Ke Enam belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh *Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah Syar’iyyah & Iradah Kauniah*.

Aliran Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Iradah Syar’iyyah & Iradah Kauniah adalah Al Qodariah  ; Al Jabriyah

Al Jabriyah Mereka tidak membedakan antara Iradah Syar’iyyah & Iradah Kauniah, mereka menganggap bahwa semua yang terjadi adalah dicintai oleh Allāh.

Adapun Al Qodariah mereka menganggap bahwa setiap yang diinginkan oleh Allāh pasti dicintai oleh Allāh dan yg tidak Allāh cintai & ridhoi berarti terjadi tidak dengan keinginan Allāh dan tidak diciptakan oleh Allāh dan diantara yg tidak dicintai oleh Allāh adalah

Kekafiran & kemaksiatan

Dengan demikian kekafiran & kemaksiatan tidak diciptakan oleh Allāh karena Allāh tidak mencintainya, kemudian akhirnya mereka menyimpulkan bahwa seluruh amalan makhluk semuanya bukan dengan Iradah & penciptaan Allāh tetapi dengan Iradah makhluk tersebut tanpa campur tangan Iradah Allāh & penciptaan Allāh.

Dan adapun Al Jabriyah maka mereka mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah dengan Iradah & penciptaan Allāh dan setiap yang diinginkan oleh Allāh dan diciptakan pasti dicintai oleh Allāh & kekufuran serta kemaksiatan diciptakan oleh Allāh berarti kekufuran & kemaksiatan dicintai oleh Allāh ajja wajalla.

Dengan demikian kita mengetahui bahwa orang-orang Al Qodariah tersesat karena meyakini terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan oleh Allāh didalam kerajaan Allāh dan mereka benar ketika mengatakan kalau Allāh tidak mencintai kekafiran & kemaksiatan & kita mengetahui bahwa orang-orang Al Jabriyah tersesat karena meyakini bahwa kekufuran & kemaksiatan di cintai oleh Allāh & mereka benar ketika meyakini bahwa Allāh yang mentakdirkan itu semua.

Adapun Ahlus Sunnah maka Allāh memberikan petunjuk kepada mereka, mereka meyakini bahwa Allāh mentakdirkan segala sesuatu termasuk kekafiran & kemaksiatan, Dan Allāh tidak mencintai kekafiran & kemaksiatan.

Dari keterangan diatas diketahui dua subhat Al Qodariah & Al Jabriyah, 

satu yaitu mereka tidak membedakan antara dua Iradah Allāh & 

meyakini bahwa setiap yang diciptakan oleh Allāh berarti dicintai oleh Allāh, padahal tidak semua yang diciptakan oleh Allāh dicintai oleh Allāh ajja wajalla.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.




Halaqah 15. Beberapa Contoh Keadaan Yang Berkaitan Dengan Irādah Syar'iyyah Dan Irādah Kauniyyah



Halaqah yang ke-15 dari silsilah ílmiah beriman dengan takdir Allah adalah tentang Beberapa Contoh Keadaan Yang Berkaitan Dengan Irādah Syar'iyyah Dan Irādah Kauniyyah


1. Keimanan Abu Bakar


Keimanan Abu Bakar berkaitan dengannya dua irodah sekaligus, irodah syaríyah dan irodah kauniyah. Berkaitan dengannya irodah syariyah karena Allah mencintai dan menginginkan keimanan Abu Bakar dan berkaitan dengannya irodah kauniyah karena Allah mentakdirkan mewujudkan dan menciptakan keimanan Abu Bakar


2. Keimanan Abu Jahl


Keimanan Abu Jahl berkaitan dengannya irodah syariyah saja dan tidak berikaitan dengannya irodah kauniyah. Berkaitan dengannya irodah syaríyah karena Allah mencintai dan menginginkan keimanan Abu Jahl. Dan tidak berkaitan dengannya irodah kauniyah karena Allah tidak mentakdirkan mewujudkan dan menciptakan keimanan Abu Jahl.


3. Kemaksiatan orang yang berbuat maksiat 


Kemaksiatan orang yang berbuat maksiat, berkiatan dengannya irodah kauniyah saja dan tidak berkaitan dengannya irodah syariyah. Berkaitan dengannya irodah kauniyah karena Allah mentakdirkan mewujudkan dan menciptakan kemaksiatan tersebut dan tidak berkaitan dengannya irodah syariyah karena secara syareat Allah tidak mencintai dan menginginkan kemaksiatan tersebut


4. Kekufuran orang yang beriman yang tidak terjadi


Hal ini tidak berkaitan dengannya 2 irodah. Tidak berkaitan dengannya irodah syariyah karena secara syareat Allah tidak mencintai dan tidak menginginkan kekufuran orang yang beriman dan tidak berkaitan dengannya irodah kauniyah karena Allah tidak mentakdirkan kekufuran orang yang beriman dan tidak mewujudkannya serta tidak menciptakannya


Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya



Halaqah 14. Perbedaan Antara Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah



Halaqah yang Ke Empatbelas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Perbedaan Antara Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah*.

Perbedaan Antara Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah diantaranya:

⑴ Iradah Kauniyah melajimkan terjadinya apa yang diinginkan oleh Allāh, misalnya

Allāh menginginkan menciptakan Matahari maka tercipta lah Matahari, sedangkan Iradah Syar’iyyah maka tidak melajimkan terjadinya apa yang Allāh inginkan, seperti secara syariat Allāh menginginkan ke Islām an Abu Lahab tetapi hal tersebut tidak terjadi.

⑵ Bahwa Iradah Kauniyah tidak melajimkan apa yang Allāh inginkan tersebut dicintai oleh Allāh akan tetapi terkadang kejadiannya ada yg dicintai oleh Allāh, misal:

Keimanan orang yang beriman

Dan terkadang ada yang kejadiannya tidak dicintai oleh Allāh seperti kemaksiatan.

Adapun Iradah Syar’iyyah maka kejadiannya pasti sesuatu yang dicintai oleh Allāh seperti keimanan orang yang beriman, ketaatan orang yang taat dll.

⑶ Iradah Kauniyah tidak melajimkan bahwa itu diperintah oleh Allāh, sedangkan 

Iradah Syar’iyyah melajimkan bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allāh artinya setiap yang diinginkan oleh Allāh secara syariat berarti dia diperintahkan

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.



Halaqah 13. Dua Macam Iradah Atau Keinginan Allāh



Halaqah yang Ke tiga belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh *Dua Macam Iradah Atau Keinginan Allāh*.

Diantara perkara yang penting dipahami oleh setiap muslim didalam masalah Beriman Dengan Takdir Allāh bahwa Iradah atau keinginan Allāh ada dua macam

⑴ Iradah Kauniah Qodariah

Yaitu keinginan Allāh yang berkaitan dengan penciptaan & kejadian² yang ditakdirkan oleh Allāh ajja wajalla, seperti :

Keinginan Allāh menciptakan manusia & hewan

Menciptakan orang yang taat & orang yang berbuat maksiat

Menciptakan ketaatan dan kemaksiatan

Dll

Dalil Iradah Kauniah adalah firman Allāh ajja wajalla :

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya perkara Allāh apabila menginginkan sesuatu adalah mengatakan *jadilah*maka jadilah dia” [QS Ya-Sin 82]

Dan Allāh berfirman:

… إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

“Sesungguhnya Allāh melakukan apa yang Dia inginkan” [QS Al-Hajj 14]

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ…

“Barangsiapa yang Allāh inginkan untuk diberi hidayah maka Allāh lapangkan dada nya untuk menerima Islām & barangsiapa yang Allāh inginkan untuk disesatkan maka Allāh akan menjadikan dadanya sempit lagi sesat seperti ketika dia berusaha naik keatas.. ” [QS Al-An’am 125]

Dan masiyah /kehendak Allāh yg disebutkan didalam Halaqah yang ke-7 adalah nama lain dari Iradah Kauniah Qodariah.

⑵ Iradah Qodariah Sar-iyyah Diniyyah

Yaitu keinginan Allāh yang berkaitan dengan syariat agama Allāh turunkan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menginginkan manusia mengikuti syariat-Nya & agama Nya, menginginkan mereka menjalankan perintah Allāh & menginginkan mereka meninggalkan larangan Allāh.

Dalil Iradah Syariyah Diniyyah diantaranya

Firman Allāh ajja wajalla:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Sesungguhnya Allāh hanya menginginkan untuk menghilangkan kotoran dari kalian wahai Ahlul bait & membersihkan dari dosa dengan sebenar-benarnya” [QS Al-Ahzab 33]

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ…

“Dan Allāh menginginkan untuk menerima Taubat kalian… ” [Surat An-Nisa’ 27]

Dan dari Annas bin Malik radiallahu anhu dari Nabi ﷺ beliau bersabda:

يقول الله تعالى : لِأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ : لَوْ أَنَّ لَكَ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ أَكُنْتَ تَفْتَدِي بِهِ ” ، فَيَقُولُ : نَعَمْ ، فَيَقُولُ : ” أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ هَذَا ، وَأَنْتَ فِي صُلْبِ آدَمَ ، أَنْ لَا تُشْرِكَ بِي شَيْئًا ، فَأَبَيْتَ إِلَّا أَنْ تُشْرِكَ بِي ”

“Allāh Subhānahu wa Ta’āla berkata kepada penduduk Neraka yang paling ringan azab nya di hari kiamat, seandainya engkau memiliki seluruh apa yang ada dibumi apakah engkau akan menebus dengan nya?

Maka dia berkata :

“Iya”

Maka Allāh berkata

“Aku menginginkan dirimu yang lebih ringan dari pada ini, sedangkan engkau saat itu berada di dalam sulbi adam yaitu supaya engkau tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka engkau pun enggan, kecuali menyekutukan diri Ku”” [HR Bukhori & Muslim]

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.




Halaqah 12. Aliran Sesat yang Menyimpang di Dalam Masalah Takdir.



 Halaqah yang ke dua belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Aliran Sesat yang Menyimpang di Dalam Masalah Takdir”.


Diantara aliran sesat yang menyimpang di dalam masalah takdir adalah aliran Al Majusiyah, yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Majusi.


Mereka adalah orang-orang yang beriman dengan syari’at, akan tetapi mendustakan takdir Allah.


Ada diantara mereka yang mengingkari ilmu Allah dan mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadinya.


Dan ada diantara mereka yang mengingkari keumuman Masyiah Allah dan penciptaan-Nya. Mereka berkata,

“Allah yang mencipta manusia dan manusialah yang menciptakan amalannya sendiri.”

Dan mereka berkata,

“Bahwa amalan manusia adalah dengan kehendak manusia semata dan tidak ada hubungan sama sekali dengan kehendak Allah.”


Sehingga mereka dinamakan dengan Al-Majusiyah karena orang-orang Majusi meyakini bahwa pencipta ada dua:

⑴ Pencipta kebaikan

⑵ Pencipta keburukan


Dan diantara aliran yang sesat di dalam masalah takdir adalah aliran Al Musyrikiyah yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.


Mereka mengakui takdir Allah tetapi mengingkari syari’at Allah dan tidak mengikutinya.

Dinamakan Al Musyrikiyah karena orang-orang Musyrikin mengakui takdir Allah dan tidak mau mengikuti syari’at Allah yang intinya adalah Tauhid.


Allah berfirman tentang mereka,

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ…

[Surat Al-An’am 148]


“Akan berkata (orang-orang Musyrikin) seandainya Allah menghendaki niscaya kita tidak akan berbuat syirik, demikian pula bapak-bapak kami, dan tentunya kami tidak akan mengharamkan sesuatu.”


Demikianlah ucapan orang-orang Musyrikin ketika mereka diajak oleh Rasulullah ﷺ untuk bertauhid, mereka menolak tauhid dan beralasan bahwa kesyirikan mereka adalah dengan takdir Allah.


Maka setiap orang yang berdalil dengan takdir dalam membolehkan kemaksiatan, pada hakikatnya dia telah mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.


Adapun Ahlus Sunnah maka seperti yang sudah berlalu, mereka beriman dengan takdir dan beriman dengan syari’at.


Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.



Halaqah 11. Beriman Dengan Takdir Dan Mengambil Sebab Bag 3



Halaqah yang Ke Sebelas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Beriman Dengan Takdir & Mengambil Sebab Bag 3*.

Telah berlalu bahwa

kebahagiaan & kesengsaraan telah ditakdirkan 

tempat seseorang di Surga atau di Neraka telah ditakdirkan & seorang yang beriman sebagaimana dia diperintahkan mengambil sebab didalam perkara Dunia maka juga diperintahkan mengambil mengambil sebab didalam perkara² Akhirat.

Seorang yang beriman diperintahkan mengambil sebab mendapatkan kebahagiaan di akhirat & mengambil sebab keselamatan dari azab.

Sebab mendapatkan kebahagiaan di akhirat & keselamatan dari azab di akhirat adalah:

Beriman dengan syariat Allāh dengan cara menjalankan perintah

Menjauhi larangan

Membenarkan kabar² Allāh ajja wajalla

Mengimani janji pahala

Dan  juga mengimani ancaman² terhadap dosa.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُون

“Dan orang² yang beriman & beramal shaleh mereka lah penduduk Surga, mereka kekal didalamnya” [QS Al-Baqarah 82]

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

“itulah batasan² Allāh & barangsiapa yang mentaati Allāh & RasulNya, Allāh akan memasukkan dia kedalam Surga yang mengalir dibawah nya sungai² mereka kekal didalamnya & yang demikian adalah keberuntungan yang sangat besar & barangsiapa yang bermaksiat kepada Allāh & RasulNya & melanggar batasan² Allāh maka Allāh memasukkan dia kedalam Neraka & dia akan mendapatkan azab yang menghinakan” [QS An-Nisa’ 14]

Para shahabat Nabi ﷺ ketika dikabarkan oleh Nabi ﷺ bahwa tidak ada sebuah jiwa kecuali telah diketahui tempatnya di dalam surga dan neraka, mereka bertanya:

▪️ يا رسولَ اللهِ ! فلمَ نعملُ ؟ أفلا نتَّكِلُ ؟ 

“wahai Rasulullãh, untuk apa kita beramal? Mengapa kita tidak pasrah saja”

Beliau ﷺ menjawab dengan jawaban yang ringkas:

«لا اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ, ، ِ » . 

“tidak demikian, akan tetapi beramal lah kalian karena masing-masing akan dimudahkan melakukan apa yang dia diciptakan untuknya”

[HR Al Bukhari & Muslim]

Beliau ﷺ bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ  

“hendaklah engkau melakukan apa yang bermanfaat untukmu & memohon lah pertolongan kepada Allāh & jangan engkau merasa lemah” [HR Muslim]

Dari dalil-dalil diatas kita mengetahui bahwa seorang yang beriman diperintahkan untuk beriman dengan Takdir Allāh & diperintahkan untuk beriman dengan syariat Allāh.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.


Halaqah 10. Beriman Dengan Takdir Dan Mengambil Sebab Bag 2



Halaqah yang Ke Sepuluh dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh *Beriman Dengan Takdir & Mengambil Sebab Bag2*.

Banyak & sedikitnya keturunan sudah ditakdirkan oleh Allāh ajja wajalla tetapi bukan berarti seorang muslim menunggu tanpa usaha untuk mendapatkan keturunan bahkan dia diperintahkan untuk menikah sebagai sebab & upaya untuk mendapatkan keturunan.

Rasulullãh ﷺ bersabda:

▪️تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ بكم الأممَ..

[HR Abu Daud & An Nasaii di shahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

“Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur karena sesungguhnya karena sesungguhnya aku membanggakan banyaknya kalian didepan umat yang lain ”

Sakit & kesembuhan dari penyakit sudah di takdirkan oleh Allāh ajja wajalla namun kita diperintahkan untuk menjauhi sebab terkena penyakit & diperintahkan pula untuk berobat apabila seseorang ditimpa sakit.

Rasulullãh ﷺ bersabda:

▪️ إنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ حيثُ خلق الداءَ خلق الدواءَ فتداووا

[HR Ahmad dari Annas bin Malik radiallahu anhu & di hasan kan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

“Sesungguhnya Allāh ajja wajalla ketika menciptakan penyakit Dia juga menciptakan obatnya, maka berobat lah kalian”

Dan beliau ﷺ bersabda tentang sikap seorang muslim terhadap tho’un yaitu wabah penyakit yang merata yang terjadi disebuah daerah

إذا سمعتُم بِه بأرضٍ فلا تقدُموا علَيهِ وإذا وقعَ بأرضٍ وأنتُم بِها فلا تخرُجوا فرارًا منهُ فحمِدَ اللَّهَ عمرُ وانصَرفَ

[HR Al Bukhari & Muslim]

“apabila kalian mendengar tho’un di sebuah daerah, maka janganlah kalian datang kesana & apabila terjadi disebuah daerah sedangkan kalian berada disana maka kalian jangan keluar dari daerah tersebut karena lari dari nya”

Kematian juga musibah sudah ditakdirkan oleh Allāh ajja wajalla & kita diperintahkan untuk mengambil sebab keselamatan.

Dahulu Rasulullãh ﷺ bersama keimanan beliau yg dalam tentang masalah takdir beliau berperang memakai baju perang, menggunakan senjata, mengatur siasat perang, mengatur pasukan dll. Dan ini semua menunjukkan bahwa selain kita diperintah beriman dengan Takdir Allāh kita juga diperintah untuk mengambil sebab yang diperbolehkan.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.



Halaqah 09. Beriman Dengan Takdir Dan Mengambil Sebab Bag 1



Halaqah yang ke Sembilan dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Beriman Dengan Takdir & Mengambil Sebab Bag 1*.

Seorang yang beriman selain diperintah untuk beriman dengan Takdir Allāh juga diperintah untuk mengambil sebab & bertawakal kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla & tidak bertawakal kepada sebab tersebut.

Rezeki sudah oleh Allāh ajja wajalla & kita diperintahkan untuk mencari rezeki yang halal.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

[QS Al-Jumu’ah 10]

“Kemudian apabila sudah selesai shalat Jumat maka hendaklah kalian menyebar dipermukaan bumi & carilah dari karunia Allāh & perbanyaklah didalam mengingat Allāh, semoga kalian beruntung”

Dan Allāh berfirman:

…ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ… 

[QS Al-Baqarah 275]

“Dan Allāh telah menghalalkan jual beli”

Dan didalam sebuah hadits Rasulullãh ﷺ bersabda:

لَأَنْ يَحْتَزِمَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةَ مِنْ حَطَبٍ فَيَحْمِلَهَا عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا يُعْطِيهِ أَوْ يَمْنَعُهُ

[HR Bukhori & Muslim dari Abu Hurairoh radiallahu anhu]

“Sungguh salah seorang diantara kalian mencari satu ikat kayu bakar kemudian mengangkatnya diatas punggungnya lebih baik daripada dia meminta orang lain baik diberi atau tidak diberi”

Dan beliau ﷺ bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

[HR At Tirmidzi & Ibn Majjah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

“seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allāh niscaya kalian akan diberi rezeki, sebagaimana burung diberi rezeki pagi-pagi mereka pergi dalam keadaan lapar & datang di sore hari dalam keadaan kenyang”

Dan Burung didalam mencari rezeki tidak hanya berdiam diri & berpangku tangan di sarang nya tetapi dia pergi mencari sebab didalam mendapatkan rezeki tersebut.

Dan dahulu para Nabi alaihimus salam bekerja & mereka adalah orang-orang yang beriman dengan Takdir Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ… 

[QS Al-Furqan 20]

“Dan Kami tidaklah mengutus sebelummu seorang Rasul pun kecuali mereka Memakan makanan & pergi ke pasar”

Dan didalam sebuah hadits Rasulullãh ﷺ bersabda:

كَانَ زَكَرِيَّا نَجَّاراً .

[HR Muslim]

“Dahulu Nabi Zakaria adalah seorang tukang kayu”

Dan Nabi Musa alaihi salam pernah pernah bekerja sebagai seorang penggembala untuk orang yang shaleh dari madyan selama beberapa tahun, sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla sebutkan didalam surat Al Qishos ayat 27.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.



Halaqah 08. Cara Beriman Dengan Takdir Allah Bag 5-Penciptaan Allah


 

Halaqah yang ke Delapan  dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Cara Beriman Dengan Takdir Allah Bag 5*.

Diantara Cara Beriman Dengan Takdir Allāh adalah dengan mengimani tingkatan Takdir yang *ke-4* yaitu penciptaan Allāh terhadap sesuatu, maksudnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah Pencipta segala sesuatu yang ada di Langit maupun yg ada di Bumi (sifat-sifatnya & amalan nya)

Menciptakan pelaku & amalan yang dilakukan

Menciptakan orang yang beriman & keimanannya

Menciptakan orang yang kafir & kekafirannya

Menciptakan orang yang taat & ketaatannya

Menciptakan pelaku maksiat & kemaksiatannya

Menciptakan setiap yang bergerak & gerakannya

Dan setiap yang diam & diamnya

Tidak ada yang mencipta selain  Allāh ajja wajalla, Dia-lah Al Kholiq & selainnya adalah makhluk.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

[QS Ash-Shaffat 96]

“Dan Allāh yang menciptakan kalian & apa yang kalian kerjakan”

Dan Allāh berfirman:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ… 

[QS Az-Zumar 62]

“Allāh yang menciptakan segala sesuatu”

Dan Rasulullãh ﷺ bersabda:

▪️  إنَّ اللهَ خلق كلَّ صانعٍ و صنعتَه 

[HR Al Hakim didalam Al Mustadrak & di shahih kan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

“Sesungguhnya Allāh Dia-lah yang menciptakan setiap pelaku & apa yang dia lakukan”.

Inilah 4 tingkatan yang barangsiapa tidak beriman dengan salah satunya maka dia tidak beriman dengan Al Qadha & Al Qadar.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.



Halaqah 07. Cara Beriman Dengan Takdir Allah Bag 4-Masyiatullah/kehendak


 

Halaqah yang ke Tujuh dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Cara Beriman Dengan Takdir Allah Bag 4*.

Diantara Cara Beriman Dengan Takdir Allāh dengan mengimani tingkatan Takdir yang ke-3 yaitu Masyiiatullah / kehendak  Allāh dan yang dimaksud adalah  beriman bahwa apa yang Allāh kehendaki pasti terjadi & apa yang tidak Allāh kehendaki maka tidak akan terjadi dan apa yang ada dilangit & di bumi berupa  bergeraknya sesuatu atau diam nya sesuatu maka dengan kehendak Allāh & tidak mungkin terjadi dikerajaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla apa yang tidak dikehendaki-Nya.

Diantara dalilnya dari Alquran adalah firman Allāh:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

[QS Ya-Sin 82]

“Sesungguhnya perkara Allāh apabila menginginkan sesuatu adalah mengatakan *JADILAH* Maka jadilah dia”

Dan Allāh berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ… 

[QS Yunus 99]

“Dan seandainya Rabb mu mungkin menghendaki niscaya akan beriman seluruh yang ada dibumi”

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ… 

[QS Ali ‘Imran 26]

“Katakanlah Ya Allāh yang memiliki kerajaan, Engkau memberi kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki & mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki & Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki & menghinakan siapa yang Engkau kehendaki”

Dan Allāh berfirman:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

[QS At-Takwir 29]

“Dan tidaklah kalian menginginkan kecuali dengan kehendak Allāh Rabb semesta alam”

Adapun dari As-Sunnah, maka Rasulullãh ﷺ bersabda:

▫️  لا يقل أحدُكم : اللهمَّ اغفر لي إن شئتَ ، ارحمني إن شئتَ ، ارزقني إن شئتَ ، وليَعزِمْ مسألتَه ، إنَّهُ يفعلُ ما يشاءُ ، لا مُكْرِهَ لهُ 

“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan Ya Allāh ampunilah aku jika Engkau menghendaki, sayangilah aku jika engkau menghendaki, berilah aku rezeki apabila engkau menghendaki. Maka hendaklah dia menguatkan permintaan karena Allāh melakukan apa yang dikehendaki tidak ada yang memaksanya”.[HR Bukhori]

Berkata Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah

مَا شِئْتَ كَانَ، وإنْ لم أشَأْ –  وَمَا شِئْتُ إن لَمْ تَشأْ لَمْ يكنْ

“Apa yang Engkau kehendaki ya Allāh terjadi, meskipun aku tidak menghendakinya & apa yang aku kehendaki kalau Engkau tidak menghendakinya maka tidak akan terjadi”

[atsar ini dikeluarkan oleh Al Lalikai didalam kitab beliau Syarhu Ushuli Itiqadi Ahli sunnati wal Jamaah Minal kitabi wa Sunnah Wa ijmai shahabat IV-702]

Itulah yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.




Halaqah 06. Cara Beriman Dengan Takdir Allah Bag 3- Ajali,Umri,Hauli, Yaum



 Halaqah yang ke enam dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allāh  *Cara Beriman Dengan Takdir Allah Bag 3*.

Selain beriman dengan penulisan takdir ajali yang mencakup seluruh perkara, maka para ulama menyebutkan bahwa termasuk beriman dengan penulisan takdir adalah *Beriman Dengan Beberapa Jenis Penulisan Takdir yang lain*. Yang merupakan bagian dari penulisan takdir ajali.

⑴ Takdir Umri

Yaitu penulisan takdir seseorang diawal umurnya ketika didalam rahim ibunya, ditulis rezeki, ajal, amalan, kesengsaraan dia & kebahagiaan.

Dalilnya adalah hadits Abdullah Ibnu Mas’ud radiallahu anhu, Rasulullãh ﷺ bersabda:

إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ في ذلك عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ في ذلك مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ، 

(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)

[HR Bukhori & Muslim]

“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan penciptaanya di perut ibunya selama 40 hari, kemudian didalamnya sebagai segumpal darah selama 40 hari, kemudian didalamnya sebagai segumpal daging selama 40 hari, kemudian diutus seorang Malaikat kemudian meniup nyawa didalamnya & diperintahkan dengan 4 kalimat yaitu menulis rezekinya, ajalnya, amalannya & apakah dia sengsara atau orang yang bahagia”.

⑵ Takdir Hauli

Yaitu takdir khusus kejadian selama satu tahun ditentukan dimalam Lailatul Qadar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

[QS Ad-Dukhan 3- 4]

“Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Quran pada malam yang berbarakah, sesungguhnya Kami memberikan peringatan didalamnya di pisahkan seluruh perkara yang kokoh”

⑶ Takdir Yaumi

Yaitu pelaksanaan apa yang sudah ditulis pada waktu yang sudah ditentukan.

Dalilnya adalah firman Allāh:

.. ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

[QS Ar-Rahman 29]

“setiap hari Dia (Allāh) dalam sebuah urusan”

Diantara urusan Allāh adalah mengampuni dosa, menciptakan, melenyapkan, menghidupkan, mematikan, memuliakan, menghinakan, memberi & menahan dll. Dan perlu diketahui bahwa Takdir Yaumi, Hauli & Umri tidak keluar dari apa yang sudah tertulis di dalam takdir Ajali.

Demikian yang bisa kita sampaikan pada Halaqah kali ini & sampai bertemu kembali pada Halaqah selanjutnya.



Halaqah 20. Penjelasan Pokok Kelima Bagian 3

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlul As-Sittah (6 Kaidah), sebuah kitāb yang dikarang oleh Syaikh Muhammad...