Tampilkan postingan dengan label 3. Silsilah Belajar Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3. Silsilah Belajar Tauhid. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Februari 2021

Halaqah 25 - Ridha Dengan Hukum Allah



 Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى sebagai pencipta manusia sangat menyayangi ciptaanNya. Dialah Ar-Rahman Ar-Rohim. Diantara bentuk kasih sayang Allah adalah menurunkan syariat supaya manusia mendapatkan kebahagiaan dan terhindar dari kesusahan di dunia maupun di akhirat. Dialah yang Maha mengetahui dan Maha bijaksana, hukumnya penuh dengan keadilan, hikmah dan juga kebaikan, meskipun kadang samar atas sebagian manusia.

Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi seorang muslim dan muslimah untuk ridha dengan hukum Allah dan yakin bahwasanya kebaikan semuanya didalam hukum Allah, didalam segala bidang kehidupan, aqidah, akhlak, adab, muamalah, ekonomi, kenegaraan, dan lain-lain.

Mengesakan Allah SWT didalam hukum-hukumnya adalah termasuk konsekuensi tauhid.


Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

“Dan tidaklah pantas bagi seseorang laki-laki yang mukmin dan wanita yang mukminah apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan sesuatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain di dalam urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata”

(Q.S. Al-Ahzab: 36)


Saudaraku alhamdulillah dengan izin Allah dan karunianya, sampailah kita pada bagian yang  terakhir dari silsilah yang pertama ini, yaitu halaqah yang ke 25. Dengan berakhirnya silsilah pertama ini bukan berarti kita sudah merasa cukup memahami ilmu tauhid. Apa yang disampaikan dalam silsilah pertama ini baru sebagian kecil dari ilmu tauhid itu sendiri.

Belajar tauhid dan mengamalkannya tidak akan berhenti sampai ajal menjemput kita. Ikutilah majelis-majelis ilmu yang membahas tentang tauhid ini, bacalah buku-buku yang berkaitan dengan tauhid yang telah ditulis oleh para ulama yang terpercaya.

Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى merahmati kita semua, menghidupkan dan juga mematikan kita di atas tauhid.

Kamis, 04 Februari 2021

Halaqah 24 - Menyandarkan Kenikmatan Kepada Allah


 

Termasuk keyakinan yang harus diyakini dan diingat oleh setiap muslim, bahwa kenikmatan dengan segala jenisnya adalah dari Allah SWT.


Allah SWT berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Kenikmatan apa saja yang kalian dapatkan maka asalnya dari Allah”

(Q.S. An-Nahl: 53) 


Adalah termasuk syirik kecil apabila seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan dari Allah SWT, kemudian menyandarkan kenikmatan tersebut kepada selain Allah. Misalnya seperti ungkapan, "Kalau pilot tidak mahir niscaya kita sudah celaka", "Kalau tidak ada angsa niscaya uang kita sudah dicuri", "Kalau bukan karena dokter niscaya saya tidak sembuh", dan sebagainya. Ini semua adalah contoh bentuk menyandarkan kenikmatan kepada sebab.

 Allah berfirman:

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا

“Mereka mengenal nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya”

(Q.S. An-Nahl: 83)


Seharusnya kenikmatan tersebut disandarkan kepada Allah SWT, Dzat yang menciptakan sebab. Yang seharusnya dikatakan adalah "Kalau bukan karena Allah niscaya kita sudah celaka", atau "Kalau bukan karena Allah niscaya uang kita sudah hilang", atau "Kalau bukan karena Allah niscaya saya tidak akan sembuh", dan sebagainya".

Yang demikian karena Allah-lah yang memberikan nikmat keselamatan, nikmat keamanan, nikmat kesembuhan dan sebagainya. Sedangkan, makhluk hanyalah sebagai alat sampainya kenikmatan tersebut kepada kita.

Kalau Allah SWT menghendaki, niscaya Allah tidak akan menggerakkan makhluk-makhluk tersebut untuk menolong kita. Ini semua bukan berarti seorang muslim tidak boleh berterima kasih kepada orang lain. Seorang muslim diperintah untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada seseorang yang berbuat baik kepadanya, karena mereka telah menjadi sebab kenikmatan tersebut. Bahkan diperintahkan pula untuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan atau dengan doa yang baik. Namun, pujian dan penyandaran kenikmatan tetap hanya kepada Allah SWT semata.


Rabu, 03 Februari 2021

Halaqah 23 - Taat Ulama Dalam Kebenaran



 Ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu tentang Allah SWT dan juga agamanya, ilmu yang membawa dirinya untuk bertakwa kepada Allah SWT. Para ulama adalah pewaris para Nabi dan kedudukan mereka di dalam agama Islam adalah sangat tinggi.

Allah SWT telah mengangkat derajat para ulama dan memerintahkan kita untuk taat kepada mereka selama mereka menyeru dan mengajak kepada kebenaran dan juga kebaikan. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.”

(QS. An-Nisaa : 59).

Dan ulil amri disini mencakup ulama dan juga umaro/pemerintah. 

Menghormati para ulama, bukan menaati mereka dalam segala hal sampai kepada kemaksiatan. Ulama seperti manusia yang lain, ijtihad mereka terkadang salah terkadang juga benar. Kalau benar mereka mendapatkan 2 pahala dan kalau salah mereka mendapatkan 1 pahala.

Apabila telah jelas kebenaran bagi seorang muslim dan jelas bahwasanya seorang ulama menyelesihi kebenaran tersebut dalam sebuah permasalahan, maka tidak boleh seseorang menaati ulama tersebut kemudian dia meninggalkan kebenaran.

Rasulullah SAW bersabda :

لاَ طَاعَةَ فَيٍ مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ

“tidak ada ketaan dalam kemaksiatan, sesungguhnya ketaatan hanya di dalam kebenaran”.

(H.R. Bukhari dan Muslim).

Apabila seseorang menaati ulama dalam kemaksiatan kepada Allah SWT maka dia telah menjadikan ulama tersebut sebagai pembuat syariat dan bukan penyampai syariat. Hal ini seperti yang dilakukan oleh orang yahudi dan nasrani.

Allah berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Mereka (yaitu yahudi dan nasrani) menjadikan ulama dan ahli ibadah mereka sebagai sesembahan selain Allah.

(Q.S. At-Taubah: 31).

(Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran ulama dan ahli ibadah mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.)”


Rasulullah  SAW menjelaskan ayat ini, beliau bersabda:

قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ

"Ketahuilah bahwa mereka bukan beribadah kepada para ulama dan ahli ibadah tersebut. Akan tetapi, mereka apabila menghalalkan apa yang Allah haramkan maka mereka ikut menghalalkan dan apabila ulama dan ahli ibadah tersebut mengharamkan apa yang Allah halalkan maka mereka pun ikut mengharamkan. (H.R. Tirmidzi dari ‘Adhi bin Hatim, di hasankan oleh Syaikh al-Albani).


Selasa, 02 Februari 2021

Halaqah 22 - Takut Kepada Allah


 

Diantara keyakinan seorang muslim adalah bahwa manfaat dan mudhorot adalah di tangan Allah semata. Seorang muslim tidak takut kecuali kepada Allah dan tidak bertawakal kecuali hanya kepada Allah.

Takut yang dibenarkan adalah takut yang membawa pelakunya untuk merendahkan diri dihadapan Allah, mengagungkan-Nya, dan membawanya untuk menjauhi larangan Allah dan melaksanakan perintahnya. Bukan takut yang berlebihan yang membawa kepada keputusasaan terhadap rahmat Allah dan juga bukan takut yang terlalu tipis yang tidak membawa pemiliknya kepada ketaatan kepada Allah.

Takut seperti ini adalah ibadah, tidak boleh sekali-kali seorang muslim menyerahkan takut seperti ini kepada selain Allah dan barangsiapa yang menyerahkan kepada selain Allah maka dia telah terjerumus ke dalam syirik besar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam seperti orang yang takut mudhorot wali fulan yang sudah meninggal kemudian takut tersebut menjadikan dia merendahkan diri di hadapan kuburannya dan juga mengagungkannya.

Hendaknya seorang muslim meneladani Nabi Ibrahim ketika ia berkata :

وَقَدْ هَدَانِ ۚ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا

“dan aku tidak takut dengan sesembahan kalian, mereka tidak memudhoroti aku kecuali apabila Rabb-ku menghendakinya.”

(Q.S. Al-An’am: 80)

Diantara takut yang diharamkan adalah takutnya seseorang kepada makhluk yang melebihi takutnya kepada Allah sehingga takut tersebut membuat dia meninggalkan perintah Allah atau melanggar larangan Allah seperti orang yang meninggalkan jihad yang wajib atasnya karena takut kepada orang-orang kafir atau tidak melarang kemungkaran karena takut celaan manusia padahal dia mampu.

Allah berfirman :

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَاتَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

(Q.S. Ali Imran: 175)

Diantara cara menghilangkan rasa takut kepada makhluk yang diharamkan adalah berlindung kepada Allah dari bisikan setan dan mengingat sabda Nabi:

  وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ, وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ

“Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh ummat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu maka mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu maka mereka tidak akan dapat menimpakan kemudharatan (bahaya) kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu”

(H.R. Tirmidzi, Hasan Shahih)


Dan diperbolehkan takut yang merupakan tabiat manusia seperti takut kepada panasnya api, binatang buas, dan takut yang seperti ini bukanlah takut yang merupakan ibadah dan juga bukan takut yang membawa seseorang meninggalkan perintah atau melanggar larangan Allah. Ini adalah takut yang tabiat yang para Nabi pun tidak terlepas darinya.


Senin, 01 Februari 2021

Halaqah 21 - Cinta Kepada Allah


 

Mencintai Allah merupakan ibadah yang agung. Cinta yang merupakan ibadah ini mengharuskan seorang muslim merendahkan dirinya dihadapan Allah, mengagungkan Allah yang akhirnya akan membawa seseorang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi apa yang Allah larang. Inilah cinta yang merupakan ibadah, barangsiapa yang menyerahkan cinta seperti ini kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik besar.

Allah berfirman :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu-sekutu Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman maka cinta mereka kepada Allah jauh lebih besar.”

(Q.S. Al Baqarah: 165)


Adapun cinta yang merupakan tabiat manusia seperti cinta harta, keluarga, pekerjaan, dll maka hal ini diperbolehkan selama tidak melebihi cinta kita kepada Allah. Apabila seseorang mencintai perkara-perkara tersebut melebihi cintanya kepada Allah mka dia telah melakukan dosa.

Allah berfirman :

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: “jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, isteri-isteri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

(Q.S. At-Taubah: 24)


Ketika terjadi pertentangan antara dua kecintaan maka disini akan nampak siapa yang lebih ia cintai dan akan nampak siapa yang cintanya benar dan siapa yang cintanya hanya sebatas ucapan saja. Diantara cara untuk memupuk rasa cinta kita kepada Allah adalah dengan mentadaburi, memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta demikian pula dengan cara mengingat-ingat berbagai kenikmatan yang Allah berikan.


Jumat, 29 Januari 2021

Halaqah 20 - Riya



 Riya adalah seorang mengamalkan sebuah ibadah bukan karena ingin pahala dari Allah, tetapi ingin dilihat manusia dan dipuji. Riya hukumnya haram dan termasuk syirik kecil yang samar, yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Riya adalah sebab tidak diterimanya amal ibadah seseorang bagaimanapun besar amalan tersebut.

Rasulullah bersabda :

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Allah berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan syirik, barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan dia menyekutukan Aku bersama yang lain di dalam amalan tersebut maka Aku akan meninggalkannya dan kesyirikannya”

(H.R. Muslim)

Sebagian ulama berpendapat bahwa syirik kecil tidak ada harapan untuk diampuni Allah,artinya dia harus diadzab supaya bersih dari dosa riya’; berbeda dengan dosa besar yang ada di bawah kehendak Allah, kalau Allah menghendaki maka diampuni langsung dan kalau Allah menghendaki maka diadzab.

Mereka berdalil dengan keumuman ayat:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki”.

(Q.S.An Nisaa: 48)

Tahukah kita siapa orang yang pertama kali akan dinyalakan api neraka dengan mereka?

Mereka bukanlah preman-preman di jalan, dan bukan pembunuh yang kejam…tapi mereka adalah seorang yang mengajarkan Al Quran supaya dikatakan qari’, berinfaq supaya dikatakan dermawan, dan berjihad supaya dikatakan pemberani. Mereka beramal bukan karena Allah.

Sebagaimana dikabarkan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih yang diriwayatkan At Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Oleh karena itu, ikhlaslah dalam beramal. sungguh mahal harganya, para salafpun merasakan beratnya memperbaiki hati. Hanya kepada Allah kita meminta keikhlasan dalam beramal, menjauhkan kita dari riya’, sum’ah, ujub dan berbagai penyakit hati. Mari kita biasakan menyembunyikan amal kita meskipun dari orang-orang terdekat, kecuali kalau ada mashlahat yang lebih kuat.

Semoga Allah memudahkan kita semua untuk mempelajari agamanya.

Kamis, 28 Januari 2021

Halaqah 19 - Bersumpah dengan Selain Nama Allah


 

Sumpah adalah menguatkan perkataan dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan baik oleh orang yang berbicara maupun yang diajak bicara. Di dalam bahasa arab maka dengan menggunakan huruf و / ب  /   ت. Adapun bahasa Indonesia menggunakan kata “demi”. Bersumpah hanya diperbolehkan dengan nama Allah semata misalnya Wallahi (demi Allah), demi Rabb yang menciptakan langit dan bumi, demi dzat yang jiwaku berada ditangannya, dll.

Adapun makhluk bagaimanapun agungnya dimata manusia maka tidak boleh bersumpah dengan namanya misalnya dengan mengatakan demi rasul, demi ka’bah, demi jibril, demi bulan dan bintang, demi langit dan bumi,dll. Ini semua termasuk jenis pengagungan terhadap makhluk yang terlarang.


Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik.”

(H.R. Abu Daud No. 2829, At-Tirmizi No. 1535, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ No. 6204)


Syirik pada hadits ini pada asalnya adalah syirik kecil yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Namun, bisa sampai kepada syirik besar bila dia mengucapkan sumpah dengan makhluk disertai pengagungan seperti kalau dia mengagungkan Allah. Hal ini seperti pengagungan ibadah seperti sumpah yang dikatakan oleh orang-orang musyrik dengan mengatakan demi wisnu, demi dewa fulan, demi latta,dll.


Rabu, 27 Januari 2021

Halaqah 18 - Meramal Nasib Dengan Bintang





 Bintang adalah makhluk yang menunjukkan kekuasan dan kebesaran Allah Subhānahu wa Ta’āla. Allah Subhānahu wa Ta’āla telah mengabarkan di dalam Al Qur’an bahwa bintang ini memiliki 3 faedah, yaitu

Sebagai perhiasan langit, (Q.S. Al Hijr: 16), (Q.S. As-Saffat: 6), (Q.S. Fussilat: 12),

Sebagai alat pelempar setan, (Q.S. Al Mulk: 5)

Sebagai petunjuk manusia seperti mengetahui arah mata angin (utara, selatan, barat dan timur), datangnya musim menanam, arah kiblat,dll. (Q.S. Al-An’am: 97)

Allah Subhānahu wa Ta’āla tidak menciptakan bintang untuk perkara yang lain selain 3 perkara diatas. Seorang salaf yang bernama Qatada Ibnu Diamah As Sadusi seorang ulama yang meninggal kurang lebih pada tahun 110 H beliau menjelaskan bahwa barang siapa meyakini bahwasanya bintang memiliki faedah yang lain selain 3 hal diatas maka dia telah salah dan berbicara tanpa ilmu. Ucapan ini dikeluarkan oleh Imam Al Bukhari di dalam shohih beliau.

Contohnya adalah meyakini bahwasanya terbit dan tenggelamnya bintang atau berkumpul dan terpisahnya beberapa bintang berpengaruh kepada keberuntungan seseorang di masa yang akan datang. Baik dalam masalah rejeki, jodoh,dll.

Seperti kolom yang ditemukan di beberapa koran dan juga majalah, membacanya dan mempercayainya adalah perbuatan yang haran dan termasuk dosa besar. Sebagian ulama mengatakan hukumnya seperti orang yang mendatangi dukun dan bertanya kepadanya ancamannya tidak diterima shalatnya selama 40 hari.

Hendaknya kita semua takut kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla dan janganlah sekali-kali membaca kolom-kolom tersebut dan janganlah memasukkannya ke dalam rumah kita. Kita tutup segala pintu yang bisa merusak aqidah kita dan keluarga kita karena aqidah merupakan modal memasuki surga Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan selamat.


Selasa, 26 Januari 2021

Halaqah 17 - At- Tathoyyur ( Merasa Sial Dengan Sesuatu )



At Tathoyur adalah merasa akan bernasib sial karena melihat atau mendengar kejadian tertentu seperti melihat tabrakan atau orang yang berkelahi atau yang semisal kemudian hal tersebut menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya seperti bepergian, berdagang, dan lainnya.

At Tathayur termasuk syirik kecil apabila perasaan tersebut kita ikuti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ فَقَدْ أَشْرَكَ


"Barangsiapa yang At Thiyarah menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya, maka dia telah berbuat syirik."

(H.R. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah, no. 1065).

Perasaan ini sebenarnya tidak akan mempengaruhi takdir sebagaimana hal ini dinafi’kan dan diingkari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَهَامَةَ وَلاَ صَفَرَ


“Tidak ada adwa (penyakit menular), thiyarah, hammah dan shafar.”

(H.R. al-Bukhari, 10/206 dan Muslim, no. 2220). 

Maksudnya thiyarah ini hanyalah sebuah perasaan saja yang tidak akan berpengaruh terhadap takdir Allah. Oleh karena itu seorang muslim tidak boleh mengikuti was-was setan ini dan hendaknya ia memiliki keyakinan yang kuat bahwa semua yang terjadi di permukaan bumi berupa kebaikan dan keburukan adalah dengan takdir Allah semata.

Seorang mukmin, hendaknya yakin bahwa tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah dan tidak melindungi dari keburukan kecuali Allah, hanya bertawakal kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla semata dan berbaik sangka kepada Allah.

Apabila datang perasaan tersebut maka hendaknya segera dihilangkan dengan tawakal dan tetaplah melaksanakan hajatnya dan apa yang terjadi setelah itu adalah takdir Allah Subhānahu wa Ta’āla. Adapun At tafaul maka diperbolehkan oleh agama kita yaitu berbaik sangka kepada Allah karena melihat atau mendengar sesuatu. 

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sering bertafaul seperti ketika perjanjian hudaibiyah utusan Quraisy saat itu bernama Suhail dan suhail adalah bentuk pengecilan dari kata sahl yang berarti yang mudah. Maka beliaupun berbaik sangka kepada Allah bahwa perjanjian ini adalah membawa kemudahan dan kebaikan bagi umat Islam. Maka benarlah persangkaan beliau bahwa Allah membuka setelah perjanjian tersebut pintu-pintu kemudahan bagi umat islam.

 

Senin, 25 Januari 2021

Halaqah 16 - Perdukunan



Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang ghoib, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia seperti mengetahui barang yang hilang, pencurinya, mengetahui ramalan nasib, dan lain-lain. Dia mengaku mengetahui hal-hal tersebut dengan cara-cara tertentu seperti melihat bintang, menggaris di tanah, melihat air yang ada di mangkok, dan lain-lain.

Dengan cara ini para dukun memakan harta manusia. Perdukunan dengan namanya yang bermacam-macam adalah perkara yang diharamkan di dalam agama Islam. Ilmu ghoib yang mereka akui  pada hakikatnya adalah kabar dari jin yang mereka mintai bantuan. Sedangkan cara-cara tersebut  hanyalah untuk menutupi kedoknya sebagai seorang yang meminta bantuan jin dan juga setan.

Iblis sudah berjanji akan menyesatkan manusia dan menyeret mereka bersamanya ke dalam neraka. Iblis dan juga keturunannya tidak akan membantu sang dukun kecuali apabila dukun tersebut kafir kepada Allah. Para ulama menghukumi dukun sebagai orang yang kafir dengan sebab ini dan harta yang didapatkan dari pekerjaan ini adalah harta yang haram.

Berkaitan dengan ramalan yang kadang benar maka sebagaimana yang dikabarkan Nabi dalam hadits yang shohih bahwa para jin bekerja sama mencuri kabar dari langit, apabila mendengar sesuatu maka jin yang diatas akan mengabarkan kepada yang dibawahnya dan seterusnya hingga sampai ke telinga dukun. Terkadang ia terkena lemparan bintang sebelum menyampaikan kabar tersebut dan terkadang pula sempat menyampaikan sebelum akhirnya terkena lemparan bintang.

Kabar sedikit yang sampai ini akan ditambah-tambahi oleh dukun tersebut dengan kedustaan yang banyak. Apa yang benar terjadi sesuai dengan yang dia kabarkan akan dijadikan alat mencari pembenaran dan kepercayaan dari manusia. Orang Islam dilarang sekali-kali datang ke dukun dengan maksud meminta bantuan bagaimanapun susahnya keadaan dia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dari Abu Hurairah dan Al Hasan:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“barangsiapa yang mendatangi dukun kemudian membenarkan apa yang dia ucapkan maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”

(H.R. Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dishohihkan oleh syaikh Al Albani)


Di dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan :

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“barangsiapa mendatangi dukun kemudian bertanya kepadanya sesuatu maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.”

(H.R. Muslim)


Meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa mendatangi dukun tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam, tapi kedua hadits diatas cukup menunjukkan besarnya dosa orang yang mendatangi dukun.

Semoga Allah menjadikan kita merasa cukup dengan yang halal dan menjauhkan kita dari yang haram.


Jumat, 22 Januari 2021

Halaqah 15 - Sihir


 

Sihir bermacam-macam jenisnya. Sihir yang merupakan kesyirikan adalah sihir yang terjadi dengan meminta pertolongan kepada setan. Padahal, setan tidak akan menolong seseorang kecuali setelah melakukan perkara yang dia ridhai yaitu kufur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan cara menyerahkan sebagian ibadah kepada setan tersebut atau menghinakan Al-Qur’an  atau dengan mencela agama dan sebagainya.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).”

(Q.S. Al-Baqarah : 102)


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Hendaklah kalian menghindari tujuh dosa yang dapat menyebabkan kebinasaan.” Dikatakan kepada beliau, “Apakah ketujuh dosa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Dosa menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh kecuali dengan haq, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan pertempuran, dan menuduh wanita mukminah baik-baik berbuat zina.”

(H.R. Al-Bukhari no. 2560 dan Muslim no. 129)

Hukuman bagi tukang sihir jenis ini adalah hukuman mati bila dia tidak bertobat sebagaimana telah dicontohkan oleh para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan yang berhak untuk melakukan hukuman tersebut adalah pemerintah yang sah dan bukan individu.

Mempelajari sihir termasuk perkara yang diharamkan bahkan sebagian ulama menghukumi pelakunya keluar dari Islam. Demikian pula meminta supaya disihirkan juga perbuatan haram karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan:

لَيْسَ مِنَّا من تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ له أو تَكَهَّنَ أو تُكُهِّن له أو سَحَرَ أو سُحِرَ له

“Bukan dari golonganku (Rasulullah) orang yang mengundi nasib dengan burung dan sejenisnya atau minta diundikan untuknya, meramal sesuatu yang ghaib (dukun) atau minta diramalkan untuknya atau melakukan sihir atau minta disihirkan untuknya”.

(diriwayatkan oleh Al Bazar dalam musnadnya dan dishohihkan oleh syaikh Al Albani).

Seorang muslim hendaknya mengambil sebab untuk membentengi diri dari sihir diantaranya adalah dengan menjaga dzikir-dzikir yang disyariatkan seperti dzikir pagi dan petang, dzikir-dzikir setelah shalat 5 waktu, dzikir akan tidur, mau makan, keluar rumah, masuk rumah, masuk dan keluar kamar kecil, dll.

Selain itu, membersihkan diri dan juga rumah dari perkara-perkara yang membuat ridho setan seperti jimat-jimat, musik, gambar makhluk bernyawa, dll. Bila Qadarullah terkena sihir maka hendaknya bersabar, merendahkan diri kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla, memohon dariNya kesembuhan, dan berpegang dengan ruqyah-ruqyah yang disyariatkan. Jangan sekali-kali dia berusaha untuk menghilangkan sihir dengan cara meminta bantuan jin baik secara langsung maupun lewat bantuan dukun, paranormal, dan yang sejenisnya.

Semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita dari segala kejelakan di dunia dan di akhirat.


Kamis, 21 Januari 2021

Halaqah 14 - Berlebihan Terhadap Orang Shalih Pintu Kesyirikan



Halaqah yang ke-14 “Berlebihan terhadap orang shalih adalah pintu kesyirikan.”

Orang yang shalih adalah orang yang baik karena mengikuti syariat Allāh, baik dalam hal aqidah, ibadah maupun dalam hal muamalah. Mereka memiliki derajat yang berbeda-beda di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.


Terhadap orang shalih, seorang Muslim diperintahkan untuk:

1. Mencintai mereka.

2. Mengikuti jejak mereka dalam kebaikan.

Berteman & bermajlis dengan mereka adalah sebuah keberuntungan. Membaca perjalanan hidup mereka bisa menambah keimanan & meneguhkan hati kita. Menghormati mereka juga diperintahkan selama masih dalam batas yang diizinkan agama.


Namun, berlebih-lebihan terhadap orang yang shalih, seperti:

1. Mendudukkan mereka di atas kedudukannya sebagai manusia. 

2. Mensifati mereka dengan sifat-sifat yang tidak pantas kecuali untuk Allāh.

Maka ini hukumnya haram (tidak diperbolehkan oleh agama) karena menjadi pintu terjadinya kesyirikan & penyerahan sebagian ibadah kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.


Mencintai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melebihi cinta kita kepada orang tua, anak & semua manusia adalah sebuah kewajiban agama, sebagaimana disebutkan dalam hadits,


لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ



"Tidak beriman salah seorang diantara kalian, sampai Aku lebih dia cintai daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia."

(H.R. Bukhari - Muslim)


Namun, Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang kita (untuk) berlebih-lebihan terhadapnya, dengan mendudukkan Beliau di atas kedudukan Beliau yang sebenarnya, yaitu sebagai hamba Allāh & seorang Rasul.


Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:


لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.

“Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan terhadap ‘Īsā ibn Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya maka katakanlah. ‘Hamba Allāh & Rasul-Nya’.”

(H.R. Al Bukhari)


Beliau (Rasul) adalah seorang hamba, maka tidak boleh disembah. Beliau adalah seorang rasul, maka tidak boleh dicela & diselisihi.

Apabila berlebih-lebihan terhadap (sebaik-baik manusia yaitu) Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak diperbolehkan, maka bagaimana dengan yang lain?

Diantara bentuk ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang yang shalih adalah:

⑴ Meyakini bahwasa mereka mengetahui ilmu ghaib

⑵ Membangun di atas kuburan mereka

⑶ Beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā di samping kuburan mereka


Paling parah adalah menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla melapangkan hati kita untuk menerima kebenaran.

Rabu, 20 Januari 2021

Halaqah 13 Tentang Syafā’at.



Halaqah yang ke-13 dari Silsilah Ilmiah belajar tauhid adalah tentang Syafā’at.


🔰 Syafā’at adalah meminta kebaikan bagi orang lain di dunia maupun di akhirat.

🔰 Allâh dan Rasul-Nya telah mengabarkan kepada kita tentang adanya syafā’at pada hari kiamat.

🔰 Diantara bentuknya adalah bahwasanya Allāh mengampuni seorang muslim dengan perantara do’a orang yang telah Allāh izinkan untuk memberikan syafa’at.


🔖 Syafa’at akhirat harus kita imani dan kita berusaha untuk meraihnya.

🔖 Adapun modal utama untuk mendapatkan syafā’at akhirat adalah bertauhid dan bersihnya seseorang dari kesyirikan.


Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda ketika beliau mengabarkan tentang bahwasanya beliau memiliki syafā’at pada hari kiamat, beliau mengatakan:


فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ الله مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لا يُشْرِكُ بِالله شَيْئًا


“Syafa’at itu akan didapatkan insyā’ Allāh oleh setiap orang yang mati dari umatku yang tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim)


Merekalah orang-orang yang Allāh ridhai karena ketauhidan yang mereka miliki.


Allâh berfirman:


…وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ…


“…Dan mereka (yaitu para nabi para malaikat dan juga yang lain) tidak memberikan syafā’at kecuali bagi orang-orang yang Allāh ridhai…”. (Surat Al-Anbiyaa’ 28)


🔖 Syafā’at di akhirat ini berbeda dengan syafā’at di dunia.

🔖 Karena seseorang pada hari kiamat tidak bisa memberikan syafā’at bagi orang lain kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, sampai meskipun dia seorang nabi atau seorang malaikat sekalipun.


Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’ālā :


ﻣَﻦ ﺫَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻳَﺸْﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫْﻧِﻪِۦ ٓ


“Tidaklah ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh Ta’ālā kecuali dengan izin-Nya.” (Al-Baqarah 255)


🔖 Oleh karena itu permintaan syafā’at hanya ditujukan kepada Allāh, Zat yang memilikinya. Seperti seseorang mengatakan di dalam  do’anya, “Ya Allāh, aku meminta syafa’at Nabi-Mu .” Ini adalah cara meminta syafā’at yang diperbolehkan.


🔖 Bukan dengan meminta langsung kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam seperti mengatakan, “Ya Rasūlullāh, berilah aku syafā’atmu.” Atau dengan cara menyerahkan sebagian ibadah kepada makhluk dengan maksud meraih syafā’atnya.


🚫 Karena cara seperti ini adalah cara yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin zaman dahulu.


Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:


ﻭَﻳَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻀُﺮُّﻫُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻬُﻢْ ﻭَﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻫَٰﺆُﻟَﺎﺀِ ﺷُﻔَﻌَﺎﺅُﻧَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺗُﻨَﺒِّﺌُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑِﻤَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﻟَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ۚ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰٰ ﻋَﻤَّﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥ


“Dan mereka menyembah kepada selain Allāh, sesuatu yang tidak memudharati mereka dan tidak pula memberikan manfaat dan mereka berkata: “Mereka adalah pemberi syafa’at bagi kami disisi Allāh”. Katakanlah: “Apakah kalian akan mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui di langit maupun di bumi?”. Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.” (surat Yunus 18)


Itulah yang bisa kami sampaikan pada halaqoh kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

Selasa, 19 Januari 2021

Halaqah 12 Berdoa Kepada Selain Allah Termasuk Syirik Besar

Berdo’a kepada Allāh adalah seseorang menghadap Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan maksud supaya Allāh mewujudkan keinginannya, baik dengan meminta atau dengan merendahkan diri, mengharap dan takut kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Berdo’a dengan makna di atas adalah ibadah.


Berkata An-Nu’mān Ibnu Basyīrin radhiyallāhu ‘anhu :

“Aku mendengar Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallama bersabda:

الدعاء هو العبادة

‘Do’a adalah ibadah.’


Kemudian Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam membaca ayat:

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ

“Dan Rabb kalian berkata : ‘Berdo’alah kalian kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkan kalian. Sesungguhnya orang- orang yang sombong dari beribadah kepadaKu, mereka akan masuk ke dalam neraka jahanam dalam keadaan terhina’.”

(Q.S. Ghāfir: 60)


(H.R. Abū Dāwūd, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh).



Dan makna “beribadah kepadaKu” pada ayat ini adalah “berdoa kepadaKu”.

Apabila do’a adalah ibadah yang merupakan hak Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata, maka berdo’a kepada selain Allāh dengan merendahkan diri di hadapannya, mengharap dan juga takut kepadanya, sebagaimana ketika dia mengharap dan takut kepada Allāh adalah termasuk syirik besar.


Dan termasuk jenis do’a adalah:

1. Istighātsah (meminta dilepaskan dari kesusahan)

2. Isti’ādzah (meminta perlindungan)

3. sti’ānah (meminta pertolongan)

Apabila di dalamnya ada perendahan diri, pengharapan dan takut, maka ini adalah ibadah, hanya diserahkan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata.


Namun, perlu diketahui bahwasanya boleh seseorang beristighātsah, beristi’ādzah, beristi’ānah kepada seorang makhluk dengan 4 syarat:

1. Makhluk tersebut masih hidup.

2. Dia berada di depan kita atau bisa mendengar ucapan kita.

3. Dia mampu sebagai makhluk untuk melakukannya.

4. Makhluk tersebut diyakini hanya sebagai sebab, sehingga tidak boleh bertawakkal kepada sebab tersebut. Akan tetapi, bertawakkal kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang menciptakan sebab tersebut.


Orang yang beristighātsah, beristi’ādzah atau beristi’ānah kepada orang yang sudah mati atau kepada orang yang masih hidup, tetapi tidak berada di depan kita atau tidak mendengar ucapan kita atau meminta makhluk perkara yang tidak mungkin bisa melakukan kecuali Allāh, maka ini termasuk syirik besar.


Minggu, 17 Januari 2021

Halaqah 11. Ar-Ruqyah (Jampi-jampi)


Halaqah yang ke-11 dari Silsilah Belajar Tauhid adalah tentang “Ar-Ruqyah (Jampi-jampi)”
Ar Ruqyah yaitu bacaan yang dibacakan kepada orang yang sakit supaya sembuh.
Bacaan ini diperbolehkan selama tidak ada kesyirikan.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺮْﻗِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻓَﻘُﻠْﻨَﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﺮَﻯ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻋْﺮِﺿُﻮﺍ ﻋَﻠَﻲَّ ﺭُﻗَﺎﻛُﻢْ ﻟَﺎ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟﺮُّﻗَﻰ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻓِﻴﻪِ ﺷِﺮْﻙٌ

Dari ‘Auf bin Mālik radiyallāhu ‘anhu berkata; Kami dahulu meruqyah di zaman Jahiliyyah, maka kami bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam :
“Yā Rasūlullāh, apa pendapatmu tentang ruqyah ini?”
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :
“Perlihatkanlah kepadaku ruqyah-ruqyah kalian, sesungguhnya ruqyah tidak mengapa selama tidak ada kesyirikan”.
(H.R. Muslim).

Ruqyah yang tidak ada kesyirikan seperti ruqyah dari:
• Ayat-ayat Al Qur’an
• Do’a-do’a yang diajarkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam (ini lebih utama).
• Do’a-do’a lain yang diketahui kebenaran maknanya baik dengan bahasa Arab maupun dengan selain bahasa Arab.

Hendaknya orang yang meruqyah ataupun yang diruqyah meyakini bahwasanya ruqyah hanyalah sebab semata, tidak berpengaruh dengan sendirinya dan tidak boleh seseorang bertawakal kepada sebab tersebut.
Seorang Muslim mengambil sebab dan bertawakkal kepada Dzat yang menciptakan sebab tersebut, yaitu Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ruqyah yang mengandung kesyirikan adalah jampi-jampi atau bacaan yang mengandung permohonan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla, baik kepada seorang jin, wali atau lainnya, biasanya disebutkan disitu nama-nama mereka.
Tidak jarang jampi-jampi seperti ini dicampur dengan ayat-ayat Al-Qurān atau dengan nama-nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla atau dengan kalimat yang berasal dari bahasa Arab.
Tujuannya untuk mengelabui orang-orang yang jahil dan tidak tahu.

Ruqyah yang mengandung kesyirikan telah dijelaskan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam sabda Beliau:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮُّﻗَﻰ ﻭَﺍﻟﺘَّﻤَﺎﺋِﻢَ ﻭَﺍﻟﺘِّﻮَﻟَﺔَ ﺷِﺮْﻙٌ
’’Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat dan juga pelet adalah syirik’’.
(H.R. Abū Dāwūd, Ibnu Mājah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh)


Kamis, 14 Januari 2021

Halaqah 10. Termasuk Syirik Bernadzar Untuk Selain Allāh


Halaqah yang ke-10 dari Silsilah Belajar Tauhid berjudul “Termasuk Syirik Bernadzar Untuk Selain Allāh”
Bernadzar untuk Allāh adalah seseorang mengatakan, misalnya:
“Wajib bagi saya melakukan ibadah ini dan itu untuk Allāh”
atau dengan mengatakan:
“Saya bernadzar untuk Allāh bila terlaksana hajat saya”.
Bernadzar adalah ibadah dan suatu bentuk pengagungan.
Karenanya bernadzar tidak diperkenankan kecuali untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata, seperti:
• Seseorang bernadzar untuk Allāh akan berpuasa 1 hari bila lulus ujian, atau
• Bernadzar untuk Allāh akan mengadakan umroh bila sembuh dari penyakit,
• Dan lain-lain.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ ۗ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
’’Dan apa yang kalian infaqkan atau yang kalian nadzarkan maka sesungguhnya Allāh mengetahuinya.’’
(Q.S. Al-Baqarah: 270)

Di dalam ayat ini, Allah Subhānahu wa Ta’āla mengabarkan bahwasanya Allāh mengetahui nadzar para hambaNya di dalam ayat ini dan akan membalas dengan balasan yang baik.
Ini menunjukan bahwasa nadzar adalah ibadah yang seorang Muslim akan diberikan pahala atas nadzar tersebut.
Menunaikan nadzar apabila dalam keta’atan hukumnya adalah wajib, berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَلْيُوفُوا نُذُورَهُم
’’Dan supaya mereka menunaikan nadzar-nadzar mereka‘’.
(Q.S. Al-Hajj: 29)

Dan sabda Nabi Shallallāhu ‘ ‘alayhi wasallam:

ﻣَﻦْ ﻧَﺬَﺭَ ﺃَﻥْ ﻳُﻄِﻴﻊَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﻠْﻴُﻄِﻌْﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻧَﺬَﺭَ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﺼِﻴَﻪُ ﻓَﻼَ ﻳَﻌْﺼِﻪِ
’’Barangsiapa yang bernadzar untuk menta’ati Allāh maka hendaknya menta’atinya, dan barang siapa yang bernadzar untuk memaksiati Allāh, maka janganlah dia memaksiatiNya”.
(H.R. Al-Bukhāri)

Bernadzar untuk selain Allāh adalah termasuk syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam, seperti seseorang bernadzar apabila sembuh dari penyakit maka akan menyembelih untuk wali fulan atau berpuasa untuk syaikh fulan dan lain-lain.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla  melindungi kita dan keturunan kita dari perbuatan syirik.

Rabu, 13 Januari 2021

Halaqah 09. Menyembelih Untuk Selain Allāh Termasuk Syirik Besar



Halaqah yang ke-9 dari Silsilah Belajar Tauhid berjudul “Menyembelih Untuk Selain Allāh Termasuk Syirik Besar”.

Menyembelih termasuk ibadah yang agung di dalam agama Islam. Didalamnya ada pengagungan terhadap Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Rabb semesta alam.


Wujud cinta dengan mengorbankan sebagian harta kita untuk Allāh, seperti:

• Ibadah kurban di hari raya

• ‘Aqiqah

• Dan juga hadyu bagi sebagian jama’ah haji.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memerintahkan kita menyerahkan ibadah yang mulia ini hanya untuk Allāh semata, sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla :


ﻓَﺼَﻞِّ ﻟِﺮَﺑِّﻚَ ﻭَﺍﻧْﺤَﺮْ


’’Maka shalatlah dan menyembelihlah untuk Tuhanmu”.

(Q.S. Al-Kautsar: 2).


Barang siapa yang menyerahkan ibadah meyembelih ini untuk selain Allāh dalam rangka mengagungkan dan mendekatkan diri kepada selain Allāh, baik kepada Nabi, wali atau jin dan lain-lain, maka dia:

• Telah terjatuh kedalam syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam

• Membatalkan amalannya, dan

• Terkena ancaman laknat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:


َﻟَﻌَﻦَ الله ﻣَﻦْ ﺫَﺑَﺢَ ﻟِﻐَﻴْﺮِ الله


’’Allāh melaknat seseorang yang menyembelih untuk selain Allāh”.

(H.R. Muslim).


Dan makna laknat adalah dijauhkan dari rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.


Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kita sebagai seorang muslim berkurban dan menyembelih untuk selain Allāh, sedikitpun, meskipun dengan seekor lalat, dengan harapan untuk mendapatkan manfaat atau terhindar dari mudharat.


Sebagai seorang Muslim harus yakin bahwa manfaat dan juga mudharat ditangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla semata dan hanya kepadaNya-lah seorang muslim bertawakal.

Selasa, 12 Januari 2021

Halaqah 08 Bertabaruk Mencari Barakah



Halaqah yang ke-8 dari “Silsilah Belajar Tauhid berjudul Bertabarruk (Mencari Barakah).”

Barakah adalah banyaknya kebaikan dan langgengnya.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah Dzat yang berbarakah, artinya Dzat yang banyak kebaikannya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ اللهُ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ
"Dialah Allah, yang banyak barakahnya, Rabb semesta alam"
(Q.S. Al-A’rāf: 54)

Allāh juga yang memberikan keberkahan atau kebaikan kepada sebagian makhlukNya, sehingga makhluk tersebut menjadi makhluk yang berbarakah dan banyak kebaikannya."

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

’’Sesungguhnya rumah yang pertama yang diletakkan bagi manusia untuk beribadah adalah rumah yang ada di Makkah yang berbarakah dan petunjuk bagi seluruh alam‘’. 
(Q.S. Āli ‘Imrān: 96)

Ka’bah diberikan barakah oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan cara mendapatkan barakahnya (kebaikannya) adalah dengan melakukan ibadah disana.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
’’Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qurān pada malam yang berbarakah, sesungguhnya Kami memberi peringatan’’.
(Q.S. Ad-Dukhān 3)

Malam Laylatul Qadr adalah malam yang berbarakah. Cara mendapatkan barakah dan juga kebaikannya adalah dengan melakukan ibadah di malam tersebut.
Seorang ulama berbarakah dengan ilmunya dan dakwahnya. Cara mencari keberkahannya dan juga kebaikannya adalah dengan menimba ilmu dari ulama tersebut.
Disana ada barakah yang sifatnya dzatiyah, yaitu dzat yang berbarakah, dimana barokah seperti ini bisa berpindah. Barokah jenis ini hanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla berikan kepada para Nabi dan Rasūl.
Oleh karena itu, dahulu para shahābat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bertabarruk dengan:
• Bekas wudhū’ Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam
• Rambut Beliau
• Keringat Beliau
• Dan lain-lain.
Sepeninggal Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam, mereka tidak melakukan hal ini kepada Abū Bakr dan ‘Umar dan para shahābat yang lain. Hal tersebut menunjukan bahwa ini adalah kekhususan para Nabi dan juga para Rasul.

Meminta barakah hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dengan cara yang disyari’atkan. Adapun meminta barakah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan sebab yang tidak disyari’atkan seperti dengan:
• Mengusap dinding masjid tertentu
• Mengambil tanah kuburan tertentu
• Dan lain-lain
Maka ini termasuk dalam syirik kecil.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberkahi kita dan keluarga kita.

Senin, 11 Januari 2021

Halaqah 07 Termasuk Syirik Memakai Jimat



Halaqah yang ke-7 dari Silsilah Belajar Tauhid “Termasuk Syirik Memakai Jimat”.


Allāh Subhānahu Abdullā Ta’āla adalah Dzat yang memberi manfaat dan mudharat. Kalau Allāh menghendaki untuk memberikan manfaat kepada seseorang, maka tidak akan ada yang bisa mencegahnya. Demikian pula sebaliknya, ketika Allāh menghendaki untuk menimpakan musibah kepada seseorang, maka tidak akan ada yang bisa menolaknya.


Keyakinan tersebut melazimkan seorang Muslim untuk hanya bergantung kepada Allāh Subhānahu Abdullā Ta’āla semata. Dan merasa cukup dengan Allāh dalam usaha mendapatkan manfaat dan menghindari mudharat, seperti dalam mencari rejeki, mencari keselamatan, mencari kesembuhan dari penyakit dan lain-lain. Tidak bergantung sekali-kali kepada benda-benda yang dikeramatkan seperti jimat, wafaq, susuk dan lainnya.


Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:


مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ


’’Barangsiapa yang menggantungkan tamīmah (yaitu jimat dan yang semisalnya) maka sungguh dia telah berbuat syirik”.


(H.R. Ahmad dan dishahīhkan oleh Syaikh Al-Albani)


Apabila seseorang meyakini bahwa barang tersebut adalah sebab (perantara) saja maka hal tersebut termasuk syirik kecil, karena telah menjadikan sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab. Padahal, yang berhak untuk menentukan sesuatu itu sebagai sebab atau tidak adalah Dzat yang menciptakan yaitu Allāh. Dosa syirik kecil tidak bisa disepelekan karena dosa syirik kecil tetap lebih besar daripada dosa-dosa besar, seperti doza zina, dosa membunuh dan lain-lain.


Kemudian apabila seseorang meyakini bahwa barang tersebut dengan sendirinya memberikan manfaat dan memberikan mudharat maka ini termasuk syirik besar, yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.


Semoga Allāh Subhānahu Abdullā Ta’āla memudahkan kita dan saudara-saudara kita untuk meninggalkan perbuatan syirik yang sudah tersebar ini dan menjadikan ketergantungan hati kita dan mereka hanya kepada Allāh.

Minggu, 10 Januari 2021

Halaqah 06 Apa Itu Tauhid




Halaqah yang ke-6 dari Silsilah Belajar Tauhid yaitu “Apa itu Tauhid?”

Saudara sekalian, semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan pemahaman kepada kita semua.

Sebelum jauh melangkah di dalam Silsilah ini, tentunya harus benar-benar dipahami apa makna Tauhid yang wajib dipelajari dan diamalkan.


Tauhid

■ Secara bahasa adalah mengEsakan

■ Secara istilah adalah mengEsakan Allāh di dalam beribadah.


Seseorang tidak dinamakan bertauhid sehingga dia meninggalkan peribadatan kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla, seperti:

• Berdo’a kepada selain Allāh

• Bernadzar untuk selain Allāh

• Menyembelih untuk selain Allāh

• Dan lain-lain.


Apabila seseorang beribadah kepada Allāh dan menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allāh, siapapun dia, baik itu seorang Nabi, Malaikat atau yang lain, maka inilah yang dinamakan dengan syirik, yaitu menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam beribadah.


Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:


ﻭَﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﻷَﺑِﻴﻪِ ﻭَﻗَﻮْﻣِﻪِ ﺇِﻧَّﻨِﻰ ﺑَﺮَﺁﺀٌ ﻣِّﻤَّﺄ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ .ﺇِﻻَّ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻓَﻄَﺮَﻧِﻲ 


’’Dan ingatlah ketika Ibrāhīm berkata kepada bapaknya dan kaumnya ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Dzat yang telah menciptakanku'”

(Q.S. Az-Zukhrūf 26-27)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:


ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﻤَﺎ ﻳُﻌْﺒَﺪُ ﻣِﻦْ ﺩُﻭْﻥِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺣَﺮُﻡَ ﻣَﺎﻟُﻪُ ﻭَﺩَﻣُﻪُ ﻭَ ﺣِﺴَﺎﺑُﻪُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻠﻪِ


’’Barangsiapa yang mengatakan ‘’Lā ilāha illallāh’’ dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allāh maka haram hartanya dan darahnya (tidak boleh diganggu) dan perhitungannya (hisabnya) adalah atas Allāh‘’.

(H.R. Muslim)



Oleh karena itu, rukun kalimat Tauhid (Lā ilāha illallāh) ada 2 :

Nafi (pengingkaran). Nafi pada kalimat ‘’Lā ilāha’’ artinya tidak ada Tuhan yang berhak disembah. Maksudnya adalah mengingkari tuhan–tuhan selain Allāh.

Itsbat (penetapan) Itsbat pada kalimat ‘’illallāh” artinya kecuali Allāh. Maksudnya adalah menetapkan Allāh sebagai satu-satunya sesembahan.


Halaqah 20. Penjelasan Pokok Kelima Bagian 3

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlul As-Sittah (6 Kaidah), sebuah kitāb yang dikarang oleh Syaikh Muhammad...