Selasa, 25 Oktober 2022

Halaqah 10. Penjelasan Pokok Ketiga Bagian 1



 Halaqah yang ke sepuluh dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.

Beliau mengatakan,


اَلْأَصْلُ الثَّالِثُ :

أَنَّ مِنْ تَمَامِ الاجْتِمَاعِ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ لِمَنْ تَأَمَّرَ عَلَيْنَا وَلَوْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا


Perkara pokok yang ke tiga:


Sesungguhnya termasuk diantara kesempurnaan bersatu adalah mendengar dan taat kepada orang yang telah berkuasa atas kita (pemerintah atau para penguasa kita).

Beliau mengatakan ini adalah termasuk kesempurnaan persatuan, setelah beliau membahas tentang masalah bersatu di atas hak (diatas Al Qur’an, di atas hadits ) dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, maka beliau menyebutkan pada perkara yang ke tiga ini bahwasanya diantara yang menyempurnakan persatuan diantara kaum muslimin adalah apabila mereka mau mendengar dan taat kepada penguasanya.

Dan ucapan ini adalah ucapan yang hak.


Beliau mengatakan,

“Ini adalah kesempurnaan dari makna persatuan.”

Tidak mungkin kaum muslimin bisa bersatu, kecuali apabila di sana ada penguasa, ada pemerintah yang dia akan memberikan hak kepada yang berhak, melindungi orang yang terdholimi, ber-amar ma’ruf nahi munkar, menegakkan syar’iat dan melakukan perkara-perkara yang lain, baik yang berhubungan dengan dunia maupun yang berhubungan dengan ibadah yang tidak mungkin dilakukan kecuali apabila di sana ada penguasa.


Dan tidak bermanfaat adanya seorang penguasa dan pemerintah kecuali apabila rakyatnya, mereka mau mendengar dan taat kepada penguasa.

Seandainya di sana ada seorang penguasa, pemerintah di sebuah negara, akan tetapi rakyatnya tidak mau mendengar dan tidak mau mentaati apa yang datang darinya, baik berupa perintah maupun larangan, maka keberadaan penguasa tersebut sama dengan tidak adanya.

Oleh karena itu, ini pentingnya kita mendengar dan taat kepada pemerintah, tidak akan bersatu umat Islam kecuali dengan adanya penguasa, baik penguasa tersebut adalah penguasa yang shalih maupun penguasa yang tidak shalih.

Dan tidak bermanfaat yang dinamakan dengan penguasa atau pemerintah kecuali kita mau mendengar dan taat kepada pemerintah tersebut.


Oleh karena itu Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu (diriwayatkan dari beliau).

Bahwasanya beliau mengatakan,


لا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ


“Tidak ada Islam kecuali dengan berjam’ah, kecuali dengan bersatu. Dan tidak ada persatuan kecuali apabila di sana ada penguasa. Dan tidak ada kekuasaan kecuali dengan ketaatan.”

Islam tidak akan tegak kecuali dengan adanya persatuan diantara kaum muslimin. Karena banyak ibadah atau syar’iat di dalam agama Islam yang tidak mungkin ditegakkan kecuali dengan persatuan diantara kaum muslimin (persatuan antara rakyat dengan pemerintah dan diantara kaum muslimin).

Tidak mungkin kaum muslimin bersatu kecuali apabila di sana ada pemimpinnya.

Karena apabila sebuah kelompok, sekecil apapun, seandainya tidak ada pemimpin maka masing-masing merasa tidak dikuasai oleh orang lain, sehingga melakukan apa yang dia inginkan.

Tidak ada yang berhak untuk memerintah dia, tidak ada yang berhak untuk melarang dia, membuat peraturan sendiri, tidak mungkin sebuah kelompok sekecil apapun bisa bersatu kecuali apabila di sana ada pemimpinnya.


Oleh karena itu di dalam Islam, ketika seseorang safar bersama yang lain, ketika dalam bepergian, maka diperintahkan untuk mengangkat seorang pemimpin. Apalagi di dalam keadaan seseorang dalam keadaan muqim.

Tidak mungkin kelompok apapun, sekecil apapun bisa bersatu kecuali apabila memiliki pemimpin.

Oleh karena itu beliau mengatakan (radhiyallahu ‘anhu),

“Tidak ada persatuan kecuali apabila di sana ada imarah, ada kekuasaan. Dan tidak ada kekuasaan kecuali dengan ketaatan.”

Tidak bermanfaat (tidak berfaedah) yang dinamakan dengan kekuasaan kecuali apabila anggotanya, rakyatnya mentaati penguasa tersebut.

Di sini kita memahami hubungan yang erat antara Islam dan ketaatan kepada pemerintah.


Hubungan antara Islam dengan ketaatan kepada pemerintah adalah sangat erat, dan ini diucapkan oleh seorang khulafa’ur rasyidin yang kita diperintahkan untuk mengikuti sunnahnya.


عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ


Menunjukkan tentang pentingnya di dalam Islam, taat kepada penguasa dan juga pemerintah kita.


Nasehat orang yang berpisah, tentunya orang yang berpisah tersebut akan memilih nasehat yang luas maknanya, yang sangat penting bagi orang yang akan ditinggalkan.

Apa yang Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) katakan?


أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ


“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah.”


Nasehat pertama yang Beliau ucapkan kepada para sahabat adalah nasehat untuk bertaqwa kepada Allah.

Kemudian apa yang Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) katakan?


والسَّمْعِ وَالطَّاعَةَ لِمَنْ تَأَمَّرَ عَلَيكم ولو كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا


“Dan hendaklah kalian mendengar dan taat kepada orang yang telah menjadi amir (menjadi penguasa) bagi kalian meskipun dia adalah seorang budak dari Habasyah.”


Ini adalah nasehat Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada para sahabat.


Setelah beliau berwasiat untuk bertaqwa kepada Allah, maka wasiat beliau yang ke dua adalah mendengar dan taat kepada pemerintah kita (kepada penguasa kita) meskipun dia adalah seorang budak dari Habasyah.


Dan ini menunjukkan pentingnya mendengar dan taat. Bahkan Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menjadikan mendengar dan taat kepada pemerintah nomor dua setelah Beliau berwasiat dengan ketaqwaan kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

الله تعالى أعلم

Itu yang bisa kita sampaikan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaqah 20. Penjelasan Pokok Kelima Bagian 3

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlul As-Sittah (6 Kaidah), sebuah kitāb yang dikarang oleh Syaikh Muhammad...