Sabtu, 13 September 2014

Fabi ayyi ala irobbikuma tukazziban




Bahagia sebuah pernikahan itu tidak harus diukur dengan seberapa sukses karir suami seberapa banyak anak yang dimiliki, seberapa bagus rumah yg dimiliki , semahal apa mobil yang dikendarai...tapi seberapa banyak rasa cukup atau rasa syukur dihati yang bisa kita rasakan secara lahiriah maupun batiniah.
Saya bersyukur atas nikmat yang Allah cukupkan buat pernikahan ini. Allah memahami apa yang kita dapat berbuat yang terbaik untuk kebahagiaan pernikahan ini.



Memiliki anak mungkin memang dambaan setiap pasangan menikah, tapi saya yakin Allah pasti punya rencanaNya sendiri yang sudah tertuliskan indah dalam Lauhul MahfudzNya. Saya menikmati kebersamaan pernikahan ini dalam suka dukanya dalam senang dan susah.Disaat pasangan lain sibuk dengan kerewelan anak ,kerepotan mengurus anak , kesulitan membimbing anak maupun tanggung jawab / amanah mendidik anak kepada sang Khalik yang menciptakan kehidupan.Kami sadar bahwa harta dan anak adalah ujian bagi manusia sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Anfaal:28   " Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.”
Saya sempat bertanya -
tanya, dimana sih letak cobaannya?
Jika direnungkan kembali. Di awal-awal kita mendapatkan rezeki atau karunia Allah berupa harta ataupun anak, pernahkah terpikir oleh kita untuk semakin menambah ketaatan kita pada Allah yang telah memberikan semua itu ? Yang terjadi kebanyakan dari kita adalah semakin sibuknya kita dan semakin terkonsentrasikannya pikiran kita pada harta atau anak tersebut.  Apalagi pada saat masih  balita sedang lucu-lucunya. Ungkapan sayang dan kecintaan kita pada anak tersebut, kadang justru mengabaikan kewajiban-kewajiban syariat. Harta dan anak kecil kita adalah cobaan bagi “keimanan” kita. Cobaan bagi ketaatan kita untuk menjalankan ibadah.apakah kita sibuk dan terlenakan olehnya ataukah akan menyadari dan semakin menjadikan kita taat dan tidak hanya meluangkan waktu yang tersisa dari mengurus harta atau anak dan Allah yang Maha memberi hanya mendapatkan sisa perhatian kita?

Allah yang Maha Kaya akan memberikan kepada kita apa yang kita minta, sepanjang permintaan kita menyangkut kenikmatan dunia akan diberikan semua. Tidak peduli mereka yang taat kepadanya atau mereka yang mengingkariNya dengan tidak mau mengingatNya sama sekali. Semua kenikmatan dunia diberikannya, kita tinggal mengusahakannya untuk memperoleh semua kenikmatan dunia tersebut. Mengapa ? Sebab dunia ini, disamping berfungsi sebagai tanda-tanda kuasanya Allah swt, juga telah pula diberikan pula untuk kepentingan kita. Tetapi sadarkah kita kalau ada sebuah kepentingan yang lebih besar dari pada semua kenikmatan dunia ini ? Ada lebih banyak lagi perbekalan yang harus kita siapkan untuk kenikmatan yang lebih hakiki. Saat hawa nafsu dunia menguasai kita maka kitapun melupakan masa depan akhirat kita. Seberapa banyak bekal yang sudah kita kumpulkan untuk kehidupan akhir nanti?  Untuk itu kita perlu senantiasa mengedapankan bahwa Allah lah tempat kita kembali, seberapa berat masalahmu di dunia , tidak akan sebanding dengan penderitaan yang akan di hadapi hari akhir nanti. Untuk itu manusia senantiasa akan selalu di uji agar tidak dimabukkan dengan kebutuhan dunia saja , perkara harta dan anak dan segala pernak pernik dunia merupakan ujian yang Allah timpakan kepada hambanya untuk menguji kesungguhannya dalam beriman dan ketergantungannya seorang hamba kepada Rabbnya , dan saya yakin Allah tidak akan membebankan suatu ujian kepada seorang hamba jika hamba tersebut tidak sanggup memikulnya. sebagaimana firman Allah dalam surat Al baqoroh  286 : La yukallifullahu nafsan illa wus'aha 



Dengan ujian jika kita dapat menyikapinya dan ridho terhadapanya , perlahan Allah akan buka kan jalan jalan menuju kebahagiaan.  Maka kembali kepada Allah adalah jalan yang paling baik karena Allah akan membukakan pintu pintu kebaikan untuk kita. 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 


Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan padanya , Allah akan pahamkan ia dalam masalah agama ( ini ). ( HR. Al Bukhari & Muslim ). 

Alhamdulillah , pintu pintu itu mulai terbuka saat kami merasakan kesempitan menjalani ujian kami, satu per satu kami mulai dibukakan untuk mengenal kajian demi kajian yang akhirnya membawa kami mengenal kajian sunnah. Kami mulai mendapatakan sedikit demi sedikit pemahaman - pemahaman yang lurus tentang AlQuran dan Hadist, karenan jika hati masih dipenuhi hawa nafsu dunia , maka tidak akan dapat memahami Alquran dan Hadist dengan benar. Alhamduillah kami sangat bersyukur dan ridho dengan segala ketetapanMu ya Allah , kami sangat bersyukur kamrena Engkau beri keleluasaan bagi kami untuk dapat beribadah. Bismillah Ten years and more years to go until Jannah, aamiinn Allahumma Aamiin. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaqah 20. Penjelasan Pokok Kelima Bagian 3

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlul As-Sittah (6 Kaidah), sebuah kitāb yang dikarang oleh Syaikh Muhammad...