Halaqah yang ke dua dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.
Kemudian beliau mengatakan,
مِنْ أَعْجَبِ الْعُجَابِ ، وَأَكْبَرِ الآيَاتِ الدَّالَةِ عَلَى قُدْرَةِ الْمَلِكِ الْغَلَّابِ سِتَّةُ أُصُوْلٍ بَيَّنَهَا اللهُ تَعَالَى بَيَانًا وَاضِحًا لِلْعَوَّام فَوْقَ مَا يظُنُّهُ الظَّانُّوْنَ
“Termasuk sesuatu yang paling mengherankan, yang paling menakjubkan, dan termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang paling besar yang menunjukkan tentang kekuasaan Allah, Dzat yang Maha Menguasai.
Perkara-perkara atau pokok-pokok yang dijelaskan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan penjelasan yang sangat jelas bahkan dipahami oleh orang-orang awam, orang-orang yang biasa di dalam kecerdasannya di atas dari apa yang disangka oleh orang-orang yang menyangka.”
ثمَّ بَعدَ هَذا غَلِطَ فيها كَثيرٌ مِن أَذكِياءِ الْعَالَـم
“Kemudian setelah itu salahlah kebanyakan dari orang-orang yang cerdas diantara manusia ini.”
وَعُقَلَاءُ ابنِ آدَمَ
“Dan orang-orang yang berakal dari anak-anak Adam.”
إِلَّا أَقَلَّ الْقَلِيْلِ
“Kecuali sedikit saja diantara mereka.”
Maksud dari ucapan beliau rahimahullah di dalam muqaddimah kitab beliau ini,
“Bahwasanya di sana ada perkara-perkara (yang maksudnya adalah enam perkara yang selalu akan beliau sebutkan) yang telah Allah jelaskan di dalam Al Quranul Karim dengan penjelasan yang sangat jelas.
Sampai saking jelasnya, perkara-perkara ini dipahami oleh orang-orang yang awam sekalipun atau kasarannya orang yang bodoh, orang yang jahil. Akan tetapi ternyata banyak diantara orang-orang yang cerdas salah di dalam memahami perkara ini.”
Dipahami oleh sebagian orang, bahkan orang yang awam, akan tetapi di sana ada orang yang cerdas atau bahkan dianggap pintar dan ulama oleh sebagian manusia, akan tetapi ternyata dia salah di dalam memahami enam perkara ini.
Ini adalah maksud dari ucapan beliau rahimahullah di dalam muqaddimah kitab ini.
Sebelum beliau menyebutkan enam perkara ini, beliau ingin menyampaikan kepada kita, mengingatkan kepada kita, bahwasanya perkara-perkara yang akan beliau sebutkan, dipahami oleh orang awam akan tetapi banyak orang yang cerdas dan mengaku dia adalah mengemban ilmu agama ternyata dia salah di dalam memahami perkara tersebut
Dan ini menunjukkan kepada kita bahwasanya hidayah dan taufiq adalah di tangan Allah Subhānahu wa Ta’āla, tidak berkaitan dengan kecerdasan seseorang.
Terkadang Allah Subhānahu wa Ta’āla menunjukkan Al Haq (kebenaran) kepada seorang yang mungkin diantara manusia dianggap sebagai orang yang awam. Namun Allah mengharamkan kebenaran ini dari sebagian orang yang dianggap sebagai orang yang cerdas.
Dan ini menunjukkan bahwasanya hidayah dan taufiq (petunjuk) adalah di tangan Allah Subhānahu wa Ta’āla.
يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآء
“Allah Subhānahu wa Ta’āla menyesatkan siapa yang dikehendaki, dan memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki.”
(QS. An Nahl: 93/QS. Fathir: 8)
Meskipun dia adalah orang yang awam, dianggap terbelakang oleh sebagian orang, tetapi kalau Allah Subhānahu wa Ta’āla berkehendak memberikan hidayah kepadanya niscaya dia termasuk orang yang mendapatkan petunjuk.
Dan ini menjadikan kita untuk senantiasa merendahkan diri kita di hadapan Allah Subhānahu wa Ta’āla, meminta hidayah kepada-Nya.
Dan kita jangan bertawakal dengan ilmu yang kita miliki, kecerdasan yang kita miliki, meminta kepada Allah Subhānahu wa Ta’ala petunjuk supaya Allah menunjukkan kepada kita kebenaran dan menjauhkan kita dari syubhat dan juga kebathilan.
Itu yang bisa kita sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar