Selasa, 25 Oktober 2022

Halaqah 01. Muqqadimah Al Ushulus Sittah Bag 1


 

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi Rahimahullah.


Kita akan bersama-sama mempelajari tentang sebuah kitab yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi Rahimahullah yaitu 

kitab yang berjudul Al-Ushulu As-Sittah yang artinya enam kaidah.


Dan ini adalah termasuk karangan beliau yang sangat bermanfaat. Dan dia meskipun ringkas akan tetapi mengandung banyak faedah. Yang hendaknya seorang muslim mengetahui faedah-faedah ini.


Beliau menyebutkan di dalam kitab ini, enam perkara yang sangat penting.


Beliau adalah seorang ulama yang bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi.

Beliau lahir pada tahun 1115 Hijriyyah dan menimba ilmu agama ini semenjak kecil. 

Dan diantara gurunya adalah bapak beliau sendiri, demikian pula ulama-ulama besar yang lain di zaman beliau, seperti Asy Syaikh Muhammad Al Hayah As Sindi, dan juga yang lain.


Dan di dalam mencari ilmu, beliau telah pergi ke beberapa daerah, diantaranya adalah ke Basrah, demikian pula ke daerah-daerah di Hijaz seperti Mekkah dan juga Madinah dan menimba ilmu dari para ulama yang tinggal di sana.


Dan hampir-hampir beliau menuju ke kota Syam (daerah Syam) untuk menimba ilmu di sana, hanya karena ada rintangan dan halangan tertentu akhirnya beliau mengurungkan niatnya.

Dan beliau termasuk ulama yang gigih di dalam menghidupkan Al Qur’an, menghidupkan As Sunnah, mengajak manusia kembali kepada Allah, bertauhid kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.


Dan beliau meninggal pada tahun 1206 Hijriyyah. 

Dan telah meninggalkan karangan yang sangat banyak, yang sangat bermanfaat.

Diantaranya adalah:

– Al Ushul Ats-Tsalatsah

– Al Qawa’idul Arba’

– Ushulul Iman

– Kasyfusy Syubuhat

– Kitabut Tauhid


Dan diantaranya adalah kitab yang Insya Allah akan kita pelajari yaitu Al-Ushulu As-Sittah.

Beliau berkata,

بسم الله الرحمن الرحيم

Memulai kitabnya dengan basmalah.

Meniru dan mengikuti apa yang Allah lakukan di dalam Al Qur’anul Karim, karena Allah Subhānahu wa Ta’āla memulai kitabnya dengan basmalah.

Demikian pula mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ ketika Beliau menulis surat yang isinya adalah dakwah kepada raja-raja yang ada di zaman Beliau ﷺ. Beliau memulai kitabnya dengan basmalah.

Oleh karena itu di sini pengarang memulai kitabnya dengan basmalah



Dan ب di sini adalah ب al-isti’anah yaitu ب yang fungsinya untuk memohon pertolongan.

Orang yang mengatakan بسم الله pada hakikatnya dia telah memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ismillah dengan nama Allah.


Kalimat yang mufrad, yang tunggal, yaitu ism dan dia disandarkan kepada kalimat lafdzul jalalah dan ini maknanya adalah mencakup seluruh nama Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Orang yang mengatakan بسم الله berarti dia telah beristi’anah (memohon) pertolongan dengan seluruh nama Allah Subhānahu wa Ta’āla.


Allah (lafdzul jalalah) adalah nama Allah yang paling a’dham (paling besar) yang disandarkan kepadanya nama-nama Allah yang lain.


Oleh karena itu setelahnya disebutkan Ar-Rahman Ar-Rahim. Dan Ar-Rahman Ar-Rahim adalah nama diantara nama-nama Allah.

Diambil dari Ar-Rahmah yang artinya kasih sayang.

Dan perbedaan antara Ar-Rahman dengan Ar-Rahim disebutkan oleh para ulama diantaranya adalah:


Ar-Rahman adalah kasih sayang Allah yang lebih umum mencakup orang yang beriman dan mencakup orang yang kafir kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Orang kafir juga mendapatkan bagian dari kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Allah memberikan rezeki kepada mereka, memberikan makan kepada mereka, memberikan minum kepada mereka, memberikan kesehatan kepada mereka, memberikan anak, memberikan istri, memberikan harta, dan ini semua adalah termasuk kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla.


Adapun Ar-Rahim, maka mengandung rahmat, mengandung kasih sayang yang lebih khusus yaitu kasih sayang yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman.

Berupa hidayah kepada jalan yang lurus, berupa keimanan, berupa rasa tenang ketika dzikrullah.

Ini semua adalah termasuk kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla akan tetapi dikhususkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla kepada orang-orang yang beriman dengan Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Itu yang bisa kita sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaqah 20. Penjelasan Pokok Kelima Bagian 3

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlul As-Sittah (6 Kaidah), sebuah kitāb yang dikarang oleh Syaikh Muhammad...