Halaqah yang ke empat dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.
Kemudian beliau mengatakan,
ثمَّ لَـمَّا صارَ عَلى أَكْثَرِ الأُمَّةِ مَا صارَ؛ أَظْهَرَ لَـهُمُ الشَّيْطانُ الإخْلاصَ في صُورَةِ تَنَقُّصِ الصَّالِحينَ وَالتَّقْصيرِ في حُقوقِهِمْ، وَأَظْهَرَ لَهُمُ الشِّرْكَ بِاللهِ في صُورَةِ مَحبَّةِ الصَّالِحينَ وَاتِّباعِهِمْ
Kemudian ketika menimpa umat ini apa yang menimpanya berupa kejahilan dan lain-lain, maka syaithan menampakkan kepada mereka, bahwasanya keikhlasan dan tauhid ini adalah sebagai bentuk penghinaan dan peremehan terhadap orang-orang yang shalih.
Ketika menimpa umat ini kebodohan, dan mereka jauh dari ilmu agama, jauh dari bimbingan para ulama, jauh dari petunjuk Al Qur’an dan juga hadits, maka syaithan menampakkan kepada mereka, bahwasanya tauhid (meng-Esa-kan Allah Subhānahu wa Ta’āla) itu artinya adalah meremehkan orang-orang yang shalih dan meremehkan hak-hak meraka. Dan ini adalah salah satu bentuk talbis dari syaithan dalam usaha menyesatkan manusia.
Syaithan menampakkan di mata manusia bahwasanya orang yang bertauhid berarti dia adalah orang yang tidak menghormati orang yang shalih, tidak menghormati Nabi, tidak menghormati wali.
Dan untuk memperjelas perkara ini kita terangkan kembali bagaimana kisah nabi Nuh alayhissallam bersama kaumnya dan bagaimana awal terjadinya kesyirikan di permukaan bumi ini.
Di zaman nabi Nuh alayhissallam, ada lima orang yang shalih yang dikenal oleh kaumnya dengan ibadahnya, dengan amalannya, dengan keshalihannya.
Ketika mereka berlima ini meninggal dunia, datanglah syaithan dan mewahyukan kepada mereka (kaum nabi Nuh) supaya mereka membuat patung-patung, kemudian dinamakan dengan nama orang-orang yang shalih tersebut.
Tujuannya adalah supaya ketika mereka merasa malas di dalam beribadah, ketika mereka melihat orang-orang shalih tersebut berada di hadapan mereka di majelis mereka, meskipun sebagai patung, diharapkan mereka bisa bersemangat kembali, mengingat tentang keshalihan mereka dan semangat di dalam beribadah kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla
Ketika generasi ini meninggal dunia, datang kembali syaithan dan mengatakan kepada orang-orang tersebut, bahwasanya bapak-bapak kalian dahulu membuat patung-patung ini, tujuannya adalah untuk diibadahi, disembah.
Dan telah dilupakan ilmu, maka akhirnya mereka menyembah orang-orang shalih tersebut yang dibuat simbolnya berupa patung. Ini adalah awal terjadinya kesyirikan di permukaan bumi.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,
وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّۭا وَلَا سُوَاعًۭا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًۭا
Dan mereka berkata, “Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan janganlah kalian tinggalkan Waddan, Suwa’an, Yaghuts dan Ya’uq dan juga Nasr.”
(QS. Nuh: 23)
Mereka ini adalah lima nama orang yang shalih. Ini adalah nama orang-orang shalih yang meninggal yang kemudian disembah oleh kaumnya nabi Nuh alayhissallam.
Ketika terjadi kesyirikan pertama kali di permukaan bumi yang dilakukan oleh kaumnya nabi Nuh alayhissallam, akhirnya Allah Subhānahu wa Ta’āla mengutus nabi Nuh yang merupakan rasul yang pertama.
Allah mengutus nabi Nuh alayhissallam kepada mereka untuk mengajak mereka kembali kepada tauhid dan menjauhi kesyirikan ini.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,
وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُ
Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka beliau berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian selain Dia.”
(QS. Al Mu’minun: 23)
Beliau mengingatkan umatnya siang dan malam dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan selama 950 tahun, mengajak mereka untuk kembali kepada Allah. Mengingatkan mereka bahwasanya ini adalah termasuk perbuatan syirik yang tidak diridhai oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla. Meskipun yang disembah adalah orang-orang shalih. Mengajak mereka untuk bertauhid dan meng-Esa-kan ibadah ini hanya untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla.
Namun ternyata yang mengikuti dakwah beliau dan ajakan beliau adalah orang yang sangat sedikit dan menganggap bahwasanya apabila kita hanya menyembah Allah Subhānahu wa Ta’āla, seakan-akan kita ini telah meremehkan orang-orang yang shalih. Ini adalah termasuk talbis dari iblis laknatullah).
Menganggap (menunjukkan) di mata manusia bahwasanya ikhlas kepada Allah berarti kita harus meremehkan dan merendahkan kedudukan orang-orang yang shalih.
Oleh karena itu banyak diantara mereka yang menolak dakwahnya nabi Nuh alayhissallam.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,
وَقَالُواْ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمۡ……..
(QS. Nuh: 23)
Mereka saling berwasiat diantara mereka, “Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian.”
√ Kita harus menghormati orang yang shalih
√ Kita harus menjunjung tinggi kedudukan mereka
Apabila diminta dan diseru hanya menyembah kepada Allah, hati mereka resah, hati mereka gelisah.
وَإِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُ ٱشۡمَأَزَّتۡ قُلُوبُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِۖ وَإِذَا ذُكِرَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ
(QS. Az-Zumar: 45)
Apabila hanya disebutkan Allah saja, ketika diminta hanya bertauhid kepada Allah, hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat menjadi resah, gelisah, tidak tenang hatinya ketika disebutkan hanya Allah Subhānahu wa Ta’āla saja.
Tapi ketika disebutkan bersama Allah yang lain, maka tiba-tiba hati mereka menjadi sangat gembira, bahagia.
Oleh karena itu di sini beliau mengatakan,
“Syaithan menampakkan kepada mereka, bahwasanya ikhlas dan tauhid berarti kita harus meremehkan orang-orang yang shalih.”
Dan ini sekali lagi adalah termasuk talbis syaithan yang sudah berjanji dari awal di hadapan Allah Subhānahu wa Ta’āla untuk menyesatkan manusia dan menghias-hiasi diantara mereka yang bathil menjadi benar, yang benar menjadi bathil dengan berbagai cara.
Bagaimana supaya mereka menyimpang dari shirathal mustaqim, dari jalan yang lurus. Entah menyimpangnya ke kanan, atau ke kiri, atau ke atas, atau ke bawah, yang jelas mereka menyimpang dari jalan yang lurus. Dari mana bisa digoda, maka mereka akan menggodanya.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,
لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ۞
ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ۞
(QS. Al A’raf: 16-17)
(Iblis) berjanji untuk menyesatkan mereka dari shirathal mustaqim, dan akan didatangi baik dari kanannya, dari kirinya, dari atasnya, dari bawahnya, sehingga mereka menjadi orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.
Diantaranya adalah seperti yang disebutkan oleh Syaikh di sini, menghias-hiasi di mata manusia bahwasanya orang yang bertauhid berarti dia meremehkan orang-orang yang shalih.
Itu yang bisa kita sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar