Halaqah yang ke lima dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.
Kemudian beliau mengatakan,
وَأَظْهَرَ لَهُمُ الشِّرْكَ بِاللهِ فِي صُوْرَةِ مَحَبَّةِ الصَّالِحِيْنَ وَاتِّبَاعِهِمْ
Dan mereka (syaithan) menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan kepada Allah.
Dengan dipoles seakan-akan itu adalah termasuk mencintai orang-orang yang shalih dan mengikuti mereka.
Dan ini adalah termasuk makar dan juga tipu daya syaithan.
Tidak langsung mengatakan asyrikbillah (hendaklah engkau menyekutukan Allah), tidak!
Tapi menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan dan dipoles dengan mengatakan, “Ini adalah termasuk mencintai orang yang shalih.”o
Semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla memudahkan kita memahami agama ini, dan menampakkan kebenaran itu kebenaran dan menampakkan bahwasanya yang bathil adalah sesuatu yang bathil.
Di dalam agama Islam tidak ada pertentangan antara tauhid dan mencintai orang-orang yang shalih, ikhlas kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla, yang sesuai amalannya dengan Al Qur’an dan juga hadits-hadits Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang shalih baik dhahirnya maupun bathinnya.
Mereka adalah orang-orang yang memiliki kedudukan di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla, dengan ketaqwaan mereka.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla diantara kalian adalah orang-orang yang paling bertaqwa diantara kalian.”
(QS. Al Hujurat: 13)
Orang-orang yang shalih dan mereka bertingkat-tingkat ketaqwaannya. Kita diperintahkan untuk menghormati mereka.
إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَـٰٓؤُا۟
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)
Dan Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,
إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ
“Para ulama adalah pewaris para nabi.”
Mewarisi ilmu mereka, mengajak manusia untuk berpegang teguh dengan warisan para nabi, para ulama jelas memiliki keutamaan yang tinggi di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla.
Dan kita diperintahkan untuk mencintai, mengikuti, meneladani mereka di dalam keshalihan ini.
ا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَىِ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ
“Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan terhadap Isa ibnu Maryam.”
Larangan dari beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada kita semua meskipun kita mencintai beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين
َ
Dan tidak akan dinamakan seseorang beriman sampai mencintai beliau lebih dari anaknya, lebih dari orang tuanya, lebih dari semua manusia.
Akan tetapi beliau melarang kita berlebih-lebihan terhadap beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
إنما أنا عبد فقولوا عبدالله ورسوله
“Sesungguhnya aku adalah seorang hamba, bukan sesembahan, bukan seorang Tuhan, tapi aku adalah seorang hamba yang menyembah kepada Allah.
Maka katakanlah oleh kalian bahwasanya aku adalah seorang hamba Allah dan juga seorang Rasul.”
Maka di dalam syahadat
واشهد ان محمدا عبده ورسوله
dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan juga Rasul-Nya.
Pertama kita bersaksi bahwasanya beliau adalah seorang hamba, artinya tidak disembah.
Dan ke dua kita bersaksi bahwasanya beliau adalah seorang Rasul, artinya harus dibenarkan dan diikuti syar’iatnya.
Kalau kita dilarang untuk berlebih-lebihan kepada beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentunya kepada yang lain lebih dilarang.
Tidak ada yang lebih mulia kedudukannya di sisi Allah daripada beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Dan diantara bentuk ghuluw terhadap orang-orang yang shalih di zaman sekarang adalah diantaranya:
• Berdo’a kepada orang-orang yang shalih yang sudah meninggal atau dinamakan dengan tawasul.
• Demikian pula membangun kuburan mereka, menghias-hiasi kuburan mereka.
• Demikian pula ber’itikaf berdiam diri di kuburan mereka.
Ini semua adalah termasuk bentuk diantara ghuluw terhadap orang-orang shalih.
Berdo’a adalah termasuk ibadah yang tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.
Itu yang bisa kita sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar