Selasa, 25 Oktober 2022

Halaqah 09. Penjelasan Pokok Kedua Bagian 4



Halaqah yang ke sembilan dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.


Kemudian beliau mengatakan,


ثُمَّ صَارَ الْأَمْرُ إِلَى أَنَّ الافْتِرَاقَ فِي أُصُوْلِ الدِّيْنِ وَفُرُوْعِهِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْفِقْهُ فِي الدِّيْنِ


Kemudian setelah itu di zaman beliau di zaman sekarang jadilah bahwasanya berpecah belah di dalam agama, baik di dalam ushul agama (pokok-pokok) agama maupun di dalam cabang-cabangnya dinamakan dengan ilmu dan fiqih di dalam agama.

Di zaman sekarang kata beliau , Sebagian mengatakan bahwasanya berpecah belah di dalam agama adalah termasuk pemahaman (fiqih). Artinya orang yang mengatakan, “Boleh kita berpecah belah, kita memiliki kebebasan untuk berakidah, kebebasan untuk beribadah, kebebasan untuk menganut kepercayaannya masing-masing.” Dianggap ucapan ini sebagai bentuk pemahaman terhadap agama.

Orang yang paham terhadap agama, maka dia akan membebaskan manusia untuk berakidah, untuk memiliki kepercayaan masing-masing.


Kemudian beliau mengatakan,


وَصَارَ الْأَمْرُ بِالاجْتِمَاعِ فٍي دين لَا يَقُوْلُهُ إِلَّا زِنْدِيْقٌ أَوْ مَجْنُوْنٌ


Perintah untuk berkumpul dan bersatu di dalam agama, sebagian mengatakan bahwasanya ini adalah tidak diucapkan kecuali oleh seorang yang zindiq, seorang pendusta, atau orang yang gila.

Jadi dianggapnya, orang yang mengajak manusia untuk bersatu padu di dalam hak, di dalam kebenaran, dianggap orang yang zindiq atau orang yang gila.

Tidak mungkin kita semua bersatu, tidak boleh kita mengajak orang lain untuk mengikuti kebenaran.

Mereka berkata, “Biarkan masing-masing memiliki kepercayaan masing-masing, tidak boleh saling menganggu satu dengan yang lain.”

Apabila ada sebagian yang mengajak untuk bersatu di dalam kebenaran, meninggalkan akidah yang bathil, meninggalkan kepercayaan yang tidak benar, dianggapnya orang yang seperti ini adalah orang gila atau orang zindiq.

Dan ini yang terjadi di zaman beliau, demikian pula di zaman kita.


Orang yang ber-amar ma’ruf nahi munkar, mengajak orang lain untuk memiliki akidah yang benar, memiliki tauhid yang benar, melarang mereka untuk memiliki akidah yang salah, kepercayaan yang salah, dianggapnya ini adalah orang yang majnun (orang gila) atau orang yang zindiq.


Adapun orang yang membiarkan kepercayaan-kepercayaan tersebut, membiarkan akidah-aqidah tersebut tersebar diantara masyarakat, maka ini dianggap sebagai orang yang paham tentang agamanya.

Dan ini tentunya kebalikan dari apa yang sudah Allah jelaskan di dalam Al Qur’an dan telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam hadits-hadits yang shahih.


Ini adalah pokok yang ke dua yang ingin dijelaskan oleh pengarang di dalam kitab ini, yaitu kesimpulannya:


• Perintah dari Allah Subhānahu wa Ta’āla pada kita semua kaum muslimin untuk saling bersatu di dalam al haq (kebenaran)

• Larangan bagi kita untuk saling berpecah belah di dalam agama kita.


Dan apabila terjadi perselisihan diantara kita, diantara kaum muslimin baik dalam masalah akidah, baik dalam masalah ibadah, baik masalah halal dan juga haram, maka Allah dan Rasul-Nya telah memberikan jalan keluar.


Di dalam Al Qur’an, Allah Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ


“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian taat kepada Allah, dan hendaklah kalian taat kepada Rasul, dan juga pemerintah kalian (penguasa kalian). Maka apabila kalian saling berselisih di dalam satu perkara, baik dalam masalah akidah, masalah ibadah, masalah yang lain, maka hendaklah kalian kembalikan kepada Allah, dan juga kepada Rasul-Nya.”

(QS. An-Nisa: 59)


Dikembalikan kepada Allah, dikembalikan kepada Al Qur’an, dilihat apakah sesuai dengan Al Qur’an atau tidak pendapat kita.

Kembalikanlah kepada Rasul, kembalikan kepada hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, apakah pendapat kita sesuai dengan hadits Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam atau tidak.

Kalau sesuai, maka kita amalkan dan kalau tidak sesuai maka harus kita tinggalkan.


Dan ini kata Allah,

“Apabila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir hendaklah kalian mengembalikan perselisihan kita kepada Allah dan juga Rasul-Nya.”

Apabila diantara dua orang saling berselisih, satunya mengatakan sunnah, satunya mengatakan tidak disunnahkan, maka masing-masing harus mengembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kalau Allah dan Rasul-Nya mengatakan Sunnah, maka semuanya harus sami’na wa atha’na (mendengar dan taat) tidak boleh ada diantara kita yang memiliki pilihan yang lain di dalam perpecahan ini.

Apabila Allah mengatakan A, dan Rasul-Nya mengatakan A, maka semuanya harus mengatakan A tersebut.


Di dalam hadits Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan,


فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَ فًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ


“Sesungguhnya barangsiapa yang hidup diantara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. 

Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan Sunnah-ku dan Sunnah para khulafaur rasyidin.”

(Hadits riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi)


Ketika melihat perselisihan yang banyak, perpecahan yang banyak diantara umat, maka petunjuk Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam supaya kita kembali kepada sunnah beliau dan juga kepada sunnah para khulafaur rasyidin.

Ini adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya ketika terjadi perselisihan.


Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada pertemuan yang akan datang.




Halaqah 08. Penjelasan Pokok Kedua Bagian 3



Halaqah yang ke delapan dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.


Bersatu bukan berarti kita meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar.

Ber-amar ma’ruf nahi munkar adalah sifat orang yang beriman.


وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ


“Dan orang-orang yang beriman, yang laki-laki dan juga yang wanita, sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Mereka saling ber-amar ma’ruf nahi munkar.”

(QS. At Tawbah: 71)


Menunjukkan bahwasanya diantara sifat orang yang beriman adalah ber-amar ma’ruf nahi munkar.

Dan bahwasanya amar ma’ruf nahi munkar bukan berarti kita berpecah belah di dalam agama.


Tentunya yang dimaksud dengan amar ma’ruf nahi munkar di sini adalah amar ma’ruf nahi munkar yang mengikuti batasan-batasan syar’iat, adab-adab yang telah ditentukan oleh syar’iat.


Bukan hanya sekedar amar ma’ruf nahi munkar yang didasari oleh semangat, akan tetapi tidak beraturan.

Jadi amar ma’ruf nahi munkar adalah perintah Allah Subhānahu wa Ta’āla dan Rasul-Nya. 

Dan caranya, adab-adabnya, dan hukum-hukumnya telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya.


Diantaranya adalah tidak ada pengingkaran di dalam masalah ijtihadiyah (yaitu) masalah yang masih menerima ijtihad di dalamnya karena tidak ada naskh di dalam perkara tersebut.

Sebagian ulama (sebagian imam yang empat) mengatakan demikian, sebagian imam yang lain mengatakan demikian, maka di dalam perkara ini tidak ada pengingkaran.


Seperti misalnya, sebagian menganggap bahwasanya menyentuh lawan jenis adalah membatalkan wudhu, sebagian yang lain mengatakan tidak membatalkan wudhu.

Atau dalam masalah yang lain, makan daging unta membatalkan wudhu, sebagian yang lain mengatakan tidak membatalkan wudhu.

Maka ini adalah termasuk masalah-masalah ijtihadiyah yang menerima ijtihad di dalamnya, karena tidak ada naskh yang sharih.

Dalam masalah seperti ini tidak ada pengingkaran.


Namun di dalam perkara yang jelas di sana ada naskh yang sharih, dan perkara ini tidak ada diantara sahabat yang berselisih di dalamnya, maka tidak sepantasnya seorang muslim dan juga muslimah berselisih di dalam perkara tersebut.

Seperti misalnya, ada sebagian yang meyakini adanya nabi setelah nabi Muhammad. 

Dan ada sebagian yang mengatakan tidak ada nabi setelah nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Di dalam perkara seperti ini, tidak boleh diantara kita saling berselisih karena jelas di dalam Al Qur’an, Allah mengabarkan bahwasanya nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah penutup para nabi (خاتم النبين)

Demikian pula di dalam hadits,


وأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ ، لَا نَبِيَّ بَعْدِي


“Dan aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku.”


Dan tidak ada diantara sahabat Radhiyallahu ‘anhum, para tabi’in, para tabiut tabi’in yang mereka meyakini ada nabi setelah nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.


Bahkan setiap orang yang mengaku menjadi nabi setelah itu, maka dia adalah seorang pendusta yang harus diperangi. Tidak boleh ada diantara orang Islam yang meyakini bahwasanya ada nabi setelah nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Perkara yang seperti ini harus diingkari dan ini bukan termasuk perkara ijtihadiyah.


Demikian pula orang yang meyakini bahwasanya Al Qur’an ini telah ditambah atau telah dikurang, atau orang-orang yang mencela para sahabat Rasulullah Shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka ini adalah perpecahan yang tercela.

Tidak boleh seorang muslim mengatakan bahwasanya Al Qur’an telah dirubah, telah ditambah, telah dikurangi, dan tidak boleh mengatakan bahwasanya para sahabat, mereka adalah orang-orang yang tercela atau orang-orang yang murtad.

Karena Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwasanya Allah telah menjaga Al Qur’an.


إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُونَ


“Sesungguhnya kami telah menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya kami akan menjaganya.”

(QS. Al Hijr: 9)


Menjaga Al Qur’an baik dari lafadznya maupun dari maknanya.


لَّا يَأْتِيهِ ٱلْبَـٰطِلُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ


“Tidak akan datang ke dalam Al Qur’an sebuah kebathilan, baik dari depannya maupun dari belakangnya.”

(QS. Fussillat: 42)


Allah Subhānahu wa Ta’āla telah berjanji untuk menjaga Al Qur’an. Tidak boleh ada seorang yang mengaku dirinya muslim mengatakan bahwasanya Al Qur’an telah ditambah atau dikurangi.

Seandainya ada seseorang di atas gunung dan dia di dalam gua berusaha untuk menambah satu huruf pun di dalam Al Qur’an, niscaya Allah Subhānahu wa Ta’āla akan menampakkan itu di tengah-tengah manusia.


Tidak boleh ada seorang yang mengaku dirinya muslim mencela para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, mencela mereka, atau bahkan mengkafirkan mereka, karena di dalam Al Qur’an Allah Subhānahu wa Ta’āla jelas-jelas memuji para sahabat Radhiyallahu ‘anhum dalam ayat yang banyak.


مُّحَمَّدٌۭ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًۭا سُجَّدًۭا


“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya”

(QS. Al Fath: 29)


Di dalam ayat yang lain, Allah mengatakan,


وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ


“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.”

(QS. At Tawbah: 100)


Allah meridhai para sahabat Radhiyallahu ta’ala ‘anhu. 

Bagaimana seseorang mengatakan bahwasanya para sahabat kafir padahal Allah Subhānahu wa Ta’āla telah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Perbedaan pendapat seperti ini adalah perbedaan pendapat yang tercela, harus diingkari dan dijelaskan kepada umat.


Adapun perselisihan pendapat yang berdasarkan dalil, sebagian Imam mengatakan pendapat A dan Imam yang lain mengatakan pendapat B, dan masing-masing memiliki dalil dan berusaha untuk mengikuti Al Qur’an, berusaha untuk mengikuti sunnah, berusaha untuk mengikuti ijma’, akan tetapi akhirnya memiliki pendapat yang berbeda padahal sudah berusaha untuk mengikuti Al Qur’an dan Sunnah, maka perselisihan pendapat yang seperti ini diperbolehkan.


Dan sikap seorang muslim, masing-masing berusaha untuk mencari kebenaran dengan melihat dalil. Dan apabila dia sudah menguatkan sebuah pendapat maka hendaklah dia bertoleransi di dalam masalah ini dan tidak memaksakan kehendaknya kepada yang lain.


Dan ini yang dilakukan oleh para Imam yang empat (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal) mereka adalah imam-imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Saling berguru antara satu dengan yang lain.

• Imam Syafi’i adalah murid dari Imam Malik bin Anas

• Imam Ahmad bin Hambal adalah murid dari Imam Syafi’i rahimahullah

(atau dengan kata lain)

• Imam Ahmad berguru kepada Imam Syafi’i

• Imam Syafi’i berguru kepada Imam Malik bin Anas.


Akan tetapi tidak pernah terdengar bahwasanya mereka saling mencela satu dengan yang lain, bahkan sebagian berimam kepada imam yang lain, menjadi makmum kepada yang lain.

Karena mereka memiliki manhaj yang satu, jalan yang satu, yaitu berusaha di dalam ibadahnya sesuai dengan Al Qur’an, sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan pemahaman para sahabat Radhiyallahu ‘anhu.

Apabila setelah itu terjadi perselisihan, maka sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam,


إذا اجتهد الحاكم فأصاب فله أجران، وإذا اجتهد فاخطأ فله أجر واحد


“Apabila seorang hakim, seorang ulama, berijtihad kemudian dia benar maka dia mendapatkan dua pahala.”

Dua pahala, yaitu:


1. Pahala berijtihad, bersungguh-sungguh dengan melihat dalil.

2. Pahala ishabatul Haq, yaitu bisa mendapatkan kebenaran tersebut.


Akan tetapi apabila dia berijtihad kemudian dia salah di dalam ijtihadnya, maka dia mendapatkan satu pahala, yaitu pahala berijtihad, pahala bersungguh-sungguh di dalam mencari kebenaran. Ini di dalam masailu al ijtihadiyah.


Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada pertemuan yang akan datang.




 

Halaqah 07. Penjelasan Pokok Kedua Bagian 2



Halaqah yang ketujuh dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlul As-Sittah (6 Kaidah), sebuah kitāb yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Kemudian beliau (rahimahullāh) mengatakan:


وَذَكَرَ أَنَّهُ أَمَرَ الْمُسْلِمِيْنَ بِالاجْتِمَاعِ فِي الدِّيْنِ وَنَهَاهُمْ عَنِ التَّفَرُّقِ فِيْهِ


Dan Allāh menyebutkan bahwasanya Allāh memerintahkan orang-orang muslimin untuk bersatu didalam agama dan melarang mereka untuk berpecah belah didalamnya.


وَيَزِيْدُهُ وُضُوْحًا مَا وَرَدَتْ بِهِ السُّنَّةُ مِنَ الْعَجَبِ الْعُجَابِ فِي ذَلِكَ


Dan lebih jelasnya atau kejelasan ini menjadi lebih jelas dengan apa yang ada dan datang didalam sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang semakin menambah keheranan kita kepada orang-orang yang berpecah belah didalam agamanya.

Didalam As sunnah didalam hadīts-hadīts yang shahīh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menerangkan juga tentang perintah bersatu didalam agama dan larangan untuk berpecah belah didalam agama.

Sebagaimana sabda beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam:


إِنَّ الله يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَأَنْ تَنَاصَحُوا مَنْ وَلاَّهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ


“Sesungguhnya telah Allāh meridhāi untuk kalian tiga perkara, Allāh meridhāi untuk kalian agar kalian menyembah Allāh semata dan tidak menyekutukan Allāh dengan apapun.


وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا


“Berpegang teguh dengan tali Allāh dengan Al Qurān dan supaya kalian jangan berpecah belah”

Allāh Subhānahu wa Ta’āla ridhā apabila kita saling bersatu diatas hak (diatas Al Qur’ān).

Dan didalam hadīts yang lain didalam hadīts qudsi disebutkan bahwasanya Allāh mengatakan:


لاَ تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا


“Janganlah kalian saling berhasad, janganlah kalian saling memutus, janganlah kalian saling membelakangi dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allāh yang saling bersaudara.”

Jelas, dijelaskan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam perintah untuk menjadi hamba-hamba Allāh yang bersaudara tidak saling hasad tidak saling memutus.


Dan beliau mengatakan:

المُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِم: لا يَظلِمُه، وَلا يَحْقِرُهُ، وَلا يَخْذُلُهُ


“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak menzhāliminya, tidak menghinanya tidak meninggalkanya ketika dia butuh pertolongan.”

Ini adalah perintah-perintah dari nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam supaya kita saling bersatu dan tidak berpecah belah.

Oleh karena itu didalam Islām, Allāh Subhānahu wa Ta’āla melarang perkara-perkara yang kira-kira menjadikan permusuhan diantara kita.

Kita dilarang ghibah (membicarakan kejelekan orang) dilarang mengadu domba, bahkan dilarang minum minuman keras demikian pula perjudian, diantara hikmahnya adalah untuk ini.


Karena dua perkara ini menjadi wasīlah (perantara) bagi syaithān untuk memecah belah diantara kaum muslimin dengan sebab khamr dan perjudian.


Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَـٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ فِى ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ……


“Sesungguhnya syaithān bermaksud untuk menimbulkan permusuhan diantara kalian didalam al khamr (minuman keras) dan juga al maiysir (perjudian).”

(QS. Al Māidah: 91)


Ini adalah dalīl-dalīl dari As sunnah yang semakin memperjelas bagi kita tentang pentingnya bersatu didalam agama dan juga larangan didalam berpecah belah.

Yang dimaksud dengan bersatu disini adalah bersatu diatas hak (bersatu diatas kebenaran) dan larangan berpecah belah.

Yang dimaksud bersatu diatas kebenaran bukan berarti seseorang dilarang untuk beramar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan jelas yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran).


Bersatu bukan berarti kita tidak beramar ma’ruf nahi munkar, kita diperintahkan untuk bersatu, satu didalam ‘aqidah satu didalam ibadah, satu didalam bermuamalah dan dilarang kita saling berpecah belah akan tetapi kita juga diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk saling beramar ma’ruf nahi munkar.

Jadi bersatu bukan berarti tidak boleh saling menasehati antara satu dengan yang lain, bukan berarti tidak boleh kita saling beramar ma’ruf nahi munkar.

Bahkan persatuan umat Islām diantara wasīlahnya adalah dengan ber’amar ma’ruf nahi munkar.

Oleh karena itu ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam ayat tadi menyebutkan tentang perintah bersatu,


وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ


“Hendaklah kalian berpegang teguh dengan hablullāh (Al Qur’ān) dan jangan saling berpecah belah.”

(QS. Āli Imrān: 103)


Didalam ayat setelahnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kita untuk beramar ma’ruf nahi mungkar.

Kemudian pada ayat setelahnya Allāh mengatakan:


وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌۭ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ


“Dan hendaklah ada diantara kalian golongan yang dia mengajak kepada kebaikan dan beramar ma’ruf nahi munkar, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Āli Imrān: 104)


Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada pertemuan yang akan datang.




Halaqah 06. Penjelasan Pokok Kedua Bagian 1


 

Halaqah yang keenam dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlul As-Sittah (6 Kaidah), sebuah kitāb yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.

Kemudian beliau (rahimahullāh) mengatakan:

ألْأَصْلُ الثَّانِيْ :

أَمَرَ اللهُ بِالاجْتِمَاعِ فِي الدِّيْنِ وَنَهَى عَنِ التَّفَرُّقِ، فَبَيَّنَ اللهُ هَذَا بَيَانًا شَافِيًا تَفْهَمُهُ الْعَوَامُّ

• Pokok yang kedua:

Bahwasanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memerintahkan kita untuk bersatu berkumpul didalam agama dan melarang kita untuk saling berpecah belah.


Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menjelaskan perkara ini (yaitu) perintah untuk bersatu, berkumpul dan larangan berpecah belah didalam Al Qurān dengan penjelasan yang sangat jelas dipahami oleh orang awam sekalipun.

Artinya apa yang Allāh perintahkan tersebut bukanlah sesuatu yang sulit untuk dipahami.

Ayat-ayat yang menjelaskan perintah untuk bersatu adalah ayat-ayat yang jelas dipahami oleh orang yang awam maupun orang yang cerdas (semuanya bisa memahami tentang perintah Allāh Subhānahu wa Ta’āla ini).


Dalīl perintah Allāh didalam Al Qur’ān, diantaranya:


⑴ Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

(QS. Āli Imrān: 102)


⑵ Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ……


“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allāh, dan janganlah kamu bercerai berai.”

(QS. Āli Imrān: 103)


⇒ Hablullāh artinya dengan Al Qur’ān

Semuanya diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk berpegang teguh dengan Al Qur’ān dan janganlah kalian saling berpecah belah.

Jelas ayat ini menunjukkan kepada kita tentang perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla supaya kita bersatu, berpegang teguh dengan Al Qur’ān, As Sunnah dan dengan agama ini.

Dan jelas menunjukkan tentang larangan berpecah belah didalam agama karena Allāh berfirman,


وَلَا تَفَرَّقُوا۟

“Dan janganlah kalian saling berpecah belah.”

⇒ Orang awampun memahami tentang firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla ini.


⑶ Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُوا۟ وَٱخْتَلَفُوا۟ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَـٰتُ


وَأُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌۭ


“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang saling berpecah belah (bercerai berai) dan berselisih setelah datang kepada mereka al bayyinat (keterangan yang jelas, dalīl yang jelas). Dan merekalah orang-orang yang mendapat adzab yang pedih.

(QS. Āli Imrān: 105)


Allāh mengatakan, “Janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan berikhtilaf setelah datang kepadanya al bayyinat keterangan yang jelas (dalīl yang jelas).”

Dan orang yang berpecah belah dan berselisih, padahal sudah mengetahui dalīlnya maka ini mendapatkan ancaman adzab dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.


⑷ Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:


شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحٗا وَٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِۚ


“Allāh telah mensyari’atkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nūh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrāhīm, Mūsā dan Īsā yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.”

(QS. Asy Syūrā: 13)


Perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan ini (diwahyukan oleh Allāh) kepada Nūh, kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada Ibrāhīm, Mūsā dan Īsā supaya kita menjalankan agama ini dan supaya kita tidak saling berselisih dan berpecah belah diantara kita.



⑸ Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:


إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗا لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِي شَيۡءٍۚ إِنَّمَآ أَمۡرُهُمۡ إِلَى ٱللَّهِ


“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allāh.”

(QS. Al An’ām: 159)


Banyak ayat didalam Al Qur’ān yang menunjukkan tentang perintah Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada kita agar bersatu didalam agama Allāh, bersatu didalam hak, bersatu didalam berpegang teguh dengan Al Qur’ān dan Sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan larangan untuk berpecah belah didalam agama ini.


⇒ Orang yang awam sekalipun mereka memahami tentang perkara ini.

Oleh karena itu beliau (rahimahullāh) mengatakan:

“Ayat-ayat ini dipahami oleh orang-orang awam sekalipun apalagi oleh para ulamā dan para penuntut ilmu.”

Kemudian beliau (rahimahullāh) mengatakan:


وَنَهَانَا أَنْ نَكُوْنَ كَالذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا قَبْلَنَا فَهَلَكُوْا


Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah melarang kita, menjadi orang-orang yang berselisih (berpecah belah) seperti orang-orang sebelum kita.

Mereka (orang-orang Yahūdi dan Nashrāni) berselisih (berpecah belah) didalam agama mereka, sehingga akhirnya mereka hancur dan dihancurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla karena sebab perselisihan mereka.


Dan didalam hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menerangkan bahwasanya, “Orang-orang Yahūdi telah berselisih dan berpecah belah menjadi 71 golongan, orang-orang Nashrāni 72 golongan, dan umatku kata beliau akan berpecah belah menjadi 73 golongan.”


⇒ Dan kita dilarang untuk mengikuti jalan orang-orang Yahūdi dan Nashrāni.

Tidaklah beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menerangkan dan mengabarkan kepada kita tentang perpecahan orang-orang Yahūdi dan Nashrāni kecuali diantaranya adalah untuk mengingatkan kita, jangan sampai kita terpelosok didalam apa yang mereka sesat didalamnya.


Orang-orang Yahūdi dan Nashrāni berpecah belah didalam agamanya dan kita dilarang untuk mengikuti kesesatan mereka didalam berpecah belah ini.


Itulah yang bisa kita sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.





Halaqah 05. Penjelasan Pokok Pertama Bagian 3.

 


Halaqah yang ke lima dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.


Kemudian beliau mengatakan,

وَأَظْهَرَ لَهُمُ الشِّرْكَ بِاللهِ فِي صُوْرَةِ مَحَبَّةِ الصَّالِحِيْنَ وَاتِّبَاعِهِمْ

Dan mereka (syaithan) menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan kepada Allah.

Dengan dipoles seakan-akan itu adalah termasuk mencintai orang-orang yang shalih dan mengikuti mereka.

Dan ini adalah termasuk makar dan juga tipu daya syaithan.

Tidak langsung mengatakan asyrikbillah (hendaklah engkau menyekutukan Allah), tidak!

Tapi menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan dan dipoles dengan mengatakan, “Ini adalah termasuk mencintai orang yang shalih.”o


Semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla memudahkan kita memahami agama ini, dan menampakkan kebenaran itu kebenaran dan menampakkan bahwasanya yang bathil adalah sesuatu yang bathil.


Di dalam agama Islam tidak ada pertentangan antara tauhid dan mencintai orang-orang yang shalih, ikhlas kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla, yang sesuai amalannya dengan Al Qur’an dan juga hadits-hadits Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang shalih baik dhahirnya maupun bathinnya.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki kedudukan di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla, dengan ketaqwaan mereka.


إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ


“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla diantara kalian adalah orang-orang yang paling bertaqwa diantara kalian.”

(QS. Al Hujurat: 13)


Orang-orang yang shalih dan mereka bertingkat-tingkat ketaqwaannya. Kita diperintahkan untuk menghormati mereka.


إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَـٰٓؤُا۟


“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”

(QS. Fathir: 28)


Dan Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,


إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ


“Para ulama adalah pewaris para nabi.”

Mewarisi ilmu mereka, mengajak manusia untuk berpegang teguh dengan warisan para nabi, para ulama jelas memiliki keutamaan yang tinggi di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla.


Dan kita diperintahkan untuk mencintai, mengikuti, meneladani mereka di dalam keshalihan ini.


ا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَىِ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ


“Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan terhadap Isa ibnu Maryam.”

Larangan dari beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada kita semua meskipun kita mencintai beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.


لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين

َ

Dan tidak akan dinamakan seseorang beriman sampai mencintai beliau lebih dari anaknya, lebih dari orang tuanya, lebih dari semua manusia.


Akan tetapi beliau melarang kita berlebih-lebihan terhadap beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.


إنما أنا عبد فقولوا عبدالله ورسوله


“Sesungguhnya aku adalah seorang hamba, bukan sesembahan, bukan seorang Tuhan, tapi aku adalah seorang hamba yang menyembah kepada Allah.

Maka katakanlah oleh kalian bahwasanya aku adalah seorang hamba Allah dan juga seorang Rasul.”

Maka di dalam syahadat


 واشهد ان محمدا عبده ورسوله


 dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan juga Rasul-Nya.


Pertama kita bersaksi bahwasanya beliau adalah seorang hamba, artinya tidak disembah.

Dan ke dua kita bersaksi bahwasanya beliau adalah seorang Rasul, artinya harus dibenarkan dan diikuti syar’iatnya.

Kalau kita dilarang untuk berlebih-lebihan kepada beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentunya kepada yang lain lebih dilarang.

Tidak ada yang lebih mulia kedudukannya di sisi Allah daripada beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.


Dan diantara bentuk ghuluw terhadap orang-orang yang shalih di zaman sekarang adalah diantaranya:

• Berdo’a kepada orang-orang yang shalih yang sudah meninggal atau dinamakan dengan tawasul.

• Demikian pula membangun kuburan mereka, menghias-hiasi kuburan mereka.

• Demikian pula ber’itikaf berdiam diri di kuburan mereka.


Ini semua adalah termasuk bentuk diantara ghuluw terhadap orang-orang shalih.

Berdo’a adalah termasuk ibadah yang tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Itu yang bisa kita sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat.




Halaqah 04. Penjelasan Pokok Pertama Bagian 2.


 

Halaqah yang ke empat dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.


Kemudian beliau mengatakan,


ثمَّ لَـمَّا صارَ عَلى أَكْثَرِ الأُمَّةِ مَا صارَ؛ أَظْهَرَ لَـهُمُ الشَّيْطانُ الإخْلاصَ في صُورَةِ تَنَقُّصِ الصَّالِحينَ وَالتَّقْصيرِ في حُقوقِهِمْ، وَأَظْهَرَ لَهُمُ الشِّرْكَ بِاللهِ في صُورَةِ مَحبَّةِ الصَّالِحينَ وَاتِّباعِهِمْ


Kemudian ketika menimpa umat ini apa yang menimpanya berupa kejahilan dan lain-lain, maka syaithan menampakkan kepada mereka, bahwasanya keikhlasan dan tauhid ini adalah sebagai bentuk penghinaan dan peremehan terhadap orang-orang yang shalih.


Ketika menimpa umat ini kebodohan, dan mereka jauh dari ilmu agama, jauh dari bimbingan para ulama, jauh dari petunjuk Al Qur’an dan juga hadits, maka syaithan menampakkan kepada mereka, bahwasanya tauhid (meng-Esa-kan Allah Subhānahu wa Ta’āla) itu artinya adalah meremehkan orang-orang yang shalih dan meremehkan hak-hak meraka. Dan ini adalah salah satu bentuk talbis dari syaithan dalam usaha menyesatkan manusia.


Syaithan menampakkan di mata manusia bahwasanya orang yang bertauhid berarti dia adalah orang yang tidak menghormati orang yang shalih, tidak menghormati Nabi, tidak menghormati wali.

Dan untuk memperjelas perkara ini kita terangkan kembali bagaimana kisah nabi Nuh alayhissallam bersama kaumnya dan bagaimana awal terjadinya kesyirikan di permukaan bumi ini.


Di zaman nabi Nuh alayhissallam, ada lima orang yang shalih yang dikenal oleh kaumnya dengan ibadahnya, dengan amalannya, dengan keshalihannya.

Ketika mereka berlima ini meninggal dunia, datanglah syaithan dan mewahyukan kepada mereka (kaum nabi Nuh) supaya mereka membuat patung-patung, kemudian dinamakan dengan nama orang-orang yang shalih tersebut.


Tujuannya adalah supaya ketika mereka merasa malas di dalam beribadah, ketika mereka melihat orang-orang shalih tersebut berada di hadapan mereka di majelis mereka, meskipun sebagai patung, diharapkan mereka bisa bersemangat kembali, mengingat tentang keshalihan mereka dan semangat di dalam beribadah kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla


Ketika generasi ini meninggal dunia, datang kembali syaithan dan mengatakan kepada orang-orang tersebut, bahwasanya bapak-bapak kalian dahulu membuat patung-patung ini, tujuannya adalah untuk diibadahi, disembah.

Dan telah dilupakan ilmu, maka akhirnya mereka menyembah orang-orang shalih tersebut yang dibuat simbolnya berupa patung. Ini adalah awal terjadinya kesyirikan di permukaan bumi.


Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,


وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّۭا وَلَا سُوَاعًۭا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًۭا


Dan mereka berkata, “Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan janganlah kalian tinggalkan Waddan, Suwa’an, Yaghuts dan Ya’uq dan juga Nasr.”

(QS. Nuh: 23)


Mereka ini adalah lima nama orang yang shalih. Ini adalah nama orang-orang shalih yang meninggal yang kemudian disembah oleh kaumnya nabi Nuh alayhissallam.

Ketika terjadi kesyirikan pertama kali di permukaan bumi yang dilakukan oleh kaumnya nabi Nuh alayhissallam, akhirnya Allah Subhānahu wa Ta’āla mengutus nabi Nuh yang merupakan rasul yang pertama.

Allah mengutus nabi Nuh alayhissallam kepada mereka untuk mengajak mereka kembali kepada tauhid dan menjauhi kesyirikan ini.


Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,


وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُ


Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka beliau berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian selain Dia.”

(QS. Al Mu’minun: 23)


Beliau mengingatkan umatnya siang dan malam dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan selama 950 tahun, mengajak mereka untuk kembali kepada Allah. Mengingatkan mereka bahwasanya ini adalah termasuk perbuatan syirik yang tidak diridhai oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla. Meskipun yang disembah adalah orang-orang shalih. Mengajak mereka untuk bertauhid dan meng-Esa-kan ibadah ini hanya untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Namun ternyata yang mengikuti dakwah beliau dan ajakan beliau adalah orang yang sangat sedikit dan menganggap bahwasanya apabila kita hanya menyembah Allah Subhānahu wa Ta’āla, seakan-akan kita ini telah meremehkan orang-orang yang shalih. Ini adalah termasuk talbis dari iblis laknatullah).

Menganggap (menunjukkan) di mata manusia bahwasanya ikhlas kepada Allah berarti kita harus meremehkan dan merendahkan kedudukan orang-orang yang shalih.

Oleh karena itu banyak diantara mereka yang menolak dakwahnya nabi Nuh alayhissallam.


Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,

وَقَالُواْ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمۡ……..


(QS. Nuh: 23)


Mereka saling berwasiat diantara mereka, “Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian.”

√ Kita harus menghormati orang yang shalih

√ Kita harus menjunjung tinggi kedudukan mereka


Apabila diminta dan diseru hanya menyembah kepada Allah, hati mereka resah, hati mereka gelisah.


وَإِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُ ٱشۡمَأَزَّتۡ قُلُوبُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِۖ وَإِذَا ذُكِرَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ

(QS. Az-Zumar: 45)


Apabila hanya disebutkan Allah saja, ketika diminta hanya bertauhid kepada Allah, hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat menjadi resah, gelisah, tidak tenang hatinya ketika disebutkan hanya Allah Subhānahu wa Ta’āla saja.


Tapi ketika disebutkan bersama Allah yang lain, maka tiba-tiba hati mereka menjadi sangat gembira, bahagia.


Oleh karena itu di sini beliau mengatakan,

“Syaithan menampakkan kepada mereka, bahwasanya ikhlas dan tauhid berarti kita harus meremehkan orang-orang yang shalih.”

Dan ini sekali lagi adalah termasuk talbis syaithan yang sudah berjanji dari awal di hadapan Allah Subhānahu wa Ta’āla untuk menyesatkan manusia dan menghias-hiasi diantara mereka yang bathil menjadi benar, yang benar menjadi bathil dengan berbagai cara. 

Bagaimana supaya mereka menyimpang dari shirathal mustaqim, dari jalan yang lurus. Entah menyimpangnya ke kanan, atau ke kiri, atau ke atas, atau ke bawah, yang jelas mereka menyimpang dari jalan yang lurus. Dari mana bisa digoda, maka mereka akan menggodanya.


Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,


لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ۞

ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ۞

(QS. Al A’raf: 16-17)


(Iblis) berjanji untuk menyesatkan mereka dari shirathal mustaqim, dan akan didatangi baik dari kanannya, dari kirinya, dari atasnya, dari bawahnya, sehingga mereka menjadi orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Diantaranya adalah seperti yang disebutkan oleh Syaikh di sini, menghias-hiasi di mata manusia bahwasanya orang yang bertauhid berarti dia meremehkan orang-orang yang shalih.


Itu yang bisa kita sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat.



Halaqah 03. Penjelasan Pokok Pertama Bagian 1.


 

PENJELASAN POKOK PERTAMA

BAGIAN 1

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

 Halaqah yang ke-tiga dari Silsilah Ilmiyyah Penjelasan Kitab Ushulu AsSittah, sebuah kitāb yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh, adalah tentang Penjelasan Pokok Pertama Bagian 1.

Kemudian beliau rahimahullāh menyebutkan perkara yang pertama yang dipahami oleh orang-orang awam dikalangan kaum muslimin akan tetapi banyak orang-orang cerdas yang tidak memahami perkara ini.


Beliau mengatakan:

اَلْأَصْلُ الْأَوَّلُ : إِخْلَاصُ الدِّيْنِ لِلهِ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لهُ ، وَبَيَانُ ضِدِّهِ الذِيْ هُوَ الشِّرْكُ بِاللهِ

 Perkara yang pertama | Mengikhlāskan agama untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tidak ada sekutu baginya. Dan menjelaskan lawan dari keikhlāsan ini adalah syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Diantara perkara yang sudah Allāh jelaskan didalam Al Qurān dengan penjelasan yang gamblang (penjelasan sangat jelas) adalah,

إِخْلَاصُ الدِّيْنِ لِلهِ تَعَالَى


Mengikhlāskan agama ini hanya untuk Allāh (tidak ada sekutu bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla) juga menjelasan tentang bahaya syirik kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.


Ini semua Allāh sebutkan dengan jelas didalam Al Qurān.

وَكَوْنُ أَكْثَرِ الْقُرْآنِ فِي بَيَانِ هَذَا الْأَصْلِ مِنْ وُجُوْهٍ شَتَّى بِكَلَامٍ يَفْهَمُهُ أَبْلَدُ الْعَامَّةِ


Kata beliau:

Dan bahwasanya sebagian besar ayat-ayat Al Qurān adalah untuk menjelaskan perkara ini. Menjelaskan tentang;

 Ikhlās kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam ibadah.

 Menjelaskan tentang bahayanya kesyirikan di dalam beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.



مِنْ وُجُوْهٍ شَتَّى

“Dalam bentuk-bentuk yang sangat berbeda dan cara yang berbeda”

 Artinya Allāh Subhānahu wa Ta’āla didalam Al Qurān menjelaskan tentang perkara ini dalam berbagai cara dan berbagai penjelasan.


بِكَلَامٍ يَفْهَمُهُ أَبْلَدُ الْعَامَّةِ

“Dengan ucapan yang dipahami bahkan orang yang paling bodoh diantara orang-orang awam”

 Menunjukkan tentang bagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla (sangat) menjelaskan perkara ini didalam Al Qurān, sampai orang yang paling bodohpun kata beliau juga memahami ucapan ini.


Yaitu tentang masalah,

 Tauhīd

 Bahayanya kesyirikan

Sebagian ulamā mengatakan semua isi Al Qurān adalah tentang tauhīd (dari awal sampai akhir). Diantara buktinya adalah surat yang pertama (Al Fātihah) demikian pula surat yang terakhir (An Nās) isinya tentang masalah tauhīd.


Al Fātihah isinya penuh dengan makna tauhīd.

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ۞ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ ۞ مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ ۞ إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ

Didalamnya ada:

 Tauhīd Asmā’ wa Shifat

 Tauhīd rubūbiyah

 Tauhīd al ulūhiyyah.

إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ

“Hanya kepada Mu lah Yā Allāh, kami menyembah dan hanya kepada-Mulah (Yā Allāh) kami memohon pertolongan.”

Demikian pula surat yang terakhir An Nās,

قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ۞ مَلِكِ ٱلنَّاسِ

 Ini semua adalah tauhīd kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, meminta perlindungan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Raja manusia sesembahan manusia. 

Semua surat didalam Al Qurān isinya adalah tentang tauhīd.

 Penjelasan tentang bagaimana keutamaan tauhīd.

 Penjelasan bagaimana cara bertauhīd.

 Penjelasan tentang bahaya kesyirikan (apa bentuk kesyirikan).

 Penjelasan tentang akibat dan pahala bagi orang yang bertauhīd dan adzab bagi orang yang berbuat syirik.

 Bahkan kisah-kisah yang ada didalam Al Qurān banyak diantaranya yang berkaitan dengan masalah tauhīd.



Bagaimana kisah nabi Nūh alayhissallām? Kisahnya adalah bagaimana beliau berdakwah dan mendakwahi umatnya kepada tauhīd. Demikian pula kisah nabi Shālih, nabi Hūd, nabi Syuaib dan juga nabi-nabi yang lain.

Kalau kita tadabburi ternyata Al Qurān semua adalah masalah tauhīd, mengikhlāskan ibadah untuk Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan tentang bahaya kesyirikan. Namun ternyata banyak diantara manusia yang tidak memahami tentang perkara ini. Bahkan kata beliau disini, termasuk orang yang cerdas diantara mereka.

 Al ‘irab (seseorang berpaling dari agama Allāh Subhānahu wa Ta’āla).

Tidak mau mempelajari agama Allāh, sibuk dengan yang lain (sibuk dengan dunianya, sibuk dengan hobbynya). Dan dia berpaling tidak mau menekuni dan tidak mau mempelajari agama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

 Al Kibr (sombong).

Kenapa demikian? Diantara sebabnya adalah:

Dia mengetahui kebenaran akan tetapi dia tidak mau mengamalkan dan menerima kebenaran tersebut. Sebagaimana dilakukan oleh Iblīs ketika diperintahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk melakukan sujud penghormatan kepada nabi Ādam alayhissallām akan tetapi iblīs sombong, dan Iblīs termasuk orang-orang yang kāfir.

Diantara sebabnya adalah dua perkara ini,

1. Berpaling dari mempelajari agama Allāh

2. Al Kibr (sombong dan tidak mau mengamalkan kebenaran).


 Al Qurān diturunkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla tujuan utamanya adalah untuk di amalkan, ditadabburi, dipahami bukan sekedar dibaca atau diperbaiki tajwidnya atau diambil berkahnya ketika membacanya. Semua itu adalah termasuk kebaikan akan tetapi bukan tujuan utama diturunkannya Al Qurān.


 Tujuan utama diturunkannya Al Qurān adalah untuk ditadabburi kemudian diamalkan didalam kehidupan kita sehari-hari.


Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌۭ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ

“Kitāb Al Qur’ān yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Sad: 29)

Demikianlah Al Qurān diturunkan bukan sekedar dibaca dengan tajwid dengan tartil akan tetapi seseorang yang membacanya jauh dari mengamalkan Al Qurān tersebut.

Itulah yang bisa kita sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya




Halaqah 02. Muqqadimah Al Ushulus Sittah Bag 2


 

Halaqah yang ke dua dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.


Kemudian beliau mengatakan,


مِنْ أَعْجَبِ الْعُجَابِ ، وَأَكْبَرِ الآيَاتِ الدَّالَةِ عَلَى قُدْرَةِ الْمَلِكِ الْغَلَّابِ سِتَّةُ أُصُوْلٍ بَيَّنَهَا اللهُ تَعَالَى بَيَانًا وَاضِحًا لِلْعَوَّام فَوْقَ مَا يظُنُّهُ الظَّانُّوْنَ


“Termasuk sesuatu yang paling mengherankan, yang paling menakjubkan, dan termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang paling besar yang menunjukkan tentang kekuasaan Allah, Dzat yang Maha Menguasai. 


Perkara-perkara atau pokok-pokok yang dijelaskan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan penjelasan yang sangat jelas bahkan dipahami oleh orang-orang awam, orang-orang yang biasa di dalam kecerdasannya di atas dari apa yang disangka oleh orang-orang yang menyangka.”


ثمَّ بَعدَ هَذا غَلِطَ فيها كَثيرٌ مِن أَذكِياءِ الْعَالَـم


“Kemudian setelah itu salahlah kebanyakan dari orang-orang yang cerdas diantara manusia ini.”


وَعُقَلَاءُ ابنِ آدَمَ


“Dan orang-orang yang berakal dari anak-anak Adam.”


إِلَّا أَقَلَّ الْقَلِيْلِ


“Kecuali sedikit saja diantara mereka.”


Maksud dari ucapan beliau rahimahullah di dalam muqaddimah kitab beliau ini,

“Bahwasanya di sana ada perkara-perkara (yang maksudnya adalah enam perkara yang selalu akan beliau sebutkan) yang telah Allah jelaskan di dalam Al Quranul Karim dengan penjelasan yang sangat jelas.


Sampai saking jelasnya, perkara-perkara ini dipahami oleh orang-orang yang awam sekalipun atau kasarannya orang yang bodoh, orang yang jahil. Akan tetapi ternyata banyak diantara orang-orang yang cerdas salah di dalam memahami perkara ini.”


Dipahami oleh sebagian orang, bahkan orang yang awam, akan tetapi di sana ada orang yang cerdas atau bahkan dianggap pintar dan ulama oleh sebagian manusia, akan tetapi ternyata dia salah di dalam memahami enam perkara ini.

Ini adalah maksud dari ucapan beliau rahimahullah di dalam muqaddimah kitab ini.


Sebelum beliau menyebutkan enam perkara ini, beliau ingin menyampaikan kepada kita, mengingatkan kepada kita, bahwasanya perkara-perkara yang akan beliau sebutkan, dipahami oleh orang awam akan tetapi banyak orang yang cerdas dan mengaku dia adalah mengemban ilmu agama ternyata dia salah di dalam memahami perkara tersebut


Dan ini menunjukkan kepada kita bahwasanya hidayah dan taufiq adalah di tangan Allah Subhānahu wa Ta’āla, tidak berkaitan dengan kecerdasan seseorang.


Terkadang Allah Subhānahu wa Ta’āla menunjukkan Al Haq (kebenaran) kepada seorang yang mungkin diantara manusia dianggap sebagai orang yang awam. Namun Allah mengharamkan kebenaran ini dari sebagian orang yang dianggap sebagai orang yang cerdas.


Dan ini menunjukkan bahwasanya hidayah dan taufiq (petunjuk) adalah di tangan Allah Subhānahu wa Ta’āla.


يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآء


“Allah Subhānahu wa Ta’āla menyesatkan siapa yang dikehendaki, dan memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki.”

(QS. An Nahl: 93/QS. Fathir: 8)


Meskipun dia adalah orang yang awam, dianggap terbelakang oleh sebagian orang, tetapi kalau Allah Subhānahu wa Ta’āla berkehendak memberikan hidayah kepadanya niscaya dia termasuk orang yang mendapatkan petunjuk.


Dan ini menjadikan kita untuk senantiasa merendahkan diri kita di hadapan Allah Subhānahu wa Ta’āla, meminta hidayah kepada-Nya.


Dan kita jangan bertawakal dengan ilmu yang kita miliki, kecerdasan yang kita miliki, meminta kepada Allah Subhānahu wa Ta’ala petunjuk supaya Allah menunjukkan kepada kita kebenaran dan menjauhkan kita dari syubhat dan juga kebathilan.

Itu yang bisa kita sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat.




Halaqah 01. Muqqadimah Al Ushulus Sittah Bag 1


 

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi Rahimahullah.


Kita akan bersama-sama mempelajari tentang sebuah kitab yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi Rahimahullah yaitu 

kitab yang berjudul Al-Ushulu As-Sittah yang artinya enam kaidah.


Dan ini adalah termasuk karangan beliau yang sangat bermanfaat. Dan dia meskipun ringkas akan tetapi mengandung banyak faedah. Yang hendaknya seorang muslim mengetahui faedah-faedah ini.


Beliau menyebutkan di dalam kitab ini, enam perkara yang sangat penting.


Beliau adalah seorang ulama yang bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi.

Beliau lahir pada tahun 1115 Hijriyyah dan menimba ilmu agama ini semenjak kecil. 

Dan diantara gurunya adalah bapak beliau sendiri, demikian pula ulama-ulama besar yang lain di zaman beliau, seperti Asy Syaikh Muhammad Al Hayah As Sindi, dan juga yang lain.


Dan di dalam mencari ilmu, beliau telah pergi ke beberapa daerah, diantaranya adalah ke Basrah, demikian pula ke daerah-daerah di Hijaz seperti Mekkah dan juga Madinah dan menimba ilmu dari para ulama yang tinggal di sana.


Dan hampir-hampir beliau menuju ke kota Syam (daerah Syam) untuk menimba ilmu di sana, hanya karena ada rintangan dan halangan tertentu akhirnya beliau mengurungkan niatnya.

Dan beliau termasuk ulama yang gigih di dalam menghidupkan Al Qur’an, menghidupkan As Sunnah, mengajak manusia kembali kepada Allah, bertauhid kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.


Dan beliau meninggal pada tahun 1206 Hijriyyah. 

Dan telah meninggalkan karangan yang sangat banyak, yang sangat bermanfaat.

Diantaranya adalah:

– Al Ushul Ats-Tsalatsah

– Al Qawa’idul Arba’

– Ushulul Iman

– Kasyfusy Syubuhat

– Kitabut Tauhid


Dan diantaranya adalah kitab yang Insya Allah akan kita pelajari yaitu Al-Ushulu As-Sittah.

Beliau berkata,

بسم الله الرحمن الرحيم

Memulai kitabnya dengan basmalah.

Meniru dan mengikuti apa yang Allah lakukan di dalam Al Qur’anul Karim, karena Allah Subhānahu wa Ta’āla memulai kitabnya dengan basmalah.

Demikian pula mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ ketika Beliau menulis surat yang isinya adalah dakwah kepada raja-raja yang ada di zaman Beliau ﷺ. Beliau memulai kitabnya dengan basmalah.

Oleh karena itu di sini pengarang memulai kitabnya dengan basmalah



Dan ب di sini adalah ب al-isti’anah yaitu ب yang fungsinya untuk memohon pertolongan.

Orang yang mengatakan بسم الله pada hakikatnya dia telah memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ismillah dengan nama Allah.


Kalimat yang mufrad, yang tunggal, yaitu ism dan dia disandarkan kepada kalimat lafdzul jalalah dan ini maknanya adalah mencakup seluruh nama Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Orang yang mengatakan بسم الله berarti dia telah beristi’anah (memohon) pertolongan dengan seluruh nama Allah Subhānahu wa Ta’āla.


Allah (lafdzul jalalah) adalah nama Allah yang paling a’dham (paling besar) yang disandarkan kepadanya nama-nama Allah yang lain.


Oleh karena itu setelahnya disebutkan Ar-Rahman Ar-Rahim. Dan Ar-Rahman Ar-Rahim adalah nama diantara nama-nama Allah.

Diambil dari Ar-Rahmah yang artinya kasih sayang.

Dan perbedaan antara Ar-Rahman dengan Ar-Rahim disebutkan oleh para ulama diantaranya adalah:


Ar-Rahman adalah kasih sayang Allah yang lebih umum mencakup orang yang beriman dan mencakup orang yang kafir kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Orang kafir juga mendapatkan bagian dari kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Allah memberikan rezeki kepada mereka, memberikan makan kepada mereka, memberikan minum kepada mereka, memberikan kesehatan kepada mereka, memberikan anak, memberikan istri, memberikan harta, dan ini semua adalah termasuk kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla.


Adapun Ar-Rahim, maka mengandung rahmat, mengandung kasih sayang yang lebih khusus yaitu kasih sayang yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman.

Berupa hidayah kepada jalan yang lurus, berupa keimanan, berupa rasa tenang ketika dzikrullah.

Ini semua adalah termasuk kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla akan tetapi dikhususkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla kepada orang-orang yang beriman dengan Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Itu yang bisa kita sampaikan, semoga yang sedikit ini bermanfaat.




Halaqah 25. Buah Beriman Dengan Takdir Allah Bagian yang Ketiga



Halaqah yang Ke-25 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir dengan Allah adalah tentang Buah Beriman Dengan Takdir Allāh Bagian yang Ketiga


16. Berbaik sangka kepada Allāh ketika melihat dirinya diberi hidayah kepada tauhid, Sunnah dan ketaatan maka dia berbaik sangka kepada Allah, bahwa Allah menghendaki pada dirinya kebaikan dan ingin memudahkan dia masuk kedalam SurgaNya


17. Menimbulkan rasa takut didalam diri seorang hamba dari suul Khatimah, sehingga dia tidak tertipu dengan amal sholeh nya karena dia tidak tau dengan apa Allah akan menakdirkan akhir amalannya


18. Menimbulkan sifat tidak suka merendahkan orang lain dan menghinakan orang lain yang terjerumus kedalam kemaksiatan karena dia tidak tau dengan apa Allah akan menakdirkan akhir dari amalan orang tersebut


19. Memerdekakan akal dan diri dari khurafat dan tathayyur dan dia meyakini bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari takdir Allah. Tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah dan tidak ada yg menolak kejelekan kecuali Allah


20. Menjadikan seseorang rendah hati dan tidak sombong ketika diberikan rezeki oleh Allah baik berupa harta, kedudukan maupun ilmu dan lain-lain, karena ini semua datang dari Allah dan dengan takdir Allah dan kalau Allah menghendaki Allah akan mengambilnya dari kita sewaktu-waktu


21. Membawa ketenangan didalam hati dan ketentraman jiwa karena ketika musibah dia merasa itu yg terbaik dan pasti ada hikmahnya dan dia mengetahui bahwa orang yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya sehingga dia tidak cemas dan gelisah dan tidak berangan-angan dan berandai-andai 


Akhirnya semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menjadikan kita termasuk orang yang beriman dengan takdir Allah yang baik maupun yang buruk dan semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan karunia kepada kita semua sehingga kita bisa merasakan buah buah yang baik dari beriman dengan takdir dan sesungguhnya Allāh mengabulkan doa. 


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ


Demikianlah yang bisa saya sampaikan didalam Silsilah Beriman Dengan Takdir Allah dansampai bertemu kembali pada Silsilah Ilmiah selanjutnya yaitu "Silsilah Sirah Nabawiyyah"



Halaqah 24. Buah Beriman Dengan Takdir Allah Bagian yang Kedua



Halaqah yang Ke-24 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Takdir Allah adalah tentang Buah Beriman Dengan Takdir Allah Bagian yang Kedua


9. Membuahkan semangat yang tinggi didalam melakukan kebaikan yang berkaitan dengan agama


seperti ibadah, menuntut ilmu, berdakwah dan lain-lain, orang yang beriman dengan takdir Allah tidak takut celaan orang yang mencela ketika berdakwah, tidak terlalu hancur hatinya ketika melihat orang yang tidak menerima dakwahnya dan dia tidak pamer atau bangga diri ketika mendapatkan orang yang mendapatkan hidayah dengan sebab dirinya karena semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah عَزَّ وَ جَلَّى


10. Membuahkan semangat yang tinggi didalam berbuat kebaikan yang berkaitan dengan dunia


seperti bekerja yang halal, melakukan aktivitas yang diperbolehkan dan bermanfaat dan lain-lain dia tidak mudah menyesal dan berputus asa ketika menghadapi musibah yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut


11. Membuahkan ridha terhadap hukum-hukum Allah baik yang berupa hukum-hukum syariat, maupun hukum-hukum Kauniyyah


12. Membuahkan kebahagiaan dan menghilangkan kesedihan karena dia mengetahui dan yakin bahwa Allah memilih yang terbaik baginya didalam urusan dunia, agama dan akhir dari perkaranya.


Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman


… ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ


“Dan mungkin saja kalian membenci sesuatu dan dia adalah baik bagi kalian dan mungkin saja kalian mencintai sesuatu dan dia adalah jelek bagi kalian dan Allah Dia-lah yang mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui” (Surat Al-Baqarah : 216)


13. Membuahkan keistiqamahan di atas jalan yang lurus baik dalam keadaan mendapatkan nikmat atau tertimpa musibah, karena dia akan bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan akan bersabar ketika dia terkena musibah


14. Tidak putus asa dari pertolongan Allah bagaimana pun besarnya fitnah dan banyaknya ujian, karena dia yakin bahwa akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa dan ini adalah ketentuan Allah yang sudah Allah tentukan


Allah berfirman


هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا


“Dia-lah yang telah mengutus Rasul Nya dengan petunjuk agama yang benar untuk menampakkan agama tersebut diatas seluruh agama dan cukuplah Allah sebagai saksi” (Surat Al-Fath : 28)


Dan Allah mengatakan


إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ


“Sesungguhnya Kami akan menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan ketika bangkit para saksi” (Surat Ghafir : 51)


15.  Menjadikan didalam diri seorang hamba Qana'ah (merasa cukup) dengan pemberian Allah عَزَّ وَ جَلَّى tidak rakus terhadap dunia dan tidak meminta minta kepada orang lain, karena dia meyakini bahwa rezeki sudah tertulis dan tidak mungkin orang lain bisa menyampaikan kepadanya sebuah rezeki kecuali apa yang sudah Allah tulis sebelumnya. 


Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya. 



Halaqah 20. Penjelasan Pokok Kelima Bagian 3

Halaqah yang ke-20 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlul As-Sittah (6 Kaidah), sebuah kitāb yang dikarang oleh Syaikh Muhammad...